Menyederhanakan Bahagia

flower gif

“But luxury has never appealed to me, I like simple things, books, being alone, or with somebody who understands.” ― Daphne du Maurier

Inilah zaman di mana orang-orang berlomba untuk dinilai dari apa yang mereka punya, bukan dari apa yang mereka bisa, bukan lagi dari hal positif yang mereka kerjakan. Pergeseran mindset bahwa tingginya gaya hidup seseorang selalu berbanding lurus dengan kadar kebahagiaan hidupnya.

Dan socmed mengambil peran penting dalam fenomena ini. Budaya pamer dan selalu ingin jadi yang paling ‘wah’ di antara circle pertemanan membuat manusia jadi selalu ingin lebih dan lebih. Nggak mau kalah dari orang lain yang hidupnya tampak jauh lebih sempurna.

Sometimes I wonder.. Betapa lelahnya hidup dalam perangkap semacam itu. Dikelilingi jiwa-jiwa yang selalu haus akan sanjungan, popularitas dan nafsu untuk menjadi yang nomor satu. Tak pernah merasa puas dengan milik sendiri, karena selalu membandingkan diri dengan milik orang lain.

It is truth that manners and personality are contagious. You are depends on who you befriend with.

Ketika sebuah postingan yang sarat dengan kemewahan terunggah, sebagian orang mungkin menganggapnya biasa saja. Tapi kadang kita lupa, yang demikian bisa memicu timbulnya keinginan untuk memiliki hal yang sama bagi sebagian yang lain, tak peduli mereka sebenarnya sanggup memilikinya atau tidak.

Karena hampir setiap saat dijejali berbagai kemewahan di timeline socmed, sebagian ada yang memilih untuk mengambil jalan pintas. Ingin memiliki materi dengan cara instan. Akhirnya lahirlah generasi-generasi hedonis yang tak peduli akan halal haram. Apapun mereka lakukan asal mereka senang, bahagia, nafsu duniawinya terpuaskan. Bodo amat deh caranya gimana.

This is surely one thing we must afraid, and aware of.

Alhamdulillah sejak kecil, orangtua selalu mendidik saya bahwa uang dan limpahan materi bukanlah standar bahagia. Membiasakan saya agar hidup sederhana, apapun keadaannya. Karena sederhana bukan masalah mampu beli atau tidak, bukan juga tentang kadar kemampuan finansial. Sederhana.. adalah gaya hidup.

Pesan ibuk saya waktu kami masih kecil kecil dulu,

“Sederhana itu bukan masalah punya duit atau nggak punya duit. Sederhana itu gaya hidup. Kadang orang bayar mahal bukan karena makanan yang dia makan atau baju yang dia pakai, tapi karena gengsinya. Karena nggak mau kalah sama punya orang. Bukan hidup kita yang mahal, tapi gaya hidup kita yang mahal. Nggak papa makan sederhana, apa adanya, yang penting hidup tentram, hati tenang, jauh dari hutang..”

Bahagia itu sederhana, ketika kita bersyukur dan merasa cukup dengan apa yang kita punya, bukan dengan apa yang kita inginkan.

“Ya Allah, letakkanlah dunia di tanganku.. Tapi jangan letakkan ia di hatiku.”

~ Jakarta, early morning of April 2015.. I wrote this to me.

[ image source: Tumblr ]

14 thoughts on “Menyederhanakan Bahagia

  1. assalamu’alaikum mbak.. mbak aku suka baca tulisan mbak..
    aku follow mbak juga di instagram, add aku dong mbak.. hehe
    @hanicksyafrina ig nya mbak.
    aku mau kenalan nih sm mbak. pengen nanya2 juga.. klw boleh..

  2. MasyaaAllah keren banget tulisannya… kagum dengan pemikirannya terlebih bisa tertuang dalam kata-kata yang indah sarat makna, salam kenal mba mutia… saya ita ^_^

  3. Pingback: Menyederhanakan Bahagia | ITA HUDAWATI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s