UAS Week~

notes and pen

Sepekan ke depan ini para orangtua dan anak dibuat sibuk oleh pekan ujian akhir semester, yang disingkat UAS. Sibuk belajar dan mengajar, sibuk ngasih setumpuk wejangan sebelum berangkat sekolah, sampai membatasi waktu bermain dan menonton anak.

Ada banyak cara bagi orangtua untuk menyiapkan anak menghadapi test atau ujian. Ada yang cuek dan santai bahkan cenderung abai. Ada yang too serius sampai menekan psikologis si anak agar mendapat hasil yang memuaskan. Ada yang anaknya mau test, yang justru nervous orangtuanya. Heheu..

Dulu saya waktu mau test, ada peraturan selama sepekan itu no main, no TV. Tiap malem digeber terus sama yang namanya belajar. Alhamdulillah nggak merasa tertekan. Mungkin karena saya tipikal anak yang hobinya belajar. Kind of weird hobby, isn’t it? *lol

So the more pressure I get, the more I enjoy..

Beberapa tahun lalu pernah baca di twitternya Pak Jamil Azzaini, blio cerita, putranya yang Senin besok mau UAN, Sabtunya diajak jalan-jalan dulu sama bapaknya. Mereka memutuskan jalan-jalan ke Dufan, setelah sepekan si anak belajar di rumah karena sudah masuk minggu tenang.

Alasan blio, supaya anak nggak stress karena test macam UAN itu bukan cuma butuh persiapan mempelajari materi yang diujikan, tapi juga butuh jiwa yang rileks saat mengerjakannya. Sepulang dari jalan-jalan, ya belajar lagi.

I look inside myself then reflect, iya juga ya.. Kadang masalah yang timbul saat kita mengerjakan test adalah bukan kita nggak belajar, kita udah belajar sampe ngelotok, tapi karena tegang.. buyarlah semuanya😥

Saya dulu punya temen yang cerdasnya minta ampun. Sekarang udah jadi bussinesswoman yang sukses. Dulu pas lagi test, selalu nervous dan keluar keringat dingin. Padahal saya yakin dia bisa, wong kalo soal ngerjain PR aja rajinan dia. Hahaha. Tapi kegugupannnya ketika berhadapan dengan lembar ujian itu bikin konsentrasinya buyar. Totally blank.

Pas udah kelar ujian dan kita-kita udah merayakan kebebasan makan-makan di kantin, dia masih aja duduk di pojokan kelas nyalahin diri sendiri karena salah jawab pas ujian tadi. Owh.

Kondisi fisik dan psikis tiap anak berbeda, begitu juga tingkat kecerdasan mereka. Cara yang cocok untuk anak yang satu, tentu berbeda dengan anak lainnya. What to be noted for me as parent is: cari cara yang paling bikin anak enjoy dalam belajar.

Agar anak menyadari, bahwa belajar itu kebutuhan, bukan beban. Agar anak paham, nilai bagus dan excellent itu bukan keharusan, tapi bonus. Hargai proses anak meraihnya, meski hasilnya pas-pasan atau ala kadarnya. Hal ini yang seringkali abai untuk kita apresiasi.

“Sungguh tugas orangtua dan guru bukanlah mempersiapkan anak-anak yang memiliki prestasi akademik yang menakjubkan. Tugas mereka adalah membimbing anak-anak agar mencintai ilmu, sehingga dengan kecintaan yang besar itu mereka akan bersemangat dalam belajar.” ~Mohammad Fauzil Adhim

Terlebih lagi, anak yang terlalu dipress untuk meraih nilai tinggi tanpa dibekali pengetahuan agama yang cukup, cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Memaksakan diri untuk dapat nilai bagus meski dengan cara membohongi diri sendiri dan orang lain, yaitu: menyontek. Dari hal-hal semacam inilah bibit-bibit korupsi timbul di negara ini.

Nilai tinggi bukanlah tujuan dalam belajar, it is not a destination. Learning is wayyy more important than a fine grade. Enjoy the process, enjoy learning with your children. It’s not your children who need to learn, it’s you BOTH.

Harits juga ada test pekan ini. Test khas anak-anak TK yang gampang banget. Insya Allah anaknya malah excited tau mau test dan antusias belajar dengan keinginan sendiri. Paling saya cuma mengarahkan aja. No pressure.

Told ya, every child is different, every child is unique, every child is special😉

Selamat belajar untuk adik-adik yang akan menempuh test UAS sepekan ke depan. Jangan lupa rumusnya: ikhtiar + do’a + tawakkal.

Mangatseeee!🙂

~ Jakarta selepas Subuh, 7 Desember 2014..

©aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

2 thoughts on “UAS Week~

  1. setuju berat, memang sudah seharusnya semua orang tua sadar bahwa bukan mendesak anak untuk mendapatkan nilai yang super menakjubkan tetapi ada yang lebih penting dari itu, yaitu: membimbing agar mencintai ilmu dengan proses yang baik. Bukan malah nilai yang baik tapi dengan menghalalkan segala cara, ya kan?
    panjang bener nih komentar, maaf🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s