Sincerity

image

Suddenly this night, something cast my mind back to a conversation between me and someone I know a couple years ago.

Waktu itu, saya baru saja bergabung di sebuah komunitas pertemanan di salah satu universitas negeri ternama di Jakarta. Di sebuah kesempatan, seorang kawan yang mengenalkan saya dengan komunitas tersebut secara tak terduga berkata seperti ini kepada saya,

“Walau kampus ini terkenal bagus, tapi nggak semua yang kuliah di sini termasuk pinter, lho. Paling cuma beberapa orang (dalam komunitas tsb) yang aku tahu bener-bener pintar dan cerdas. Lainnya ya biasa aja deh..”.

Well, her words really surprised me. I know she is a smart and intelligent girl, but why she said that? I mean, why should despise others? Bukankah kadar dan jenis kecerdasan tiap orang memang berbeda?

Ada yang secara akademik mungkin below average atau di bawah rata-rata, tapi ia talented dan cakap dalam skill lainnya. Misalnya kreatif menciptakan hal-hal baru, supel dalam bergaul dan pandai berorganisasi. Atau mungkin, ada yang dasarnya memang smart tapi lebih memilih keep humble and low profile. Kecerdasannya tersembunyi dalam tutur katanya yang merendah dan sederhana.

That time, I kept silent. I was just a newcomer around the corner who only knows a little. So I better keep quiet, but stay alert. Hahaha.

But honestly my mind keep telling me that time,

“But why? Saya nggak butuh seseorang dengan IPK sekian, lulus dengan predikat cumlaude atau titel yang membanggakan, untuk menjalin pertemanan yang tulus tanpa tendensi, kok. I just need someone who sincerely good at heart, love and accept me just the way I am, and vice versa.”

Lately, I used to know a girl from that community, a very good girl who became my bestfriend ever since, until now. Sejak pertemuan secara tak sengaja untuk pertama kali di suatu pagi, kami sudah merasa cocok satu sama lain. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk akrab. Mungkin karena adanya chemistry yang nyambung di antara kami. Klik.

Maybe she was not the brightest star, nor that popular, but I know she has a sincere heart. I can feel the warmth everytime we got close to each other. I feel so comfy when we talked around the corners, hung out or being stupid together. I just feel that I am someone else when I am with her, someone more like myself.

Ketulusan. Sesuatu yang sulit ditemukan di zaman seperti sekarang ini. Ketika banyak yang mendekati kita karena ada maunya dan ada apanya, tapi seseorang yang tulus akan mencintai kita apa adanya. Tanpa ada sesuatu di balik semua perhatian dan kata manisnya.

Pun begitu ketika bertahun yang lalu saya mencari sosok pasangan hidup. Kriteria saya kala itu bukan karena parasnya, titelnya, silsilah keluarganya, profesinya, keunggulan materinya atau bahkan nominal gajinya. Nope. Bukan itu yang saya cari dari seorang laki-laki. Bukan itu semua yang utama dan terpenting bagi saya.

I was looking for someone who fears his Creator, so I can feel safe inside. Someone who is sincerely loving me. Someone who fits me in like a piece of puzzle and vice versa. Seseorang yang bersedia menerima saya sepaket dengan masa lalu saya, keluarga saya dan segala kompleksitas dalam hidup saya, kini dan nanti. Sepenuhnya, setulusnya. Unconditionally, but for the sake of Allah only.

Karena prinsip saya ketika itu, jika seseorang tidak bisa menerima apa adanya saya sedari awal, maka akan sulit baginya untuk menerima saya di kemudian hari. So I better say NO today, before it’s too late another day.

For some cases, first impression matters to me. And the one that I finally chose to be my lifemate, has succesfully won my heart from the very first day we met. Alhamdulillah. #uhuk

So this night I ponder (again).. Yes, maybe today we may have everything we wish for our entire life. Fancy cars, goodlooking spouse, lovely homes, amazing career, branded stuffs, adorable kids, jetset society and so on. But how if our hearts are empty because we soon realize that we are loved only for the things that they could get from us and not for who we really are..

Some lines from the past crossed my mind back then,

“If there’s nothing missing in my life.. Then why do these tears come at night?”

Mungkin kita memiliki hidup yang nyaris sempurna, tapi apa artinya ketika kita tidak dicintai dengan setulusnya?

Ketika kita dicintai semata karena alasan-alasan yang sifatnya fana dan serba sementara..

Ketika kita dicintai tanpa ketulusan, melainkan karena sesuatu yang mereka harapkan dari diri kita..

Ketika kita dicintai, bukan murni karena apa adanya diri ini..

Jangan dulu berbangga hati ketika kita dicintai tersebab materi, popularitas, keindahan ragawi atau jabatan yang tinggi.. Bukankah tidak ada yang abadi di dunia ini? Nothing lasts forever. As time goes by, everything will fade away.

Beruntunglah mereka yang dicintai karena kedalaman agamanya, kemuliaan akhlak dan budi pekertinya. Yang dicintai tanpa pamrih. Dengan setulusnya, sepenuhnya.

Yang tidaklah mereka dicintai, melainkan karena diri mereka seutuhnya, bukan karena hal-hal duniawi yang melekat pada diri mereka. Dicintai dan mencintai karena Allah Ta’ala saja.

“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. At Tirmidzi)

Maka sandarkanlah kecintaan dan kekaguman kita berlandaskan iman dan amal shalih. Letakkanlah kesetiaan dan loyalitas kita karena Allah Ta’ala. Sebagaimana Allah memandang seseorang, maka demikian hendaknya kita memperlakukannya.

Karena cinta yang paling tulus dan paling murni adalah cinta karena Allah Ta’ala. Bukan karena jabatan, harta, gelar, kedudukan, kerupawanan atau perihal dunia lainnya.

Pilihlah seseorang untuk dicintai karena dien dan kemuliaan akhlaknya. Sebab kelak ketika ia mencintai kita, ia akan terus memuliakan kita, dan ketika karena suatu alasan cintanya hilang atau berkurang, ia tetap memuliakan dan tidak akan menzhalimi kita. Pilihlah karena agamanya.

Dan semurni-murninya, setulus-tulusnya, seikhlas-ikhlasnya cinta adalah cinta tersebab Allah Ta’ala saja dan bukan selainnya. Ikatan yang tak lekang oleh waktu, kekal abadi hingga ke jannahNya.

“Di antara kecintaan terhadap sesama muslim ada yang disebut mahabbatun linaili gharadlin minal mahbud, yaitu suatu kecintaan untuk mencapai tujuan dari yang dicintainya, bisa jadi tujuan yang ingin ia dapatkan dari kedudukan orang tersebut, atau hartanya, atau ingin mendapatkan manfaat berupa ilmu dan bimbingan orang tersebut, atau untuk tujuan tertentu.

Maka yang demikian itu disebut kecintaan karena tendensi, atau karena ada tujuan yang ingin dicapai, kemudian kecintaan ini akan lenyap pula seiring dengan lenyapnya tujuan tadi. Karena sesungguhnya, siapa saja yang mencintaimu dikarenakan adanya suatu keperluan, maka ia akan berpaling darimu jika telah tercapai keinginannya”.

(Ibn Qayyim – Rahimahullah dalam kitab Zaadul Ma’ad juz ke-4 hal. 249)

~ Jakarta, almost midnite in the end of May 2015.. Yes, I’m so glad it was you :’)

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Line Deco ]

3 thoughts on “Sincerity

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s