[Throwback] Family Trip to Malang & Surabaya ~ 2011

 sunrise at pantura jawa

Ramadhan hari ke-28 alias H-2 Lebaran..

Status dan twit #edisimudik  mulai berseliweran di timeline. Alhamdulillah, tahun ini jatahnya saya menghabiskan Lebaran di Jekardah bersama keluarga tercinta insya Allah. Dan Lebaran kali ini saya mendapat kehormatan sebagai tuan rumah dimana keluarga besar kami biasa ngumpul. Heheheu. Can’t wait!

Tradisi keluarga kami, tiap tahun berganti-gantian, tahun ini Lebaran di Jakarta, tahun depan di kampung halaman suami di Cirebon. Begitu seterusnya. Biar semua keluarga bisa kebagian berlebaran bersama kami.. Heheheu..  #sokseleb

Nah, tahun depan baru deh insya Allah mudik ke Cirebon. Itu juga naik kereta ekspress yang cukup 3 jam sampai, jadi ga kena macet sampai berjam-jam, alhamdulillah. Gak kebayang kalo harus stuck dalam kendaraan dalam waktu yang lama dengan membawa rombongan anak yang modelnya pecicilan kayak anak-anak saya inih.. #LambaikanTanganKeKamera

Menyimak berita tentang jalur-jalur strategis yang mulai padat serta info mudik terkini, jadi inget waktu mudik ke Malang tahun 2011 kemaren. Waktu itu kami ikut acara mudik gratis yang diselenggarakan oleh sebuah produsen ban ternama. Udah tiketnya gratis, dapet amplop isi uang tiap seat @100rb plus dapet dinner box dari D’Cost. Wuih asyiknyooo ^^

Waktu itu kami berangkat sekitar H-5 Lebaran kalo nggak salah, jadi belum terlalu padat. Kumpul di pusat perbelanjaan Thamrin City jam 7 pagi dan berangkat menjelang Zuhur. Lumayan, bisa ngemol dulu sebelum mudik😄

Alhamdulillah tol Cikampek lancar jaya.. Paling agak sedikit macet di pintu tol. Masuk Indramayu, jalur Pantura Jawa Barat menuju Cirebon mulai padat. Akhirnya pak sopir mengambil jalan alternatif yang alhamdulillah cukup lengang.

Kami sampai di Tegal pas banget ketika adzan Maghrib. Rombongan berbuka di dalam bus dengan semangat. Yaiyalah, menunya ala ala Japanese food yang endeuss banget. Hratiz lagi. Gimana gak semangat coba?😀

Pemberhentian selanjutnya di daerah pantura Jawa Tengah. Kami bergegas turun untuk shalat, makan (lagi) dan ke kamar kecil. Waktu itu kami membeli beberapa cup Pop Mie untuk menghangatkan tubuh. Nggak tau waktu itu Pop Mie kok rasanya enakkk banget yak. Padahal kalo lagi nggak mudik perasaan biasa aja deh.

Saking terkesannya, sekarang kalo liat Pop Mie tuh bawaannya inget pas waktu mudik kemaren. Memorable banget😀

Setelah urusan amunisi perut, cuci mencuci dan shalat selesai, kami melanjutkan perjuangan. Malang masih jauh, Jendral!

Kalau nggak salah inget, menjelang tengah malam bus memasuki wilayah hutan jati Alas Roban. Wilayah yang terkenal angker dan berbahaya karena katanya banyak begal dan rampok. Juga jalanan yang rusak dan berkelok-kelok hingga sering terjadi kecelakaan lalu lintas. Abi (ayah saya) berpesan supaya lisan kami tidak lepas berdzikir ketika melewati wilayah itu.

Alhamdulillah nggak ada kejadian apa-apa, biidznillah. Karena kami melintasinya pada malam hari, jadi nggak keliatan apa-apa, gelap dan sepi. Tapi terasa kok nuansa creepy-nya. Kelihatan sekali pak supir berusaha mengendarai bus dengan lebih perlahan dan hati-hati. Akhirnya saya tahu juga yang namanya Alas Roban. Soalnya biasanya mudik ke Malang naik kereta. Baru pertama kali ini naik bus.

Perjalanan dilanjutkan menuju Demak, Kudus, Pati dan Rembang. Inilah momen mudik yang sangat membekas di ingatan. Karena kami bisa menyaksikan sunrise alias matahari terbit tepat dari ujung lautan.

Mengamati sunset di laut sudah biasa, tapi sunrise di laut, merupakan pengalaman baru bagi saya. It’s like chasing sunrise. Love it!

Maha Besar Allah dengan segala keindahan ciptaanNya 

Menjelang Subuh, kami berhenti di satu resto di pinggir laut untuk menyantap makan sahur. Setelah kenyang, kami berfoto-foto ria dengan background laut utara pulau Jawa yang masih biru dan jernih. Angin laut terasa sejuk menerpa wajah dan punggung tangan. Anak-anak berlarian di pinggir pantai sambil menunggu seluruh rombongan siap berangkat melanjutkan perjalanan.

Masya Allah.. Sejenak terlintas, jika dunia yang hanya bagaikan setetes air ini begitu indahnya, betapa menakjubkannya surga yang diibaratkan lautan yang luas?

Kami kembali melanjutkan perjalanan menuju jalur Pantura Jawa Timur. Hari sudah mulai pagi. Banyak penumpang yang sudah terlelap di bangku masing-masing. Anak-anak terlelap dengan sukses di pangkuan abahnya. Saya sengaja tidak tidur. Ingin menikmati pemandangan dari balik jendela sepuas-puasnya. Hehehe.

Kami sempat berhenti di terminal Purabaya, Surabaya, sesaat menjelang waktu Zuhur. Wes tekan Suroboyo, rek! Dinginnya Malang bagaikan melambai-lambai menghibur jiwa-jiwa kami yang sudah mulai lowbatt😀

Alhamdulilaah, jam 1.30 siang kami sampai di terminal Arjosari, Malang. Wah sejuknyaaa.. Hawanya udah berasa kayak di Puncak nih. Semilir syahdu gimanaaa gitu. Jam 2 siang tepat kami sudah mendarat dengan selamat di rumah Mbah.

Besoknya, kami langsung diajak berwisata ke Wendit Waterboom, pemandian favorit jaman saya kecil dulu yang terkenal banyak monyetnya. Dilanjutkan ke Tirta Nirwana Songgoriti di daerah Batu, jalan-jalan ke Jembatan Suramadu, mampir sejenak di Kebun Teh Lawang yang superrrr adem. Juga tak lupa mencicipi kuliner khas Surabaya ketika kami berkunjung ke rumah paklik di sana sehari sebelum balik ke Jakarta.

-aa feet_001

Ah, masya Allah. What a trip! Baru kali ini keluarga kecil saya berkunjung ke Malang setelah kami menikah. Waktu itu Harits baru berusia 3 tahun, Aisyafra baru 1 tahun, Fiqar belum tercipta😀

Meski mudik jarak jauh dengan membawa anak kecil dan koper dengan muatan segambreng, alhamdulillah nggak terasa repot tuh. Anak-anak kelihatan happy dan excited banget diajak naik bus meski memakan waktu lebih dari satu hari.

Tapi.. Dulu si gembil Aisyafra masih anteng, kalem dan unyu-unyu. Sekarang? Mana bisa diem, kalo jalan bareng bawaanya pengen kabur melulu, hobinya ngilang. Naik kereta ekspress dari Cirebon ke Jakarta aja udah nggak betah duduk anteng, maunya jalan-jalan terus di koridor. Kasian abahnya bolak balik nganter mereka ke toilet. Iya, soalnya ke toilet adalah alasan mereka supaya bisa bolak balik turun :p

Meski memakan waktu seharian, naik bus menuju kampuang halaman nan jauah di mato terasa begitu menyenangkan. Banyak cerita lucu dan membekas selama perjalanan. Intinya mah, seru deh! Biar capek tapi happy. Worth it banget lah sama sukacitanya ketemu dan ngumpul dengan keluarga besar. Plus kesempatan nyicipin kuliner Jawa Timuran yang tiada duanya. Nomnom.

Kapan ya mudik lagi ke Malang? Sabar.. Nunggu si celengan ayam jago ngasih lampu ijo dulu nih. Hahahaha. Soalnya kalau ke Malang mesti banyak amunisinya. Banyak spot-spot keren dan barang-barang bagus yang sayang banget kalo dilewatkan.

Hamasah! Semoga tahun depan Allah mudahkan! ^^

~ Jakarta, ditulis menjelang sahur di hari keduapuluhdelapan Ramadhan…

© aisyafra.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s