Ayahku, Idolaku

image

Pemandangan tetap tiap sore hari di rumah kami adalah: heboh penyambutan si Abi pulang kerja. Begitu kedengeran suara motornya, walau masih jauh.. Langsung anak-anak ini heboh kayak kedatengan artis ibukota.

Walau abinya pulang malem, dan mereka udah berjejer rapi di atas kasur.. denger abinya dateng.. Langsung pada loncat trus mejeng di jendela😀

Begitu buka pintu, langsung pada rebutan mic:

“Abiii.. tadi aku di sekolah main dokter-dokteran. Aku jadi yg sakitnya. Seru deh bi!”

“Abi, liat nih aku gambar godzilla burung buat Fiqar!”

“Abi.. Abiiiii…”

And this happpens e-v-e-r-y-d-a-y. Except weekend, of course.

Bener-bener mereka mah fans beratnya si Abi. Apelah umminya nih. Hanya butiran debu di sela-sela kemoceng. Hanya secuil remahan nastar yang kelindes buldozer. Mendadak ora payu. Nggak laku..

Adakah ibu-ibu yang mengalami hal yang sama? And how do you feel, mommies?🙂

*Pic taken from abang Harits’ worksheet alias buku gambar suka-sukanya dia. Btw, itu kenapa leher umminya panjang bener kayak leher jerapah? Huafakah akibat kebanyakan ngomel? Hahaha😄

~ Jakarta, sesaat setelah adzan Maghrib, awal Oktober 2015.

© aisyafra.wordpress.com

4 thoughts on “Ayahku, Idolaku

  1. Maasya Alloh,,,ternyata sama yaa ukhti. ummi itu apalah apalah. meskipun udah berdarah darah, teuteup ayah yang paling sayang, teuteup ayah yang paling perhatian, teuteup ayah yang paling sering kasih hadiah, padahal mah….beeeegh itu emak dari mulai melek mata sampai mejem mata, nggak ada abisnya. tapi ya nggak apa-apa, biar ayah aja yang dapet credit, dari pada mengidolakan org yg gak jelas ^-^. semangat umm…..:D walau kadang disitu saya kadang merasa sedih…halah. hehehe

    • Yah namanya anak2, ukht.. Karena jarang ketemu ayahnya dibanding ibunya, mungkin ya.. Plus ibunya (baca: saya) lebih sering ngomel dibanding ayahnya, heheheu.. Ayahnya jauh lebih sabar. Ya wajar aja, ayahnya nggak ngadepin anak2 24 jam penuh. Beda lan sama ibu🙂

      Tapi kedudukan kita sebagai ibu jauh lbh utama lho ukht, dibanding si ayah.

      “Ibumu.. Ibumu.. Ibumu..”

      “Lalu ayahmu”.
      🙂

  2. Assalamualaikum Mbak Meutia,

    Mbak Meutia selama ini saya silent reader blognya mbak. Blog mbak sangat menginspirasi saya, apalagi kalau lagi down menghadapi anak n rutinitas, langsung semangat lagi deh setelah baca blog mbak.

    Saya setuju deh sama mbak, anak saya juga fans berat ayahnya. Pada saat ayahnya pulang, langsung deh heboh hehe.

    Mbak Meutia saya juga jadi semangat untuk ikut kajian untuk muslimah seperti mbak. Sayangnya saat ini saya tinggal di denpasar sehingga agak sulit menemukan tempat kajian. Oleh karenanya jika memungkinkan, saya ingin bertanya barangkali mbak Meutia memiliki kenalan muslimah denpasar yang mengetahui tempat2 kajian di sini, saya sangat ingin mengikutinya.

    Mbak Meutia terimakasih sudah membuat blog ini, blog yg sangat menginspirasi untuk seorang ibu dan istri seperti saya. Terimakasih juga dengan tulisan2nya yang bisa membuat semangat lagi. Salam kenal dari saya rani di denpasar.

    Wassalamualaikum

    • Wa’alaikumussalam..

      Maaf late reply ya mbak.. Baru on blogging lagi, salam kenal kembali mbak Setiorani. Alhamdulillah.. Senang rasanya jika apa yang saya tulis di sini dapat membawa banyak manfaat bagi orang lain. Ditunggu saran dan kritik membangunnya ya mbak🙂

      Saya ada kenalan ummahat di daerah Denpasar, mbak. Sila kontak saya via email: aisyafra@gmail.com ya untuk kontak dengan teman saya tadi.

      Terima kasih kembali sudah berkunjung ke blog ini ya mbak Setiorini. Barakallaahu fiik🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s