The Journey to Success

goal

“There is no elevator to success. You have to take the stairs.” ~Unknown

Tak terasa lima bulan sudah saya dan partner menjalankan bisnis jualan jilbab anak via online. Banyak suka dan duka, sedih dan senangnya. Ada hal-hal yang bikin excited, ada hal-hal yang bikin down.

Memulai usaha dari bawah, dari nol banget. Dengan ilmu yang juga sangat minim. Terlebih lagi, kami sama sekali tidak ada basic pendidikan sebagai pebisnis.

Meski sudah menjalankan usaha sebagai penjahit rumahan sejak 2001, namun ketika terjun ke rimba belantara (halah) bisnis online, banyak sekali perbedaan yang saya rasakan. Ya, bisnis online dan offline memang beda. Benar-benar beda.

Ada plus dan minusnya masing-masing. Dan itulah yang terus kami pelajari agar kelak dapat menjadi pebisnis yang handal, baik online maupun offline. Aamiin..

Jalan menuju kesuksesan itu tak selalu mulus adanya.. Pasti, akan ada kerikil dan batu besar yang menghadang. Dan hal itu sudah saya pahami betul sebelum bisnis ini mulai berjalan.

Di awal-awal memulai bisnis, rasanya wajar kalau seorang pengusaha pemula masih banyak keteteran di sana sini.. Karena mungkin belum menemukan sistem dan konsep yang tepat. Insya Allah dengan berjalannya waktu akan nemu sendiri nyamannya gimana.

Dulu mengawali usaha jilbab anak dengan brand Zafra ini hanya berdua dengan my partner in crime yaitu adek saya sendiri. What is Zafra? Zafra adalah singkatan dari nama anak-anak perempuan kami, Zahra dan Aisyafra🙂

Niat awal hanya sampingan aja jualan online. Menyalurkan hobi dan keahlian. Setahun yang lalu, saya pernah membuatkan beberapa buah jilbab anak untuk kado kelahiran anak seorang sahabat.

Setelah jadi, hasilnya iseng-iseng saya upload di Instagram, ternyata banyak teman yang minat. Mereka bilang, nyari jilbab anak yang panjangnya menutup dada dengan berbagai variasi warna dan ukuran itu lumayan susah. Dari situlah awal ide bisnis ini muncul.

Tapi karena waktu itu saya sedang hamil besar, nggak ada niat untuk segera eksekusi karena udah mikir betapa repotnya kalo memulai usaha saat itu. Menghandle usaha dengan dua balita dan satu bayi, tanpa bantuan ART pula. That’s called suicide. Lol😛

Dan ketika akhirnya memutuskan untuk mulai pun, nggak pernah kepikiran buat serius sampai produksi dalam jumlah besar. Ternyata respon pasar di luar perkiraan, masya Allah.

Demi mencapai target akhirnya kami hire  1 pegawai khusus jahit. Setelah jalan beberapa bulan, masih kewalahan juga. Artinya ada yang harus dibenahi. Opsinya ada dua: memperbaiki sistem yang dipakai atau menambah SDM.

Insya Allah ada rencana memperluas workshop dan hire 1 pegawai lagi agar bisa memperluas pasar dan menambah stock barang. Aamiin.

Evaluasi, inovasi dan open mind. Feedback berupa kritik, saran atau bahkan caci maki dari customer adalah masukan berharga yang bisa bikin usaha kita makin berkembang. Jangan kebal kritik. Kita butuh input dan kritik membangun untuk terus tumbuh dan berkembang.

Open our minds to any innovation. Terus pantau dan evaluasi perkembangan usaha yang dijalankan saat ini. Maju, stuck apa malah mundur?

Pilih ritme kerja yang paling nyaman, yang paling sesuai dengan manajemen waktu kita. Jangan sampai kerja tapi stress, meski omzet kita besar. Karena menurut hemat saya, kerja itu harus enjoy. Kalo nggak enjoy, berarti ada something wrong. And we must fix it soon.

“Being not only satisfied but also fulfilled with your life’s work is an achievement of success worth heartily pursuing. Look in the mirror every morning and ask yourself: ‘If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?’ And whenever the answer is ‘No’ for too many days in a row, you’ll know you need to change something.” ~Steve Jobs

Saya dan partner juga punya anak-anak kecil, masih baby malah. Jangan ditanya betapa riweuhnya perjuangan kami, ibu dengan tiga anak, tanpa ART yang mengelola sebuah online dan offline shop yang barangnya kami produksi sendiri dengan keterbatasan modal,  tempat dan tenaga.

Rasanya seperti naik rollercoaster,  seru dan penuh kejutan. Tapi juga penuh tantangan😀

Family first!

Sesibuk apapun, prinsip kami, keluarga tetap nomor satu. Usahakan ada batas waktu dalam bekerja, misalnya menetapkan jam kerja dan hari libur. Weekend slowrespon atau off. Beri pengertian ke customer, bahwa kita punya jam kerja khusus yang tidak dapat diganggu gugat.

Pandai-pandai mengatur jadwal. Never procrastinate. Motong kain siang hari setelah perkerjaan rumah selesai. Rekap order malam hari, saat anak-anak sudah tidur. Cicil pekerjaan rumah sebelum tidur, biar paginya nggak buru-buru dan panik, in case misalnya bangun kesiangan.

Sebagai pemula, saya dan partner merasa masih harus banyak belajar dari kawan-kawan senior yang sudah lebih dulu memulai usaha. Makanya saya suka ngariung di grup pengusaha pemula, mantengin akun-akun twitter yang sering bagi-bagi tips bisnis, baca artikel-artikel tentang kewirausahaan.

Dan yang paling inspiring, baca-baca kisah orang-orang yang sukses. Gimana mereka start dari nol sampai bisa seperti sekarang. Amazing spirit booster.

Selama beberapa bulan menekuni usaha ini, saya makin percaya, there is no shortcut to success. Selalu ada perjuangan, dan juga kegagalan di balik tiap kesuksesan.

“Semakin baik jalan yang kamu pilih, anak muda, akan semakin banyak rintangan dan godaannya. Semakin tinggi bukit yang kamu daki, akan semakin hebat kepenatan yang kamu rasakan. Namun hanya orang yang berjiwa kerdil yang memilih hidup tanpa pendakian.” ~petikan dari buku Sandiwara Langit

Pernah berpikir untuk quit,  nyerah..

Karena puyeng dikejar deadline, sedang banyak kerjaan rumah yang belum selesai, cucian piring, setrikaan, jahitan baju anak-anak, dan lain-lain. Iya, saat kritis itu pasti ada. Saat dimana kita bener-bener ngerasa desperate abiss. Tapi.. prinsip saya, pantang pulang sebelum padam. #eh

Maksudnya pantang menyerah sebelum fighting all out alias berjuang habis-habisan. You start, so you have to finish what you have started. Bismillah, we can conquer it all, biidznillah. Jaahidy!

Insya Allah punya anak dan segudang kesibukan, nggak  menyurutkan semangat dan tekad saya (juga partner) untuk menjalankan usaha. Jangan lupa minta support dan bantuan pasangan, plus restu keluarga besar. Itu satu hal yang penting banget..

The journey to success never runs smooth. Ada saat terjatuh, saat bangun kembali dari keterpurukan dan semangat yang pantang menyerah. It’s totally about perception, bagaimana kita melihat segala kesulitan dan rintangan yang mungkin timbul.

Apakah kita melihatnya sebagai beban, atau sebaliknya: sebagai sebuah tantangan. I choose the number two. Nobody said it was easy. They just said it’d be worth it.

Hamasah, dear self. It’s still a long way to go..
Keep learning.. keep going..
Never stop dreaming and work hard for it  :)

a note

~ Jakarta, while waiting for the rain to fall.. December 2104

©aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

2 thoughts on “The Journey to Success

  1. Sukaaaa banget sama yg ini, aku juga masih memotivasi diri aku mbak… untuk belajar usaha (jualan) kecil-kecilan. Mudah-mudahan aku nggak patah semangat, harus bisaaa !
    Bagi tips untuk buka usaha online untuk pemula dooong mbak, *kedip-kedip mata😄

    • Aku nggak punya tips khusus, Ekaa.. Prinsipku kalo punya impian dan ada ilmu juga sarana utk mewujudkannya: JUST DO IT. Another things will follow. Bismillaah.. ikutin passion kita aja🙂

      Viva mompreneurship! *kibas daster*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s