Sedikit yang Menentramkan

pink flowers in a cup

Fashbir shabran jamiil.. bersabarlah dengan kesabaran yang baik..

Di antara bentuk kesabaran adalah bersabar dalam mencari rezeki yang halal di tengah-tengah kerasnya persaingan hidup, meski tidak mudah dan rentan akan godaan.

Ada yang bilang,

“Nggak usah sok suci deh. Hari gini, nyari yang haram aja susah, apalagi yang halal?”

Astaghfirullaah.

Bukankah rezeki itu tidak hanya soal banyaknya, tapi yang jauh lebih penting, adalah barakahnya?

“Tidaklah kelapangan rezeki dan amalan diukur dengan jumlahnya yang banyak, tidaklah panjang umur dilihat dari bulan dan tahunnya yang berjumlah banyak. Akan tetapi, kelapangan rezeki dan umur diukur dengan keberkahannya .” (Al Jawabul Kafi karya Ibnu Qayyim, 56).

Betapa banyak mereka yang berharta tapi tidak merasa puas dengan hartanya. Selalu merasa kurang dengan yang ada. Semakin bertambah hartanya, semakin gundah hatinya.

Boleh jadi karena hilangnya keberkahan dari hartanya, dikarenakan tidak didapat dengan cara yang halal.

Betapa banyak pula mereka yang diberikan sedikit saja bagian dari harta dunia, tapi hidupnya tenang dan selalu merasa cukup dengan yang ada.

Boleh jadi, karena walaupun sedikit, hartanya barakah dan berasal dari yang halal.

Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada Hakim bin Hizam,

“Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya (tidak tamak dan tidak mengemis), maka harta itu akan memberkahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan, maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah”. [HR. Bukhari no. 1472]

Sesuatu yang didapatkan dengan cara yang tidak diridhaiNya, maka jangan harap di kemudian hari akan menuai barakah.

Bersabarlah mencari rezeki yang halal. Berjuanglah walau letih dan lelah. Karena boleh jadi do’a-do’a kita terhalang dari dikabulkanNya, karena apa yang kita masukkan ke dalam diri ini, berasal dari dzat yang haram.

Beruntunglah para suami yang memiliki istri qana’ah dan sederhana dalam keinginannya. Yang tidak pernah menuntut tambahan harta dunia di luar kesanggupan suaminya. Yang ketika mengantar suaminya berangkat untuk mencari nafkah selalu berpesan,

Wahai fulan (suamiku), berilah makanan yang halal bagi kami. Kami sanggup untuk menahan diri dengan bersabar dalam kondisi lapar. Namun kami tidak sanggup untuk bersabar dari neraka dan murka al-Jabbar (Dzat Yang Maha Mutlak Ketetapan-Nya).

~ Jakarta selepas Subuh, November 2014

©aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s