A Girl Who Reads

a girl who reads

“If you find a girl who reads, keep her close. When you find her up at 2 AM clutching a book to her chest and weeping, make her a cup of tea and hold her. You may lose her for a couple of hours but she will always come back to you. She’ll talk as if the characters in the book are real, because for a while, they always are.” (Tumblr)

Siang ini ketika sedang asyik Tumblr-walking, saya menemukan pic seorang wanita muda yang sedang asyik dengan bukunya di sebuah halte bus dengan caption kutipan di atas. Satu foto yang diambil candid dari jendela sebuah angkot. Iya, di sini. Di Indonesia.

First thing that came into my mind: she’s kewl! Keren bangetts.

Baca buku sambil nunggu bus itu sesuatu yang anti-mainstream  banget di jaman sekarang ini. Era dimana semua serba digital, kemana-mana yang ditenteng smartphone atau tab, ebook menggantikan lembaran-lembaran kertas.. tapi gadis itu malah membawa buku.

Dulu, saya juga kayak gitu. Persis. Keluar rumah, sambil jalan nunggu angkot, baca buku. Di angkot, baca buku. Turun dari angkot, baca buku lagi. Terus begitu sampai tempat yang dituju.

Sampai pernah saya kelewatan angkot saking asyiknya baca, dan nyesel senyesel-nyeselnya. Soalnya itu angkot nunggunya serasa seabad, susah. Wkwkwk. Pasti waktu itu lagi sampai bagian yang seru.

Nggak tahu kenapa, bawa buku bacaan atau pelajaran saat bepergian itu is a must for me. Bisa mati gaya saya kalo nggak bawa buku. Perjalanan akan terasa amat sangat membosankan tanpa kehadirannya. Ya ngapain coba, daripada bengong mikir yang nggak ada manfaatnya, mending baca kan? Time killer yang efektif dan mengenyangkan jiwa.

Saking senangnya baca, sampai-sampai waktu kecil dulu,  kalo mau mudik ke kampung orangtua di Malang dan Surabaya, salah satu ritual wajib adalah belanja buku ke toko buku dulu sebelum berangkat dan belanja buku lagi ketika hendak pulang menuju Jakarta.

Kenapa sampai dua kali? Karena buku yang dibeli sebelum berangkat sudah pasti selesai dibaca sebelum sampai tujuan. Kalo beli dua buku sekaligus, pasti saya akan tergoda untuk membacanya sebelum pulang ke Jakarta. Hmmm.. dilema, kan?

Kalau biasanya ketika singgah di suatu tempat baru, kebanyakan orang nyari tempat berburu cinderamata atau spot-spot kuliner khas daerah tersebut, lain halnya dengan saya. Setiap diajak ke suatu tempat asing, pasti nyari yang namanya toko buku.

Toko buku bekas lebih baik. Kadang, di toko buku bekas itu kita bisa menemukan banyak sekali ‘harta karun’ alias buku-buku terbitan lama yang udah nggak beredar di pasaran.. #emot-mata-berbinar-binar

Eitss.. ini bukan ikut-ikutan demam pelem AADC yak. Hahaha. Pas ada scene dengan latar satu toko buku bekas di daerah Kwitang, saya langsung notice: Jiaahh, itu kan toko buku tongkrongan akuh..”  sambil cengar-cengir nggak jelas.

Oke, let’s back to topic😛

Pernah saya diprotes waktu minta anterin sepupu ke toko buku di salah satu mall besar di Surabaya,

“Jauh-jauh dari Jakarta cuma mau ke toko buku? Kan sama aja isinya.. buku juga. Emang di Jakarta nggak ada yang jual buku?”

Wekekek. Saya cuma nyengir kuda.

“Tiap toko buku emang isinya buku (yaiyalah masa pasir ama semen, emang matrial?), tapi.. pasti jenis bukunya beda-beda. Nah petualangan mencari buku yang beda itu yang bikin asyik..”

Pernah udah sampai masuk ke kereta, saya minta diantar Abi untuk mencari buku keluar stasiun Pasar Turi Surabaya. Alhamdulillah ada toko buku bekas nggak jauh dari stasiun. Dan momen itu terkenang terus sampai sekarang. Terima kasih ya bi, udah mau nurutin kemauan putri sulungmu yang rewel kalo soal buku ini ya.. *salim😀

a place to fall in love

“If you give me a book, I’ll read most of the day. If I read most of the day, I’ll ask for one more chapter. If you give me one more chapter, I’ll read until the book is finished. If I read until the book is finished, I’ll ask for another day off. And another book.” (Unknown)

Sejak kapan jatuh cinta sama buku? Sejak saya bisa membaca. Dan salah satu penyemangat saya untuk segera bisa membaca adalah supaya bisa baca buku sendiri, seperti yang pernah saya tuturkan di sini.

Makanya nggak heran kelas dua SMP saya udah harus pakai kacamata. Sampai dijuluki kutu buku karena sering ngadem di perpustakaan. Terutama kalo pas uang saku lagi tiris bin kritis. Lol. Eh kamu juga, kan? Hayo, ngakuuu😛

Orang bilang, jodoh kita, cerminan diri kita. Karena saya suka sekali membaca, maka ketika mencari pasangan hidup pun, saya mengutamakan yang memiliki hobi yang sama: gemar membaca dan mengkoleksi buku. Yang rela merogoh kocek lebih dalam untuk membeli buku, minimal sebulan sekali. One month one book.

Bahkan mahar saya dulu bukan perhiasan atau semacamnya, tapi buku. Buku yang sudah lama sekali saya impikan. Buku apa? Ehmm.. rahasia.

Setelah menikah (tentu sebelum mempunyai anak :P) saat-saat paling romantis bagi kami (uhm, apa bagi saya aja ya?) bukan pergi shopping ke mall, plesiran ke tempat-tempat romantis berdua, candle light dinner di tepi pantai atau diberi surprise berupa setangkai bunga mawar dengan cokelat..

Sure, they are romantic. Flowers, chocolate and those typically newlywed thingies..

But you know what the most romantic moments for me? Menikmati waktu pagi, duduk berdua di teras rumah dengan masing-masing membaca buku kesukaan, ditemani secangkir teh panas.

There was silence. A kind of silence that was so comfortable. And I called it romantic.

“Tea and books – two of life’s exquisite pleasures that together bring near-bliss.” (Unknown)

Kini setelah memiliki anak, kebiasaan membaca setiap pagi itu berubah drastis. Ya nggak mungkin juga keleuss, nunggu angkot sambil baca buku. Why? Karena sekarang bukan buku lagi yang ada di tangan, tapi: anak.

Plus tas baby yang super baggy berisi printilan-printilan keperluan anak. Ahahaha! #curcol

Mau nggak mau, saya harus pandai memanfaatkan waktu agar bisa membaca dengan tenang. Setelah subuh dan malam hari adalah waktu yang paling tepat untuk bisa bernostalgia kembali dengan buku. Dengan catatan, anak-anak belum bangun ya..

Atau trik lainnya, membacanya dalam bentuk digital alias e-book. Praktis, mobile dan nggak gampang sobek kalo diraih anak. Paling jatoh ke lantai😄

Anyway.. teknologi memang memberi banyak kemudahan. Banyak buku-buku bagus yang cukup diunduh lewat gadget, tanpa harus mengeluarkan uang. Free alias gratis. Tapi.. ada hal-hal yang tidak tergantikan oleh teknologi. Banyak hal, mungkin.

Wangi khas kertas sebuah buku ketika lembar demi lembarnya dibuka, lebih eye-friendly karena bebas radiasi layar, juga bebas lowbatt. Aha! Yang terakhir ini yang paling penting. Nggak perlu ribet nyari colokan.

It’s been 26 years since I fell in love with those secluded little worlds called books. And still I do, as I always do. Until this day, I always find a girl or a boy who reads is very cool, and.. attractive. She and her thoughts, are amazing universe I will always eager to explore.

“Find a girl who reads. Find a girl who spends her money on books instead of clothes, who has problems with closet space because she has too many books. Find a girl who has a list of books she wants to read, who has had a library card since she was twelve.

Find a girl who reads. You’ll know that she does because she will always have an unread book in her bag. She’s the one lovingly looking over the shelves in the bookstore, the one who quietly cries out when she has found the book she wants.

You see that weird chick sniffing the pages of an old book in a secondhand book shop? That’s the reader. They can never resist smelling the pages, especially when they are yellow and worn.

She’s the girl reading while waiting in that coffee shop down the street. If you take a peek at her mug, the non-dairy creamer is floating on top because she’s kind of engrossed already. Lost in a world of the author’s making. Sit down. She might give you a glare, as most girls who read do not like to be interrupted. Ask her if she likes the book.

Find a girl who reads because you deserve it. You deserve a girl who can give you the most colorful life imaginable. If you can only give her monotony, and stale hours and half-baked proposals, then you’re better off alone. If you want the world and the worlds beyond it, find a girl who reads.

Or better yet, find a girl who writes.”

(Quoted from Tumblr, with many changes here and there)

~ Jakarta, in a peaceful saturday midnight, end of November 2014

©aisyafra.wordpress.com

[ image source: Tumblr ]

6 thoughts on “A Girl Who Reads

  1. Halooo, assalamualaikum🙂 Salam kenal ya mbak🙂 Saya suka banget baca tulisan mbak! Selama ini jadi silent reader aja. Dan yang ini kece banget! Makasih banyak ya mbak, sudah berbagi cerita dan pelajaran hidup mbak. Semoga Allah balas dengan yang lebih baik.

    • Waalaikumussalam, salam kenal kembali Puput.. Alhamdulillah, thank you for keep reading my posts here, trimakasih ya.. Mudah2an bermanfaat. Walaupun banyak randomnya, hehe😀

      Aamiin.. barakallaahu fiik😉

  2. suka sekalii sm tulisannya mbak..
    jd silent reader bbrpa lama dah g tahan buat komen skrg..
    smg bs mngikuti jejak mb..menulis dengan indah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s