Berdua Menggapai Surga

image

“Dua orang yang berjalan sambil membawa beban, akan terasa ringan perjalanan mereka tersebut, sekiranya mereka habiskan dengan cerita.

Begitu pula seharusnya menggapai surga, harus ada sesuatu yang dapat menggembirakan hatinya setelah seharian fokus berjalan, harus ada pula penghibur jiwanya setelah letih beribadah.. Yang menghibur dan membahagiakannya itulah cinta.

Sungguh, membangun cinta dalam bahtera rumah tangga di atas rendah tingginya ombak, manis dan pahitnya kehidupan, jauh lebih baik dari apa yang mereka sebut dengan cinta.”

(Disalin dari Buku Buhul Cinta, Upaya Melestarikan Cinta Pasangan Suami Istri Sampai Ke Surga, Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullaah)

Kesuksesan rumah tangga yang hakiki adalah ketika pasangan suami istri memiliki kesamaan dalam niat dan tujuan. Yaitu mencari keridhaan Allah. Lalu melangkah bersama di atas jalan yang mengantarnya kepada tujuan tersebut.

Dalam sebuah pernikahan, seringkali terjadi konflik antara suami istri yang berkepanjangan. Mulai dari adu mulut karena alasan sepele, sampai terjadi pemukulan oleh salah satu pihak yang akhirnya berujung perceraian.

Wal’iyadzubillah..

Seringkali salah satu merasa perannya jauh lebih penting, sehingga meremehkan peran pasangannya.

“Apa Ibu pikir jadi suami itu gampang? Pergi pagi pulang malam, stress di tempat kerja, persaingan bisnis. Sampai rumah, rumah berantakan, makanan menunya itu-itu aja, anak-anak rewel.. eh masih direcokin ini itu yang nggak penting!”

“Oh jadi Ayah pikir jadi ibu rumah tangga itu sepele? Bangun waktu semua masih tidur, masak, nyiapin sarapan, nyuci, jemur baju, nyetrika, anter jemput anak-anak, masih harus nemenin mereka buat PR. Ngelebihin tugasnya pembantu, coba!”

“Coba Ibu sehari tukar peran sama Ayah, biar tahu susahnya cari uang!”

“Oke, siapa takut!”

Sebetulnya hal yang demikian tidak perlu terjadi jika suami dan istri saling memahami hak dan kewajiban masing-masing. Dari yang saya amati, kebanyakan konflik rumah tangga yang serius berakar pada kurang pahamnya suami istri akan posisi, hak dan kewajiban diri dan pasangannya.

Sejatinya, posisi suami dan istri sama-sama penting, tidak saling mengalahkan, tidak ada yang satu lebih penting dari yang lainnya. Tidak akan ada yang namanya istri jika tak ada suami, bukan?

Keduanya bukan untuk dipertentangkan atau diperbandingkan, mana yang lebih penting, mana yang lebih besar perannya. Akan tetapi mereka Allah pasangkan untuk saling melengkapi satu sama lain. Seperti keping-keping puzzle yang jika satu saja hilang maka tak lagi sempurna susunannya.

Istri menghormati peran suami dan meletakkan suami di posisinya sebagai qowwam atau pemimpin dalam rumah tangga. Taat dan patuh jika diperintah dalam hal yang ma’ruf. Teduh ketika dipandang, senyumnya menentramkan jiwa. Mensyukuri kebaikan suaminya, sekecil apapun bentuknya.

Suami menyayangi dan mengasihi istri sebagai partnernya dalam rumah tangga, sebagai wakil ketika dirinya sedang tidak ada. Lembut tutur katanya. Dekat dengan istri dan anaknya. Menghargai dan berterima kasih atas jasa-jasa istrinya selama mereka hidup bersama. Figur seorang ayah teladan yang membanggakan.

Suami istri yang baik adalah yang saling berusaha untuk menunaikan kewajibannya yang merupakan hak pasangannya, dengan sebaik-baiknya.

“Dalam keadaan diguncang kesulitan atau dikaruniai kesuksesan, suami dan istri merasakan ketenteraman saat berdekatan. Ketika suami datang dengan wajah kusam yang berlipat-lipat, istri memberi sambutan hangat bersemangat. Wajahnya tetap teduh dan penuh perhatian sehingga suami semakin sayang.” (Mohammad Fauzil Adhim)

Sebelum dua orang memutuskan untuk menikah, seharusnyalah mereka sudah mengerti dan memahami kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi setelah  mereka berumah tangga kelak. Setelah menikah, ladang pahala terbentang luas.

Wanita sebagai istri, dapat meraup pahala dari pekerjaan rumahnya, mengandung dan melahirkan, mendidik anak-anaknya. Ia adalah madrasah atau sekolah pertama bagi anak-anaknya. Betapa besar kedudukan istri sebagai seorang ibu, bahkan Rasulullah sendiri menegaskan betapa mulia kedudukan seorang ibu, sampai berbuat baik kepada  ibu didahulukan 3 kali daripada berbuat baik kepada bapak.

Seorang suami bisa meraup pahala dari memenuhi kewajibannya untuk memeras keringat mencari nafkah, melawan kemacetan dan memutar otak untuk menafkahi dan menghidupi keluarga. Betapa mulia peran seorang suami, betapa besar pahala yang dapat diraihnya. Bahkan sesuap makanan yang disuapkan ke mulut istrinya terhitung pahala.

“Satu dinar yang engkau belanjakan di jalan Allah, satu dinar yang engkau keluarkan untuk membebaskan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada seorang miskin dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya dari semua nafkah tersebut adalah satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (HR. Muslim No. 995)

Setelah kewajiban-kewajiban mereka terpenuhi, alangkah baiknya jika masing-masing membantu meringankan tugas pasangannya. Tanpa dipaksa atau memaksa, sesuai dengan kadar kemampuannya.

Suami ikut bantu-bantu istri dalam pekerjaan rumahnya, istri meringankan tugas suami dalam hal mencari nafkah, dengan memiliki sikap qana’ah (merasa cukup) dan tidak menuntut hal-hal di luar kesanggupan suaminya.

Mengutip nasehat seorang kawan di laman Facebook saya,

“Giving before taking. Saling give n take – bukan take n give : after you give then you will take (receive) yours.”

Sepasang suami istri idealnya saling bersinergi untuk membangun keluarga sakinah. Saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Saling meringankan, bukan saling membebani. Saling mendukung kemajuan satu sama lain, bukan saling menjadi batu sandungan.

Aku bagian darinya dan ia bagian dariku.. Aku tidak mengatakan bahwa ia adalah separuh diriku, bahkan, ia adalah seluruh diriku yang lain..

Pasangan yang baik justru kagum ketika orang yang dicintainya memiliki prinsip hidup yang kuat, mandiri, tidak terus menerus bergantung dan bersandar pada diri kekasihnya.

Pasangan yang baik akan mengizinkan orang yang dicintainya untuk bahagia menjadi diri sendiri, tanpa harus mengubah diri menjadi sosok lain seperti yang ia ingini.

Pasangan yang baik selalu bersinergi dalam mencapai tujuan-tujuan hidup mereka. Ia tidak membiarkan pasangannya terjebak dalam comfort zone, stagnan dengan segala potensi dan kelebihan yang dimilikinya. Selalu mensupport pasangannya untuk terus tumbuh, maju dan berkembang dalam menggapai segala impian dan cita-citanya.. dan bukan sebaliknya.

Saling ta’awwun ‘alal birri wa taqwa, demi mencapai tujuan utama setiap manusia. Yaitu peristirahatan terakhir yang kekal nan abadi. Dan adakah sesuatu yang lebih indah dari memasuki pintu surga bersama ia yang kita cinta?

“Kepadamu, kutuliskan di hamparan hatimu yang luas tentang cinta dan kasih sayang. Cinta yang karenanya diciptakan langit dan bumi, dipancangkan gunung dan dialirkannya sungai. Aku ingin bercerita kepadamu tentang cinta yang suci yang tidak tergores oleh maksiat dan tidak raut oleh dosa dan kesalahan. Cinta yang akan meringankan segala beban hidup dan menjadikan duniaku taman bunga yang indah..” (Buhul Cinta, Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullaah)

~ Jakarta, after some long and hectic hours.. end of January 2015

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

One thought on “Berdua Menggapai Surga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s