Kalau Bisa Ditulis Lengkap, Kenapa Harus Disingkat?

typewriter and tulips

“Tring!”

Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya siang ini. Dari seorang teman ternyata. Membaca isinya kening saya berkerut (dalam arti yang sebenarnya). Setelah beberapa detik, baru saya bisa mencerna arti pesan tersebut.

Sejujurnya, bukan panjang pesannya yang bikin kening saya berkerut, tapi kata-kata yang disingkat sedemikian rupa hingga membuat saya berpikir berkali-kali sebelum menyimpulkan, “What… ini apa sih maksudnya?”

Saya lantas geleng-geleng kepala, kenapa ya orang hobi bingiitts  menyingkat-nyingkat tulisan padahal bisa ditulis lengkap? Kalo singkatannya lazim dan nggak tiap kata disingkat sih it’s ok lah ya..Tapi kalo singkatannya nggak lazim, hampir tiap kata disingkat, dan berasa peliittt banget ngasih huruf vokal.. Jangan salahkan yang baca juga kalau loadingnya lama.

Misalnya menyingkat kata “aku” menjadi “q”, “nya” menjadi “x”, atau “kamu” menjadi “qm”. “Semisal” menjadi “smsl”, “bersilaturrahmi” menjadi “brsltrhm”. Nah irit huruf vokal banget kan? Belum lagi kalau tulisannya panjang, terdiri dari kombinasi huruf besar kecil dan nggak dikasih jeda per paragraf. Plus banyak tanda baca yang mengganggu dan tidak perlu, seperti selusin tanda tanya dan tanda seru di belakang kalimat. Yassalaamm.. #brb pasang salonpas

Dan masih banyak lagi singkatan-singkatan aneh bin nyeleneh yang bikin kita geleng-geleng dan angguk-angguk kepala padahal nggak lagi senam SKJ. Fufufu.

Kenapa sih nulisnya nggak yang normal ajah? Kan nggak semua orang paham cara kita berbahasa? Apalagi kalo tulisan yang berbau-bau gaya 4L4Y.. Hadeh, nyerah duluan sayah. Bikin puyeng dan minus mata bertambah. Mending suruh baca tulisan arab gundul deh.. #nggaya

Saya sendiri, karena suka membaca tulisan yang rapi tanpa singkatan aneh-aneh, lebih memilih untuk tidak menyingkat kata kalau memang memungkinkan. Atau kalaupun harus menyingkat karena mungkin sedang terburu-buru, akan menyingkat dengan seperlunya saja dan dengan singkatan-singkatan yang lazim dipakai oleh orang banyak.

Mengapa? Karena buat saya membaca tulisan itu membutuhkan waktu untuk berpikir, dan kalimat yang ditulis lengkap tanpa disingkat itu memudahkan si pembaca untuk memahami maksud saya menulis pesan tersebut. Juga, untuk menghormati si penerima pesan, terutama pesan yang sifatnya pribadi dan tertutup. Even when I text to my best friends.

Nggak perlu pakai kata-kata baku yang sesuai dengan KBBI, minimal yang lazim dan dimengerti oleh orang banyak. Kecuali kalau kita ngomong sama diri sendiri di buku diary atau di depan cermin, terserah deh mau pakai bahasa isyarat atau kode morse sekalian juga, nggak ada masalah.. Lha wong yang ngerti memang cuma kita kok.

true or false

Tulisan yang tersusun rapi tanpa banyak singkatan tentu akan lebih enak dibaca dan mencerminkan keluasan ilmu berbahasa penulisnya. Terlebih-lebih tulisan panjang seperti di website atau blog yang kalau banyak singkatannya bikin kepala jadi cenat-cenut. Akibatnya, baru beberapa baris saja, si pembaca sudah kabur duluan. Malas melanjutkan.

Jadi, kalau memang ada waktu dan kesempatan untuk bisa menulis dengan lengkap dan sempurna, kenapa harus disingkat-singkat? Tulisan dan gaya menulismu, mencerminkan siapa dirimu dan bagaimana kepribadianmu..

~ Jakarta, on a rainy of December 2014.. just my two cents, anyway🙂

[ image source: Getty Images & Grammarly ]

2 thoughts on “Kalau Bisa Ditulis Lengkap, Kenapa Harus Disingkat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s