Sederhana…

image

Akhir pekan awal bulan kemarin, ceritanya saya dan keluarga pengen family time  tapi galaw mau ke mana. Yang nyaman tapi makanannya juga disukai anak-anak. Dan kriteria utama yang tak kalah penting: tempatnya harus yang luas atau ada arena playgroundnya, biar emak-bapaknya bisa makan dengan tenang. Hahaha.

Akhirnya suami ngasih usul gimana kalo ke resto fastfood cepat saji yang belum lama ini buka dan jaraknya nggak begitu jauh dari rumah. Oke, fixed kami putuskan pergi ke sana.

Sampai di tempat, itu resto penuh manusia banget. Soalnya pas weekend kali ya. Alhamdulillah di lantai dua ada 4 seat dan meja kosong dengan pemandangan langsung keluar jendela, bersebelahan dengan arena bermain anak.

Tanpa dikomando anak-anak langsung menyerbu perosotan yang ada di pojokan. Fiqar santai duduk di high chair sambil celingukan, mungkin dia mikir, “tempat apa sih ini?”😀

Makanan datang, anak-anak masih heboh main. Fiqar mulai khusyuk menyendok sendiri sundae strawberry yang ada di mejanya. Kadang ikut nyemilin kentang goreng yang saya makan.

Berhubung waktu itu saya lagi lapar sangat, satu beefburger dan segelas sundae cokelat plus setengah gelas cola (wuidih) langsung licin tandas masuk ke dalam perut. Nikmatnya makan di AW: Alhamdulillah Whareg😛

Anak-anak masih asyik sama perosotan dan teman-teman barunya sampai akhirnya kami panggil untuk makan. Baru kali ini mereka makan burger di tempat ini. Biasanya beli di abang-abang lewat atau pas main ke taman. Yang murmer dan terjangkau kantong sajah.

Si gembil Afra lumayan doyan menu yang kami pesan. Yah si afra apaan sih yang ngga doyan? Apa aja dilalap sama dia, heheheu. Beda sama Harits. Baru satu gigitan udah ditaro lagi. Udah dirayu, tetap nggak mau, nggak doyan katanya. Akhirnya kentang goreng yang udah tinggal setengah porsi jadi sasaran tembak. Habis, deh.

Ngelirik meja, es krim masih sisa setengah gelas, ice cola size large masih sisa segelas dan burger dua potong besar. Walau sudah kenyang, dengan terpaksa mau nggak mau saya habiskan juga sisa-sisa pertempuran barusan. Ya daripada mubadzir. Selain itu, kan emang lagi program penggemukan badan.

Eaaa.. Alhamdulillah ya😄

Honestly, saya nggak begitu terbiasa menyantap makanan modern begini. Trus maksudnya biasa makan makanan purbakala gitu? Huahaha. Kalau diinget-inget, terakhir makan di gerai makanan cepat saji ini sekira 4 tahun lalu di Grage Mall Cirebon, kampung halaman suami. Sekalinya mampir, kadang cuma beli sundae strawberry-nya aja. Soalnya saya suka banget. Creamy-sweety-sour gimanaa gitu. Nagih deh enaknya. #bukanbuzzeryak

Entah kenapa, saya lebih suka makan di lesehan khas Sunda, rumah makan ala Padang, angkringan nasi pecel pinggir jalan atau gerobak yang sering lewat depan rumah, daripada di resto modern seperti fast food tadi. Asal tempatnya bersih dan tertutup, rasanya mantap bikin lidah bergoyang, why not?

Mie ayam, pecel lele, es teler, mie goreng surabaya, sayur asem + ikan asin + sambel terasi, nasi tutug oncom, gurame bakar, gado-gado dan penganan tradisional lainnya. Minumannya es kelapa muda atau jus melon. Selain lebih nikmat dan murah, juga hitung-hitung membantu perekonomian pedagang kecil. Murah meriah, rasa mantap jaya..

i love indonesian food!

Boleh dibilang, jarang banget saya makan di resto mall-mall besar, atau hang out sama temen di rumah makan yang satu menu harganya sampai ratusan ribu. Aduh, sayang banget duit segitu banyak buat sekali makan.

Mendingan dibawa ke toko buku, bisa dapet buku segambreng. Sisanya bisa disedekahkan kepada saudara yang membutuhkan. Dan kalaupun pernah, paling boleh dapet traktiran *ngaku😛

Jadilah anak-anak juga kurang terbiasa dengan makanan ala fastfood dan menu yang mihil-mihil. Lidah mereka lebih familiar dengan makanan tradisional seperti yang saya sebutkan di atas, atau makanan homemade buatan emaknya.

Kalau ditanya, lebih pilih kentang goreng Mekdi apa pisang goreng buatan emaknya, si sulung pasti pilih pisang goreng. Udah pernah saya tanya soalnya. Hahaha. Alhamdulillah anak-anak penggemar berat masakan emaknya, walau soal rasa ala kadarnya. Artinya: lebih irit dan ekonomis😀

Keluarga besar saya juga hobi makan makanan khas Indonesia, especially homemade alias bikin sendiri. Kalau semua lagi ngumpul, biasanya kami bagi-bagi tugas: ada yang bawa menu Padang, ada yang bikin pizza mie, ada yang bawa tahu isi, ada yang bawa dessert atau es buah.

Begitupun kalau kami berwisata ke suatu tempat, terbiasa membawa makanan buatan sendiri, bukan beli di tempat. Terkecuali di momen-momen di mana memang sudah diniatkan untuk ‘jajan’ dari rumah..

Lain ladang, lain belalang. Lain keluarga, lain juga kebiasaannya. Selagi yang dimakan halalan thayyiban dan terjangkau kantong, ya monggo.. Toh ini masalah selera saja. Kebetulan saya dan keluarga dikaruniai selera kampung alias ndeso. Heheheu.

Sering sepulangnya dari mall habis makan di restoran yang lumayan mahal dengan kendaraan penuh belanjaan, kami berpapasan dengan bapak-bapak tua sedang mendorong gerobak di pinggir jalan, atau ibu-ibu yang sambil memangku anak menunggui lapak dagangannya sampai terkantuk-kantuk.. Terselip sedikit rasa sesak dan bersalah di hati ini.

“Ya Allah.. barusan aja ngabisin duit belanja dan makan segini banyak. Yang kalau uang itu diberikan kepada mereka bisa untuk menutupi kebutuhan hidup mereka dan keluarganya selama beberapa hari..”  :(

Call me lebay or whatever you named it, but that’s what I really feel. Semoga Allah melapangkan rezeki kita, bukan untuk meningkatkan gaya hidup kita menjadi lebih ‘wah’ tapi untuk lebih ringan tangan berbagi kelebihan harta terhadap sesama.

Sesekali okelah ngajak anak-anak ke resto yang khusus kalangan atas atau menengah, asal nggak sering-sering juga. Pertama, mendidik mereka untuk mencintai makanan khas negerinya sendiri. Kedua, sayang uangnya, bisa dibelanjakan untuk hal-hal yang lebih berguna.

Yang ketiga, mencegah mereka dari gaya hidup konsumtif dan boros. Gaya hidup high class dengan barang-barang serba branded nggak bikin harkat dan martabat kita naik, kok.

Membiasakan mereka agar hidup sederhana, apapun keadaannya. Karena sederhana bukan masalah mampu beli atau tidak, bukan juga tentang kadar kemampuan finansial. Sederhana.. adalah gaya hidup.

Pesan ibuk saya waktu kami masih kecil-kecil dulu,

“Sederhana itu bukan masalah punya duit atau nggak punya duit. Sederhana itu gaya hidup. Kadang orang bayar mahal bukan karena makanan yang dia makan atau baju yang dia pakai, tapi karena gengsinya. Bukan hidup kita yang mahal, tapi gaya hidup kita yang mahal. Nggak papa makan sederhana, apa adanya, yang penting hidup tentram, hati tenang, jauh dari hutang..”

 ~ Jakarta, ditulis ketika hujan turun.. di penghujung tahun 2014..

©aisyafra.wordpress.com

4 thoughts on “Sederhana…

  1. Akkkk nasehatnya ibu mbak persis kayak mamakku, dulu aku lumayan suka jajan diluar tapi sampe rumah harus makan lagi karena buatku masakan rumah is the best!. Sekarang dapat suami yang nggak suka jajan di mall, katanya mahal porsi sedikit, bagusan ke rumah makan padang. Porsi besar, udah jelas enak, harga masuk akal. Kekekkekeke

    • Heheheu sama.. kalo ke emol dan udah kelaperan aku n misua lebih milih ke foodcourtnya, nyari makanan khas indonesia.. kayak ayam bakar n lalapan plus es jeruk. Fast food gitu ga dilirik, kecuali sesekali aja buat selingan. Kalo mudik juga lebih suka kulineran yang di pasar besar/rumah makan lesehan gitu.. Nampol abiss rasanya, masya Allah.

      Pokonamah I love Indonesian food!😀

  2. Iya ya mbak, banyak yang milih makan atau hal-hal lainnya bukan karena fungsi dan baik nggaknya tapi lebih karena gengsi😥 Padahal kalo negeri asalnya pizza dan burger, fast food itu kan junk food ya… junk sampah, nggak ada gizinya kayak katanya bang Jamie Oliver di video ini https://www.youtube.com/watch?v=jIwrV5e6fMY Orang-orang di luar lagi berlomba-lomba ngampanyein makanan sehat macam salad/sayur-sayuran, hal-hal yang dimasak fresh dari dapur, di kita malah fast food makin menjamu… Hihi, jadi, selera ndeso kita itu, selera sehat bin mihilnya orang luar ya mbak😀 Hidup selera ndeso!😀

    • Nah iya betul ukht, yang lagi happening banget rawfood and friends itu justru udah lama jadi santapan masyarakat Indonesia sehari-hari.Misalnya lalapan timun n selada, karedok, dll. Ibarat kata kalo orang Sunda disuruh masuk kebun, keluar udah kenyang tinggal dibawain cabe sama garem aja buat sambelnya, soalnya yang dimakan serba mentah. Hidup selera ndeso! Heheu😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s