I Dress to Impress Allah, Not People

image

  • Fulanah: “Wah, nggak biasanya nih mbak pake jilbab panjang kayak gini. Bajunya juga lebar. Alhamdulillah.. Seneng deh lihatnya. “
  • Temennya Fulanah: “Hehehe.. Soalnya lagi trend hijab syar’i nih. Cakep2 lagi warnanya. Jadi makin caem kan?”
  • Fulanah: “Wah, pakainya jangan karena lagi trend.. Nanti kalo udah nggak ngetrend lagi, nggak pake lagi dong. Hehe…”
  • Temennya Fulanah: “Ah ya enggak gitu juga sih. Hehehe. Mudah-mudahan bisa seterusnya begini. Do’ain ya mbak..”
  • Fulanah: “Aamiin. Semoga istiqamah ya mbak..”

Dialog barusan nyata terjadi antara teman saya dan temannya teman saya. Eh, nggak bingung kan?😀

Mendengar cerita teman tadi, jadi tergelitik untuk menilik kembali niat saya dalam berhijab syar’i. Hendaknya bukan karena ikut-ikutan orang atau karena trend yang lagi booming. Bukan pula supaya terlihat lebih cantik dalam balutan hijab syar’i.

Dear muslimah, go ask your inner heart, “Why do I wear this stuff? To please Allah, or please human?”

If you wear it to please and impress people, it won’t last. Seiring bergantinya arus mode maka penampilanmu akan turut berubah.

Sedikit flashback..

Saya ingat betul, awal-awal join di Twitter sekitar 4-5 tahun yang lalu, kami: saya dan kawan-kawan gencar sekali berdakwah via Twitter mengkampanyekan hijab syar’i.

Waktu itu hijab syar’i masih identik dengan kata: gelap, lebar, longgar. Jauh dari kesan cantik dan glamor. Saya ingat betul itu zaman-zamannya trend hijabers gaul dengan warna-warna pelanginya yang lagi ngehits abis. Secara nggak langsung kami seperti head to head dengan komunitas trend hijab tersebut. Syar’i vs Gaul :D

Mungkin ada beberapa tweeps yang masih ingat, ada seorang akhwat yang dibully habis-habisan karena postingannya mengkritisi trend tersebut. Padahal yang ngerasa tersinggung nggak dimention juga. Karena postingan itu lewat di TL nya jadilah rame.

Sampai akhirnya si akhwat nangis-nangis karena nggak kuat, trus akunnya disetting private. Ehehehe. Seru deh, masya Allah perjuangan mereka tuh. Barakallaahu fiikunna :’)

Waktu berlalu, zaman berganti, trend ikut berubah.

Saat ini sedang booming yang namanya trend #HijabSyar’i. Busana panjang, longgar, menutup secara sempurna. Tapi…. Ada tapinya. Busana yang diklaim syar’i tersebut, yang harusnya menutupi kecantikan, justru membuat pemakainya terlihat jauh lebih cantik.

Apa pasal?

Warna-warni yang mencolok mata, jenis bahannya yang membentuk tubuh, model busananya yang serba tumpuk dengan renda dan bordir yang eye-catching, juga diperagakan oleh perempuan dengan paras menawan dan bahasa tubuh menggoda meski terlihat cool.

No, it is not cool. It is not syar’i, either. It is something what-so-called syar’i nowadays but definitely, it’s not.

Sedih. Iya, saya sedih. Entah apa yang dirasakan teman-teman saya yang dulu sama-sama gencar menyuarakan dan mengkampanyekan hijab syar’i against hijab gaul di Twitter, sama dengan apa yang saya rasakan.

Bukan ini hijab syar’i yang kami maksudkan. Bukan ini hijab syar’i yang Allah dan Rasul perintahkan. Bukan ini hijab syar’i yang dicontohkan oleh Ummahatul Mu’minin dan para Shahabiyah berabad-abad lalu.

Please..  Jangan tempeli busana yang penuh dengan nuansa tabarruj itu dengan embel-embel syar’i. Kami tidak rela. Allah dan Rasulnya tidak rela.

Definisi cantik memang relatif. Apalagi, fitrah wanita itu sendiri memang sudah cantik dan menarik dari sananya. Oleh karenanya, Allah menyuruh para wanita untuk menutupi kecantikannya dengan hijab.

Dan gagal paham itu adalah ketika sesuatu yang cantik itu ditutupi, namun penutupnya dihias-hiasi sehingga ia malah tampak jauh lebih cantik dari sebelumnya.

Sedang satu di antara syarat busana muslimah adalah: Busana tersebut bukan merupakan PERHIASAN. Sila tengok pembahasannya secara menyeluruh dalam kitab Jilbab Wanita Muslimah karya Syaikh al Albani Rahimahullah.

Pakailah pakaian yang syar’i, nyaman dan sederhana. Jauhkan diri dari berlebihan dalam berpakaian. Sampai semua model dan warna terus diburu. Apa bedanya dengan para hamba fashion dan budak mode? Yang selalu tergoda dengan model terbaru dan tak mau ketinggalan trend terkini.

Terus luruskan niat. Karena niat adalah satu hal yang harus terus kita evaluasi, karena sifatnya yang sering berubah-ubah. Ingat selalu, satu di antara dua syarat diterimanya amal adalah IKHLAS lillaahi Ta’ala.

Sederhanakanlah..Jangan sampai yang memandang kita terfitnah karena sesuatu yang kita kenakan, yang fungsinya selain menutupi, tapi juga malah mempercantik penampilan kita.

Karena kecantikan sejati itu adalah tunduk patuh berserah diri, sami’na wa atha’na pada perintah Allah dan RasulNya, meski perintah itu menyelisihi hawa nafsu dan kecenderungan hatinya.

Mengutip perkataan seorang kawan di Twitter dulu,

“Betul setiap orang pasti berproses. Perlu waktu melewati proses menuju kesempurnaan, tidak langsung instan. Tapi proses adalah perubahan dari yang tadinya tidak tahu lalu menjadi tahu. Bukan berlindung di balik kata ‘proses’ untuk terus menerus berkubang dalam dosa dan kesalahan yang sama.”

Dress to impress Allah. People are never satisfied but Allah is always willing to bless you.

I dress to impress no man, I dress to impress the Ar Rahman.

~ Jakarta, middle of May 2015. A simple reminder for myself.

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Tumblr ]

20 thoughts on “I Dress to Impress Allah, Not People

  1. Assalamu’alaikum, mbak,
    salam kenal. Saya suka kutipan ini:
    “Betul setiap orang pasti berproses. Perlu waktu melalui proses menuju kesempurnaan, tidak langsung instan. Tapi proses adalah perubahan dari yang tadinya tidak tahu lalu menjadi tahu. Bukan berlindung di bawah kata ‘proses’ untuk terus menerus berkubang dalam dosa dan kesalahan yang sama.”

  2. Reblogged this on =TAPAK PELAJAR= and commented:
    Bismillah, izin reblog yah mbak,
    Masya Allah ini sejalan banget sama pemahaman aku tentang hijab Syar’i🙂 dan soal pakaian itu memang termasuk hal yang prinsipil banget juga.
    suka banget sama tulisan ini..😀

  3. Pingback: I Dress to Impress Allah, Not People | Cahaya Nur

  4. Reblogged this on Cahaya Nur and commented:
    Disaat yang lain sibuk pilih pilah warna motif dan gaya baju, hijab, celana atau pakaian yang akan mereka gunakan. Disaat itu saya sedang berusaha keras istiqamah berpakaian untuk mendapat ridhoNya.

    Ya.. ilmu agama itu wajib dituntut, jangan dibiarkan tidak tahu karena tidak mencari tau.

  5. punten mba, sudah lama follow tapi baru mampir.. sebenarnya saya penasaran sekali tentang hal ini, mba mengatakan pakaian nya berwarna gelap, yang ingin saya tanyakan, detailnya apakah gelap ini berarti hitam? atau harus kehitam hitaman?, adakah dalil nya yg mengharuskan warna tersebut atau melarang yang selain nya? apakah jika tidak demikian (gelap), lalu serta merta disebut memamerkan perhiasan? karena tidak gelap artinya terlihat menarik ? bagaimana dengan pertimbangan urf? menarik menurut kebiasaan suatu kaum tetapi tidak menarik/biasa saja menurut kaum yang lain..

  6. Reblogged this on emine shares and commented:
    “Betul setiap orang pasti berproses. Perlu waktu melewati proses menuju kesempurnaan, tidak langsung instan. Tapi proses adalah perubahan dari yang tadinya tidak tahu lalu menjadi tahu. Bukan berlindung di balik kata ‘proses’ untuk terus menerus berkubang dalam dosa dan kesalahan yang sama.”

    Saya suka kutipan di atas. Dan tentu isi pesannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s