Perempuan Setengah Cadar

image

Trenyuh itu.. ketemu dan ngobrol sama akhwat bercadar, yang kadang bercadar, kadang enggak.

“Kenapa dek kok kadang pake, kadang enggak?”

“Soalnya orangtua melarang, mbak. Daripada timbul fitnah, malah saya dilarang ngaji, saya mending manut aja. Tapi hati ini masih berkeinginan kuat untuk bercadar. Rasanya malu dan risih kalo ada lelaki yang memandang wajah saya. Apalagi dari jarak dekat. Maluuu sekali mbak. Kadang saya tutupi sekenanya pakai jilbab.

Makanya saya pakai ini (cadar) semampu saya aja. Kalo keluar rumah, saya pakai masker. Naik angkot saya pakai cadar. Turun angkot, saya lepas cadar dan pakai masker lagi.

Saya tahu Allah tidak membebani hambaNya di luar kesanggupannya. Dan kemampuan saya ya baru bisa lepas-pakai seperti ini.

Biarlah orang menilai saya mempermainkan syari’at cadar, tapi Allah Maha Tahu mengapa saya melakukan ini. Mudah-mudahan suatu saat nanti saya bisa full bercadar tanpa ngumpet-ngumpet lagi kayak sekarang.

Do’akan saya ya mbak..”

The lesson: We never know what really happens behind the curtain, so don’t judge too quickly. Berilah udzur kepada saudaramu, mungkin ia memiliki satu alasan yang tidak kita ketahui.

Salut dengan tekadnya, yang terus berusaha menyempurnakan hijabnya di tengah segala keterbatasan. Barakallaahu fiiha ❤

~ Jakarta, November 2014.. one quiet afternoon while the kids were sleeping. A note to myself, actually..

[ image source: Pinterest ]

23 thoughts on “Perempuan Setengah Cadar

  1. Gimana kalo sy rubah dikit : “…Rasanya malu dan risih kalo Allah yang memandang saya. Apalagi dari jarak dekat. Maluuu sekali mbak…”

      • Kadang kita lupa & menjadi lumrah rasa malu terhadap mahluk jauh lebih besar ketimbang rasa malu kpd Allah.. Coba kita rubah polanya sedikit, inyaAllah siapapun yg anda ceritakan, bisa sedikit demi sedikit meningkat ke-tauhid-annya… begitu kira2 jika diterjemahkan.

        • Saya rasa, rasa malu yg dimaksud di sini berbeda dg yg Anda maksud. Malu di sini adalah fitrah dan perhiasan setiap wanita, yaitu rasa malu ketika dipandang lekat oleh lawan jenisnya. Dan tidak ada yang salah dengan itu. Justru ketika seorang wanita kehilangan rasa malunya, hal itu adalah sebuah musibah.

          Sedangkan rasa malu yg saya tangkap dari kalimat Anda adalah rasa malu yang harusnya dimiliki ketika seseorang berbuat sesuatu yg melanggar syari’at atau bermaksiat. Yang tentu, setiap hamba harus lebih merasa malu kepada Allah ketika ia bermaksiat ketimbang terhadap sesama makhluk.

          Allaahu a’lam.

        • Betul. Rasa malu ketika dipandang lelaki yg bukan mahromnya memang bukan hal yg salah. Awalnya yg sy tangkap disini adalah dia merasa malu dengan cadarnya. Setelah anda jelaskan, lalu sy baca lg, ternyata yg dimaksud adalah dia malu saat dia tidak bercadar. Begitu bukan… Subhanallah, sudah sangat jarang wanita seperti itu dijaman sekarang. Apalagi dilingkungan sy, malah banyak yg pake celana lebih pendek drpada celana anak SD.

  2. Lagi lagi ingin nangis, cerita ini sangat sama denganku. Sy bahkan hrus melepasny ketika balik ke kota tmpat tinggal org tua. Berat rasanya, belum lgi gunjingan dri sesama akhwat yg sdh ngaji… “menghina cadar” kata mreka “lebih baik tak ush pakai” lalu sya hnya diam…. lalu gunjingan dri keluarga… semuanya hrus kami hadapi. Harus selalu bersembunyi, Allah tdk akan berlama lama melihat hambaNya sperti ini, wallahu a’lam. Doakan kami, agar org tua kami mampu mengenal dn melihat kebenaran….

    • Sudah hampir 3th lebih sampe saat ini istri sy masih terima gunjingan & hinaan spt itu. Bahkan di lingkungan tetangga sekitar rumah sy juga begitu. Mau di pasar sampe di posyandu, sama aja. Ada aja yg celetusan. Apalagi dari anak-anak kecil.. Kasian juga sih, tapi sy bangga sm kesabarannya. Nikmat sy melihat keteguhan hatinya.

      InsyaAllah, anda diberikan Allah kesabaran, keteguhan hati & nikmat yg jauh lebih baik…

  3. Iya ya, kadang gampang banget jadi judge untuk orang lain. Padahal ada banyak hal yang kita ga tau jalan cerita dan alasannya😦
    Lesson learned once again

  4. Saya malah diamuk suami karena ketauan bercadar… saya langsung dihakimi macam-macam, katanya ibadah belum benar sudah pakai cadar, mualaf aja sok-sok’an pakai cadar, di keluarga tidak ada sejarahnya pakai-pakai cadar, kalau ngaji cari yang benar.. Sebenarnya hati sakit mendengarnya, doakan semoga suami dibukakan hatinya untuk menerima kebenaran…

  5. Bener banget. Do not judge too quickly! Banyak akhawat yang udah ngaji malah terlalu cepat mengambil kesimpulan. Sangat disayangkan. Kudu nyari 1000 alesan kalau mau su’udzon. Semoga Allaah memberi keistiqomahan buat mba itu dan buat kita semua. Aamiin

  6. Pingback: Perempuan (Setengah) Bercadar | ancora imparo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s