Courage

image

Pekan ini adalah pekan yang cukup hectic bagi sebagian orang tua (baca: ibu-ibu) karena pekan ini adalah pekan UTS aka Ujian Tengah Semester. Haiyaaa.. semua waktu luang otomatis tersita untuk mendampingi anak-anak belajar. Termasuk saya. Anaknya yang ujian, emaknya yang heboh. Heheheu..

Hari ini sepulang sekolah, Harits membawa hasil ulangan harian beberapa pekan yang lalu. Alhamdulilah, hasilnya bagus dan tidak mengecewakan. Masya Allah, barakallaahu fiik, abang.. Nggak boleh sombong ya walau nilainya bagus. Inga’.. inga’.. ting!

Sebelum UTS dimulai, saya sering berdiskusi santai dengan Harits, menekankan bahwa nilai bukan yang utama dalam belajar. Usaha yang gigih disertai kejujuran dan do’a, sudah cukup. Tinggal bertawakkal akan hasilnya kepada Allah..

“Ummi lebih suka Harits nilainya apa adanya, dibanding nilai bagus tapi hasil nyontek teman. Jangan nyontek ya bang, biarpun hasilnya jelek atau pas-pasan, itu adalah nilai Harits sendiri. Ummi suka Harits yang jujur, bukan Harits yang nilainya selalu bagus tapi hasil nyontek. Oke, bang?” pesan saya sambil mengacak rambutnya.

“Iya, mi..” jawabnya sambil nyengir.

“Tapi kalo Harits dicurangi teman, atau disalahkan oleh guru padahal Harits benar, harus berani protes ya. Jangan diem aja. Atau nggak, Harits cerita ya ke Ummi..”

The courage to speak the truth. Berani mengungkapkan kebenaran dan teguh memperjuangkannya. Satu hal yang nggak semua orang mau, dan mampu. Mungkin tergantung tipe karakter tiap orang, juga bagaimana nilai-nilai dalam lingkungan di mana seseorang itu dibesarkan.

Sejenak saya throwback ke masa 20 tahun yang lalu, tepat saat duduk di bangku SMP kelas satu. Waktu itu hasil ulangan Bahasa Inggris dibagikan dan saya mendapat nilai 8 koma sekian. Soal diperiksa dan dinilai langsung oleh guru, untuk kemudian hasilnya dibagikan melalui ketua kelas setelah pelajaran berakhir.

Iseng-iseng, saya total kembali jumlah soal yang salah dan yang benar. Ternyata ada sedikit salah hitung, yang harusnya betul dicoret sehingga dihitung salah. Kemudian saya hitung-hitung kembali dan mencocokkan dengan soal teman. Iya, ternyata ada sedikit kesalahan.

Maju-mundur.. Protes nggak ya? Jangan-jangan malah saya yang salah. Bukan nilainya sih yang terpenting, cuma saya nggak biasa aja ngeliat ada sesuatu yang salah dan tidak pada tempatnya.

Dag dig dug. Di depan kantor guru saya bimbang lagi. Masuk.. enggak.. masuk.. enggak. Dududu. Udah kayak mau ngelamar, eh dilamar :p

Bismillaah.. Akhirnya saya memberanikan diri untuk menemui Pak Hilman, guru Bahasa Inggris saya kala itu. Saya diterima dengan sangat baik oleh beliau. Kurang lebih, seperti ini percakapan kami waktu itu.

“Ada apa, Mutia? Silahkan duduk..” tanya beliau dengan lembut.

Beliau ini memang terkenal guru yang sangat sopan dan well-mannered.

“Begini Pak..” Lalu saya jelaskan alasan saya menemui beliau sampai tuntas.

“Oh begitu. Sebentar, saya periksa ya kertasnya. Mutia duduk saja dulu.”

“Baik, Pak..”

Tik tok tik tok. Menit-menit berlalu..

“Iya, Mutia. Kamu betul.. Saya yang salah hitung. Maaf ya.. Nanti akan saya perbaiki di buku nilai.”

“Iya, Pak..”

“Ngomong-ngomong, sepertinya Mutia tertarik dengan pelajaran Bahasa Inggris. Are you?” selidik beliau sambil tersenyum.

“Hehe, iya Pak. Saya suka belajar ilmu bahasa. Dulu di SD saya ada mata pelajaran Bahasa Arab. Saya suka juga..” I replied shyly.

“Hmm, saya suka anak yang suka belajar sekaligus berani seperti Mutia ini. Berani protes ketika ada sesuatu yang salah. Semangat terus ya. Saya yakin kamu bisa jadi apa yang kamu mau nanti, jika giat belajar dengan tekun. You can do better, I believe”. He smiled again.

I was too awkward to answer properly, “Yes, Sir. Thank you very much. Terima kasih banyak. Saya izin kembali ke kelas ya, Pak..”

“You are very welcome, Mutia..”  he smiled for the very last time.

Ah.. Suddenly I felt like flying in the air. Like I’ve let go the heaviest burden. The result is too unexpected. 20 years has passed and that conversation still stick on my mind until today. Yes, because it was too memorable to forget🙂

Mr. Hilman was a very warm and friendly person. Most of kids loved him. He encouraged us to love learning English more and more. I admire the way he taught us, no more boring and sleepy hours. He successfully created the atmosphere of fun in class. Sayangnya beliau hanya mengajar kelas kami setahun saja, karena kelas dua kami dipegang oleh guru lain.

The power of encouragement is real. It is like a huge amount of fuel when your spirit run out of gas. Terlebih lagi, encouragement itu datangnya dari sosok yang kita segani dan kagumi. That small kindness, means a lot. Ketika saya memprotes kesalahan yang dibuatnya, beliau dengan besar hati mengakui, bahkan memuji keberanian orang yang mengkritiknya.

Tidak semua guru seperti beliau. Tidak semua guru legowo mau mengakui kesalahan dan meminta maaf. Terlebih kepada orang yang kedudukannya ada di bawahnya, yaitu anak didiknya. It takes a special person with a big heart to do an honorable act like that. May Allah bless your soul, my dear teacher. Wherever you are now.

Courage. Since I was a kid, my parents always tell me to have courage to speak the truth. Dare to be on the right path, and never ever give up, they said.

Maka jadilah saya tumbuh sebagai pribadi yang vokal dan kritis, sekaligus skeptis. I like asking questions. Sometimes, I do a little research of something I curious the most. I love to find answers. And critical thinking is completely a gift for me.

Saya sendiri termasuk tipe orang yang gerah melihat ketidakadilan. Paling nggak betah menyaksikan kezhaliman dan penindasan antara satu manusia dengan manusia lainnya.

We have the rights to be equal. We have the rights to speak out our minds. We have the rights to be right and fight for it.

Jangan pernah takut menyuarakan kebenaran, jangan pernah gentar melawan kebathilan. Takut hanya kepada Allah, dan bukan kepada manusia. Takut hanya ketika salah, bukan ketika benar dan berusaha memperjuangkannya.

Never let anyone think they can silence you for speaking the truth. Be brave, be strong. Be a fighter.

Tell the truth..

Walau mungkin orang-orang tidak suka.

Walau mungkin akan ada yang tersakiti.

Walau mungkin kita akan dijauhi, dibenci dan dicaci.

Because life isn’t about pleasing everybody. Allah alone is enough for me.

“Kita berlindung kepada Allah dari jiwa yang lemah untuk menyampaikan kebenaran, dari hati yang bungkam untuk mencegah kejahatan.” (Salim A. Fillah)

~ In the midnight of sleepy Jakarta, end of September 2015

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Tumblr ]

7 thoughts on “Courage

  1. Anaknya yang ujian, emaknya yang heboh.

    Hahaha… aku ketawa bacanya, kayaknya gitu ya🙂 aku inget temen kantorku, anaknya mau masuk SMP, ibunya sibuk belajar gimana main internet karena buat masuk sekolah harus daftar online gitu.

  2. Yang terasa agak sulit di masa sekarang ini tuh menghilangkan budaya contek-menconteknya mbak..
    Saya alhamdulillah dapet didikan sangat baik soal kejujuran di SD-MAN saya dulu. Nggak ada tuh namanya contek2an.
    Jaman kuliah, itu terasa biasa banget. Dan jadi tantangan tersendiri untuk tidak ngasih contekan ke teman, atau tidak ikut mendengarkan saat ada teman “bagi2 contekan”.
    Akhirnya saya suka duduk paling depan pojok, dan segera menyelesaikan ujian lalu keluar. Pura2 nggak denger kalau ada yang bisik2 minta contekan.
    Sedihnya, masih adaaaa aja yang nganggep sikap saya sebagai bentuk kesombongan, “pelit contekan” seolah disamakan dengan “pelit ilmu”.😦

    • Ya memang mayoritas mental sebagian kita seperti itu, Mbak. No wonder ketika mereka diberi sedikit aja kekuasaan dan harta, banyak yang menyelewengkannya. Pemberantasan korupsi dimulai dari diri sendiri, dimulai dari sikap jujur mulai hal terkecil. Mari mulai membiasakan hal yang benar, bukan membenarkan yang sudah dianggap biasa.

      Saya juga seperti Mbak Zulfa waktu jaman sekolah dulu. Dinyinyirin karena nggak mau bantu teman ketika ujian itu hal yang biasa. Nggak apa, it’s okay. Selama kita benar, nggak perlu berkecil hati🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s