My Writing, My Legacy

happily ever after

“Suatu nanti, seorang anak akan membuka laman pribadi ibunya, lalu berucap “Dulu mama juga pernah galau toh, setidaknya itu membuktikan dia benar-benar manusia yang berproses dalam hidupnya.”

–Leni, yang masih menganggap menulis adalah upaya mengikat suara agar tak tertiup angin. Abadi.

Kutipan di atas saya temukan ketika membuka laman Facebook beberapa hari yang lalu. A quote I completely agree – and related with.

Truth. That is one of million reasons why I choose to write. Why I choose to eternalize me, and my memory into stacks of words.

Tidak lain, agar anak cucu saya bisa lebih dekat mengenal sosok ibu mereka.. By the way she described her world, from the paragraphs she wrote herself.

By my writings, I let them know what it was inside of me, how it was to be me. My personality, feelings, emotions, dreams, fears, passions, inner voices.

I let them know, bahwa ibu mereka.. hanya seorang manusia biasa. Yang bisa gundah dan galau juga seperti bunyi kutipan di atas.

I let them know because I want them to know.. The way that I speak, the words that I choose. I just want them to know me. The real me.

My writing, my legacy.

Saya memilih ilmu, buku dan kata-kata yang mencerahkan yang ditulis dengan tangan ini sebagai sesuatu yang akan saya wariskan kepada anak cucu saya kelak.

Saya ingin mewariskan nasehat-nasehat yang dapat selalu menjadi pengingat di kala mereka hilang arah.

Saya ingin sejenak mengajak mereka tersenyum membaca kekonyolan yang dilakukan ibu mereka ini. Iya, saya ini nggak seserius yang orang-orang kira lho ;) #wink

Saya ingin mereka mengenang saya sebagai sosok ibu pengajar sekaligus pembelajar yang penuh semangat dan selalu haus akan ilmu.

Saya ingin mereka mengerti, bahwa hidup adalah tentang perjuangan dan kekuatan untuk kembali bangkit dari keterpurukan. Bahwa untuk meraih kesuksesan butuh proses dan jalan panjang.

Saya ingin berbincang lewat kata dengan mereka, lewat sebuah jurnal harian atau blog pribadi.. After decades and hundred years or more. Timelessly. Though maybe, we never met yet.

Kebaikan dan perkataan-perkataan yang baik. Yang akan membuat manusia menjadi pribadi yang lebih baik. Yang pahalanya akan terus mengalir meski pemiliknya kelak telah tiada.

Bukan meninggalkan harta, permata, kedudukan atau kebendaan yang akan hilang ditelan waktu. Definitely no. If you know me well, that is not so me..

Karena sesungguhnya dirimu adalah fana, namun jiwa yang bersemayam dalam tulisanmu, ia abadi.

~ Jakarta, on a starry saturday night of February 2015

[ image source: Pinterest ]

2 thoughts on “My Writing, My Legacy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s