Better Safe Than Sorry

image

Hundreds follow and friend requests on Facebook and Instagram. Thank you thank you thank you. Terima kasih atas permintaan pertemanannya, ya🙂

Tapi mohon maaf sekali, belakangan ini saya hanya menerima pertemanan dengan akun orang yang saya kenal baik, di dunia maya maupun nyata. At least, saya tahu bahwa mereka itu ada, nyata dan bukan rekaan saja. Minimal, ada teman (yang saya kenal baik) yang pernah bertemu dengan mereka.

Kejadian demi kejadian belakangan ini makin menyadarkan saya, bahwa selektif dalam berteman itu penting. Sangat penting. Terlebih lagi di dunia maya seperti ini.

A place where you could be anyone or anything you want to be. A place who people put their trust on someone, without even meet the person they rely on.

That’s why I lock my socmed accounts. Why I am too picky to accept friend requests or share something personal. Why the detail of my private life is exclusively hidden from cyber society. The reason is, karena terlalu banyak orang-orang sakit jiwa berkeliaran di dunia maya.

Dan kita, setiap saat membagikan informasi rutinitas harian kita, apa yang kita rasakan, orang-orang yang kita cintai, tempat-tempat yang kita kunjungi di tengah-tengah sekumpulan orang asing, yang bahkan kita tidak pernah tahu siapa aslinya mereka.

Apakah mereka benar-benar nyata atau hanya fiktif belaka.

Apakah mereka memang benar waras atau gila.

Apakah mereka menghendaki kebaikan bagi kita atau malah sebaliknya.

We never know the difference. And to Allah we seek guidance and protection.

I Iearn to admire this unique way of thinking from my introvert sister, Dina. I asked why she rarely posts on Facebook, why she locks most of her photos, why she only picks small numbers of people to be her friends on cyberlife.

Then one day she told me why,

“FB dan IG emang sengaja aku private. Aku nggak sembarangan nerima pertemanan dari orang yang nggak aku kenal. Kalau ada yang nge-add, pasti aku lihat mutual friendnya siapa aja. Kalau mutualnya orang yang bisa aku percaya, mungkin akan aku pertimbangkan lagi perlu diaccept apa enggak. Tapi kalau nggak ada mutual friendnya, biasanya langsung aku ignore.”

“Kasian deh yang mau kepoin aku. Udah jarang posting, dikunci pula. Hohoho..”

Satu hal lagi yang tak kalah penting, saya hanya mencukupkan pertemanan di Facebook dengan sesama perempuan saja. Jadi no confirm ikhwan ajnabi ya, bro.. sis.. Yang friendlistnya udah perempuan semua aja, masih ada ikhwan jadi-jadian yang nyamar jadi akhwat.

Trus nginbox-in akhwat-akhwat. Genit, tebar pesona, nyepik-nyepik manis. Gimana kalo campur-campur? Bisa komentar di postingan kita, bisa ngepoin hidup kita, bisa ngajak chat kita sesukanya. Serem kan? Jalan terakhir kalau udah gitu ya remove dan block, beres. Bye.

Tapi, darimana kita tahu mana ikhwan yang baik dan mana yang abal-abal. Contohnya yang masih fresh kemarin aja. Semua yang ngintip profil dan timelinenya, nggak bakal percaya kalau orang dengan akun serapi itu bisa melakukan perbuatan keji seperti yang saya paparkan dalam postingan sebelum ini. It brings me goosebumps everytime I think about it.

Yep. Too much things happens recently. So I think, better safe than sorry🙂

~ Jakarta, 18 Agustus 2015.. di sela-sela kesibukan mengurus rumah dan printilannya.

[ image source: Pinterest ]

9 thoughts on “Better Safe Than Sorry

  1. Saya akhawat tulen kok mba.. Tapi ya udah, kenalannya di sini aja. Ga usah ke fb dan segala macam itu. Jarang dibuka juga kecuali buat jualan atau hal khusus😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s