SuperMom

heart of a mother

“Once a woman becomes a mother, her superpowers are unleashes. Supersonic ears to her childrens’ cries, peak functioning without sleep, unmatched multitasking powers, a heart of gold and arms of steel. She transfroms from a normal person into a… SUPER MOM”. ~Funny Mother Quotes

Ketika membuka notifikasi Path kemarin siang, saya dibuat terharu oleh postingan seorang teman, sebuah postingan yang saya sengaja ditandai olehnya. Inti dari postingan itu adalah, beliau merasa perlu banyak belajar dari diri saya, yang berdasarkan penuturannya; seorang ibu dengan manajemen waktu yang baik.

Mampu mengurus anak-anak yang masih kecil, dengan seabrek kegiatan (jualan online, menjahit, blogging, menghandle urusan rumah dan anak-anak). Dan menjalani semua itu tanpa bantuan asisten rumah tangga.

Masya Allah, walhamdulilah. Semoga saya lebih baik dari apa ia sangka, dan bukan sebaliknya. Setelah membacanya, saya jadi merasa perlu bertanya (dan berkaca) pada diri sendiri: am I that good? Am I deserve it all?

Tahun ini tepat menginjak tahun ketujuh saya menyandang predikat sebagai seorang Ibu. Subhanallah.. Bener-bener sesuatu banget ya jadi Ibu itu. Kelihatannya mudah, tapi begitu dijalani.. Towewewew.. Surprisingly amazing😀

Being a mother is a blessing and a challenge at the same time. So many chores, so many things to be done, yet so little time. Rasanya 24 jam sehari tidaklah cukup. Ingin ini ingin itu banyak.. sekali.

Menjadi seorang ibu artinya dituntut untuk mampu menjadi sosok yang patut digugu dan ditiru. Dituntut untuk berhati-hati dalam berperilaku, berkata dan meluapkan emosi. Karena mata-mata kecil itu lebih awas dan peka terhadap apa yang kita lakukan daripada apa yang kita katakan.

Menjadi seorang Ibu tidaklah mudah. Setidaknya bagi seorang yang jauh dari sempurna seperti saya. It takes time to realize that now I’m a mother, with each and every responsibility on my shoulder. I am a mother and no matter what, I may never give up.

Saat-saat pertama menjadi Ibu, saya sadar, saya belum siap benar dengan segala perubahan yang terjadi. When you become a mother, your whole life was changed. Harus begini dan begitu. Dituntut seperti ini dan seperti itu. Oleh siapa? Oleh suami? Anak-anak? Bukan, oleh saya sendiri.

I used to be a perfectionist when I was single, until my first child was born. It would be harder for perfectionists to be a mother, and a wife with all the neverending household chores. Crying babies, losing sleep, messy home, messy me. It was very difficult and frustrating at the first.

Ketika rumah masih berantakan, mainan si kecil berserakan, cucian piring numpuk di belakang, mau masak nggak sempat-sempat karena anak belum tidur juga. Padahal biasanya jam segitu rumah sudah rapi jali, makanan siap tersaji, dapur sudah bersih dari cucian piring kotor.

Bagi saya yang suka dengan keteraturan waktu dan kegiatan yang serba terjadwal, hal itu adalah sebuah kejutan yang tidak disangka-sangka. Belum lagi kalau anak sedang rewel atau sakit. Seharian bisa nggak melakukan apa-apa karena si kecil tidak mau turun dari gendongan. Atau saat saya dan si kecil sakit berbarengan dan harus terbaring lemah di tempat tidur.

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal. Qaddarallaah wa maasya’a fa’al..

For the first time, I got shocked. Stress. Sempet uring-uringan juga. Karena terbiasa dengan keadaan rumah yang (lumayan) rapi, melihat rumah berantakan adalah sebuah siksaan bagi saya. Mau ngapa-ngapain bawaannya males aja. Ditambah ketika anak rewel atau sedang sakit, makan dan mandi aja nggak sempat. Boro-boro luluran dan merawat diri, bisa sisiran aja udah syukur banget.

Alhamdulillah, suami sangat berperan untuk menjaga agar saya tetap ‘waras’. Beliau banyak sekali membantu. Sebelum berangkat kerja dan sepulang kerja, beliau selalu menyempatkan diri untuk meringankan tugas-tugas rumah tangga. Mencuci piring, membereskan rumah, mengepel sampai menyuapi anak-anak dan mengajari mereka belajar.

Masya Allah, barakallaahu fiyk. Semoga anak laki-laki saya nanti mencontoh apa yang dilakukan ayahnya. Aamiin.

But there was times when I felt brokedown. A lot of times. There were tears, uneasy, guilty and useless feeling. Feelings I’ve never imagine before. So complicated. Those moments when I keep saying to myself, “I know I’m not good enough”.

All those difficult times at the early years..

Saat-saat penuh ketidakberdayaan di tengah keterbatasan, merasa lelah selelah-lelahnya, merasa sangat butuh tambahan potion energi seperti si imut Pou  ketika malam tiba untuk menyelesaikan tugas-tugas yang harus segera digegas. Saat-saat nangis sendirian di pojokan, sampai saat dimana saya merebahkan diri di bahu suami. No words spoken.

“Sometimes, after a long and exhausting day, all you need is a warm hug from the ones you love, to comfort and soothe you. And nothing else needed.”

Mothers are humans. They have feelings and emotions. They are not robots. They do cry sometimes. They can feel tired and bored. They make mistakes. They may overreact. They are not flawless. They are only humans, after all.

Tahun pertama.. tahun kedua.. tahun ketiga.. tahun kedelapan. Sejak kelahiran anak ketiga, saya semakin menyadari.. Semua tidak bisa selalu seperti apa yang saya inginkan. Menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak bisa saya ubah meringankan sedikit beban yang mengganjal selama ini. Mencari jalan tengah antara idealisme dengan realita yang ada.

So I choose to lower my standards in order to be happy. I choose to let go of the things I cannot handle, so I can set myself free..

And it works, alhamdulillah. Ya, saya akhirnya sadar.. Semua ini nggak bisa saya handle sekaligus, sendirian. I only have two hands, and one brain. Alhamdulillaah.. Thank Allah for giving women like us this multitasking skill. Coba kalo harus ngerjain semuanya satu-satu, tanpa disambi. Bisa-bisa besok baru kelar. Tanpa sempat istirahat dan memejamkan mata.

Yang biasanya jam segini cucian piring udah kelar, karena sibuk ngurus anak atau mendadak ada tamu, yasudlah.. Bisa nanti aja dikerjain. Kalo mood udah oke dan udah sempat, baru dikerjain. Nggak perlu nge-push diri untuk harus selesai sesuai jadwal. Yang penting semua selesai hari itu. Fleksibel menetapkan waktu dan jadwal.

Berusaha membagi waktu seefektif dan seefisien mungkin. Pas anak-anak tidur atau asyik main di teras, langsung cepet-cepet ngerjain kerjaan yang nggak bisa dilakukan waktu mereka eksis, heheheu.

Sebelum tidur malam hari, beberapa tugas sudah dicicil agar besok pagi lebih ringan. Cucian udah dikucek tinggal bilas, masakan udah siap olah, rumah sudah dirapikan sebelum tidur. In case misalnya bangun kesiangan (which is a nightmare for a mom like me!), jadi nggak akan terlalu panik.

Jadi inget kata-kata temen saya dulu, waktu kami ngobrolin tentang riweuhnya jadi ibu rumah tangga.

“First thing first. Duluin yang paling penting, sesuai prioritas. Cucian piring, lantai yang kotor dan tumpukan baju bisa nunggu. Mereka nggak bakalan nangis kok. Tapi kalo kita lebih mentingin kerjaan rumah dibanding ngurus anak, ada jiwa-jiwa yang bakal nangis meski dalam hati.”

Deg. Truth.

And after the years roll, I finally found that it’s all about me. I burden myself too much. I put this expectation too high, beyond my reach. I demand myself to be somewhat one hundred percent perfect and flawless mother. But soon then, I realize, a perfect mother doesn’t exist. Never.

Make it simple

Ada sebuah nasehat dari satu sosok ibu inspiratif di follow list Facebook saya. Nasehat beliau kepada para Ibu dengan segudang kesibukan dan anak tanpa bantuan asisten adalah: try to make it simple. Nggak usah merasa bersalah kalo sesekali nggak masak dan beli di luar, atau ketika sedang banyak cucian dan tak sempat mencuci, terpaksa memakai popok sekali pakai untuk si kecil. Why not? It is okay.

Sederhanakanlah, jika itu bisa membuat kita lebih baik mengelola emosi dan mengurus rumah dengan segala isinya. Asal sehat dan terjangkau kantong, mengapa tidak? Toh, nggak setiap hari kan? Simplify your problems. Simplify your expectations. Simplify your life.

Seseorang pernah bilang, “Kondisi dapur tiap orang beda-beda. Jangan pernah menyamaratakan keadaan kita dengan orang lain.”

Agree. Dan saya percaya, setiap Ibu memiliki ujian dan medan juangnya masing-masing. Ada yang diuji dengan kekurangan harta benda, suami yang buruk akhlaknya, anak-anak yang sangat menguji kesabaran, atau kondisi kesehatan yang tidak menentu.

Belum lagi kalau ia adalah seorang single fighter, yang harus bekerja membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Menjalankan peran sebagai Ibu saja sudah sulit. Terlebih lagi menggandakan peran merangkap pemimpin keluarga sekaligus pencari nafkah. Masya Allah, dua jempol untuk mereka. Salute.

Bergaul dengan sesama Ibu, baik di dunia nyata ataupun maya, mengajari saya akan banyak hal. Menyadarkan bahwa saya tidak sendirian. Menyadarkan bahwa tidak ada sosok ibu yang sempurna. Tiap kita pasti pernah bertemu dengan sosok seorang Ibu yang kita anggap sempurna, perfecto. Keren abiss deh pokoknya..

“Wah, kece banget nih ibu.. udah penyayang dan perhatian sama anaknya, pinter masak, kreatif bikin ini itu, anaknya juga keliatan terurus dengan baik, cerdas, (seems) shalihah, rumahnya selalu tertata apik dan rapi, blablabla..”,

Mungkin yang langsung terbayang di benak kita adalah: Oh I just wanna be like her, if only I could be like her.

Or the worst is: I fail as a mother alias saya adalah ibu yang gagal.

Dearest moms, kita hanya menilai dari apa yang terlihat dari luar. Kita nggak tahu bagaimana ibu yang kece abis  itu sebenarnya ketika di rumah, atau perjuangan seperti apa yang harus ia lewati untuk menjadi sosok seperti yang kita kagumi itu.

What happened inside, we never really know. So why not focusing yourself to be a better mom for your children instead of force yourself to be someone else?

It’s great to be an excellent crafter. It’s great to be a great chef. It’s great to be a brilliant mother with multitalents and lots of skills. But what you need to realize is, your kids don’t need a perfect mother. They just need you. Yes you, unconditionally.

A warmhearted and loving person who always willing to learn and grow to be better day by day. Your unconditional love is all they need and nothing more.

It’s not easy to be a mother. Baik ibu yang tinggal di rumah, bekerja keluar rumah atau bekerja dari rumah. Being a mother is the toughest job in the world but also the most important job in the world.

But remember, the reward is Jannah, insha Allah. May Allah guide us along the straight path.

Semangat, ummahat! 😉

image

 ~ One freezing morning at my super cozy home Cibubur, November 2014

©aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

12 thoughts on “SuperMom

  1. Reblogged this on P.U.E.L.L.A.V.I.C.U.S and commented:
    Nemu Catatan ini, ah asli pengen nangis. gw yang saat ini kadang suka mikir sudah gagal jd istri sholehah, susahnya mencari jalan tengah antara idealisme dengan realita yang ada.

    Kata2 ini menenangkan bgt :
    So I choose to lower my standards in order to be happy. I choose to let go of the things I cannot handle, so I can set myself free. Pengen nyobain ini. semoga bisa.
    trus kata2 ini juga :
    Simplify your problems. Simplify your expectations. Simplify your life.

    Semoga blognya berkah ya mbak. inspiratif bg yang baca. semoga sy bisa juga mempraktekknya. Aamiin

  2. Ijin share ya mba, memiliki cerita yg hampir sama dan ingin segala sesuatunya sempurna ternyata tak membuatku merasa menikmati semuanya tapi justru membuatku tidak nyaman oleh keadaan, dapat inspirasi dari mba mugo2 bs kujalani semuanya dengan bahagia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s