Suatu Pagi di Taman Topi

taman topi - aisyafra

Suatu pagi di Taman Topi Bogor, awal September 2007

Turun dari KRL jurusan stasiun Bogor pagi itu, saya dan suami segera menuju Taman Topi yang letaknya bersebelahan dengan stasiun. Rencananya mau rehat barang sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke kajian di Masjid Imam Ahmad, Baranangsiang.

Kami yang saat itu baru beberapa minggu menikah alias newlywed (ehem) sedang duduk menikmati segelas es duren di bawah pohon besar ketika dua sosok akhwat berhijab lebar menghampiri kami.

Yang satu sudah tak asing lagi wajahnya, beliau adalah bibi suami yang tinggal di daerah Citayam, Bogor. Yang alhamdulillah sudah mulai rutin ikut ta’lim beberapa bulan belakangan ini.

Namun yang membuat saya tercengang adalah satu sosok wanita berpakaian serba hitam di sebelahnya. Dia, kawan saya yang belum lama ini mengenal sunnah, sebut saja namanya ‘Aisyah.

“Assalamua’alaikum..”  sapa mereka berbarengan.

“Wa’alaikumussalam.. lho kok bisa barengan nih, mau ngaji juga? Eh ini teh ‘Aisyah? Pangling aku..”  sahut saya takjub.

“Iya mbak, ini Aisyah..”  jawabnya dengan senyum malu-malu.

“Masya Allah, Aisyah.. Duh, speechless akuu… Selamat ya, semoga istiqomah.”  Spontan saya menjabat tangannya lebih erat. Terharu..

“Masih lama mbak? Mau bareng nggak?”

“Duluan aja deh, tanggung lagi nyeruput es duren nih, hehe..”

“Iya deh, kita duluan ya mbak. Nggak enak juga ganggu penganten baru. Hihihi..”

“Hahaha enggaklah.. oke deh ketemu di sana yaa..”

They waved goodbye and left me there, stranded.

Suami yang ikutan heran ngeliat muka saya yang rada-rada cengo’ jadi nanya,

“Kenapa sih kok kayak heran gitu?”

“Nggak, kaget aja. Itu yang barusan bareng sama Ibie (panggilan saya untuk bibi suami) jilbabnya udah panjang banget sampe selutut, item-item semua lagi.”

“Padahal terakhir ketemu jilbabnya masih pendek sedada, coraknya warna warni. Masya Allah, hidayah Allah..”  tambah saya lagi. Sambil terus mengucap hamdalah.

Setelah es duren habis kami segera bergegas jalan kaki ke tempat ngetem angkot menuju tempat kajian.

Flashback ke masa beberapa bulan sebelumnya..

Suatu pagi di sebuah kamar kos di daerah Pondok Cina, Depok

Kami tengah bersiap-siap menuju tabligh akbar di masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Sambil menunggu si pemilik kamar kos which is kawan kami siap, kami iseng membuka-buka lebih tepatnya mengacak-acak isi rak buku kawan kami tersebut.

“Mbak, aku pinjem majalah ini ya?”  tanya Aisyah.

“Iyaaa, ambil aja..”  jawab si empunya buku sekenanya tanpa melihat buku apa yang dipinjam karena sibuk nyiapin ini itu.

Beberapa menit kemudian di stasiun Pondok Cina, menunggu KRL menuju stasiun Juanda datang

Sambil iseng menunggu kedatangan kereta, kami larut dalam bacaan masing-masing. Ada yang ngobrol, ada yang asyik ngemil karena tadi terburu-buru belum sempat sarapan.

Sekilas saya melirik majalah yang dipinjam kawan saya tadi itu. Lagi baca yang mana sih? Tanya saya dalam hati, penasaran. Wow saya k-a-g-e-t. Pelan saya berbisik kepada kawan saya yang punya majalah,

“Ssst.. tau nggak si Aisyah pinjem majalah apa? Itu lho majalah A. Trus tau nggak dia lagi baca yang bagian mana? Rubrik paling belakang, yang ngebahas tentang penyimpangan tokoh panutan kelompoknya. Waduh, jangan-jangan abis ini dia langsung mental en gak mau ngaji lagi soalnya tokoh kesayangannya dikritik..”

“Udeh santai.. biarin aja. Biar dia banyak berpikir dan mencerna sendiri, Islam yang benar itu seperti apa.. Biar tashfiyah dulu, biar berproses secara alamiah dan ilmiah, tanpa banyak dilarang ini itu. Ecieee bahasa gue..”  sahutnya sambil nyengir.

Dasar😀

Suatu sore di selasar masjid Ukhuwah Islamiyah, UI Depok

“Mbak, temen-temenku tahu aku ngaji di sini kok malah banyak yang ngomong nggak enak ya tentang kajian ini?”  keluh Aisyah di sela-sela perbincangan kami.

“Nggak enak gimana maksudnya?”  jawab kami.

“Ya mereka bilang kajian di sini itu keras, kaku, ya pokoknya yang nggak enak lah mbak.. Dan aku bingung harus jawab gimana.”  tanyanya resah.

“Nah menurut Aisyah sendiri gimana selama ikut kajian di sini? Apa ada isi materinya yang menyimpang? Apa ada ajarannya yang menyuruh kita keras dan kaku sama orang lain?”

“Nggak ada sih mbak. Malah aku ngerasa sebaliknya. Tapi gimana ya, kadang aku terusik juga sama omongan mereka.. Huhuhu..”

“Nggak usah dijawab, yang penting Aisyah ngaji terus, banyak baca, banyak do’a.. Mohon ditunjukkan yang mana yang benar dan mana yang salah lalu minta diistiqamahkan. Fokus nuntut ilmu aja ya, nggak usah dipusingin sama hal-hal kayak gitu.. Oke?”

“Oke mbak, akan aku coba. Mudah-mudahan aku kuat..”

“Insya Allah Aisyah kuat. Semangat!”

Dan senyum itu kembali mengembang di wajahnya.

Momen itu adalah kali terakhir pertemuan kami, sebelum saya disibukkan dengan persiapan pernikahan saya beberapa minggu belakangan. Nyaris saya tak pernah mendengar kabar darinya. Ketika saya menikah pun ia tak bisa hadir karena saat itu kuliah sedang libur, dan ia tengah pulang ke kampung halamannya.

Several weeks later.. I found her drastically changed. And make me too speechless just to ask why.

Di pertemuan terakhir kami di selasar masjid sore itu, ia masih mengenakan jilbab yang lumayan pendek, penuh motif dan masih kelihatan sangat bingung.

Sedang ia yang saya jumpai di Taman Topi tadi adalah dia yang sungguh berbeda. Sosok Aisyah yang baru. Yang ceria, mantap dan penuh percaya diri dengan penampilan barunya.

Alhamdulillaahilladzi bini’mathi tatimush-shaalihat  

Ah, masya Allah.. Betapa besar kuasa-Nya. Sungguh Allah Maha Pembolak-balik Hati. Begitu cepatnya Allah membukakan hati seseorang untuk menerima kebenaran. Ia memberi hidayah kepada siapa saja yang Ia kehendaki, dan menyesatkan siapa saja yang Ia kehendaki. Kita hanya harus memohon kepadaNya, setiap saat, setiap waktu..

Tujuh tahun berlalu tanpa terasa. Dan tiap kali saya berkunjung ke taman ini, memori itu terus terkenang. Seperti sebuah film lama yang diputar ulang. Allahu Akbar, Maha Besar Allah..

~ Jakarta, Januari 2015.. untuk Aisyah di manapun berada, semoga istiqamah selalu. We miss u😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s