My Definition of “Me-Time”

image

Kita, para ibu, pasti pernah merasakan apa yang namanya jenuh, boring, ingin refreshing atau sekadar memiliki sedikit waktu untuk diri sendiri. Terutama ibu rumah tangga yang tanpa dibantu asisten, semua-muanya dikerjakan sendiri, berpartner dengan suami, tentu.

Normalkah jika sesekali kita merasa jenuh dan bosan dengan rutinitas harian yang itu-itu saja? Manusiawikah?

To me, it’s so normal. So human. So natural. How can I say that? Because I’ve been there and done that, dear. Alhamdulillah.

I am a mother of three, one of them is 2 years old-toddler. Start a side job-bussiness from home. With no personal assistant but my husband as a partner. All by ourselves.

Bagi saya, justru profesi ibu rumahtangga ini, sangat rentan sekali akan rasa jenuh dan depresi. Bayangkan, kita berada di satu tempat dengan rutinitas yang itu-itu saja, bertemu dengan orang yang itu-itu juga, masalah yang itu-itu juga. Belum lagi job- desc seorang ibu rumah tangga yang seperti tak ada habisnya. Potensi untuk feel bored atau jenuh itu wajar sekali terjadi.

The first thing we should aware is to admit that: “Yes, I am bored. Then what should I do to get rid of that?”.

It’s not that I hate myself or my kids, my husband, my family, my life.. But I had this urge to get out of this situation for a while. Before it became dangerous. Before I became stressed and depressed. Because my unhealthy mental could possibly harm myself and people around me, so I must find the way out.

Alhamdulillah sampai saat ini, ketika jenuh itu datang, saya selalu bisa menyiasatinya dengan melakukan berbagai hal yang saya suka. Do the things I love, give simple self-reward and remind myself of the purpose why I’m here, why I choose to be a mother and wife.

Mengubah mood negatif menjadi positif bisa dilakukan dengan banyak hal. Mulai dari yang sederhana dan dilakukan cukup di rumah saja. Dari menikmati waktu sendiri sampai berkumpul dengan orang-orang yang memberi banyak pengaruh positif.

My definition of “me-time” is..

Ngumpul bareng temen tanpa bawa anak. Ikut daurah atau kelas seminar yang bermanfaat untuk meng-upgrade skill. Menikmati sunset dari atap rumah. Membaca dan menulis dengan khusyuk. Tidur siang dengan tenang. Tilawah Qur’an dengan damai. Menjahit tanpa diburu-buru. Melakukan berbagai hobi yang bermanfaat. Sampai mandi dan ke toilet dengan tenang tanpa gangguan,dan masih banyak lagi.

Do I feel guilty? No.

Am I selfish? I don’t think so.

I personally, need a little time and space away from routinity. To loosen the tension a bit. To refresh, recharge and renew my spirit of motherhood.

Anyhow, semua tergantung tipe orangnya juga.

Ada yang me-time favoritnya nyalon, ada yang ga suka nyalon, cukup oprek-oprek resep cantik rumahan ala-ala DIY.

Ada yang me-timenya jalan-jalan ke tokbuk, ada yang di rumah aja baca-baca stok buku yang sudah ada.

Ada yang suka jalan sama temen, ada juga yang sukanya ngumpul sama keluarga kecilnya.

Ada yang menemukan kebahagiaan di satu titik, ada juga yang menemukan kebahagiaan di titik lainnya.

Beda kepribadian, tentu beda kesukaan. Accept the reality that we have different kinds of personality. Appreciate others like you want others to appreciate you.

Selama yang dilakukan sifatnya menghasilkan kebermanfaatan, tidak melanggar syari’at, tidak melalaikan kewajiban sebagai ibu, dan suami mengizinkan bahkan menyuruh, why not? It’s okay.

Be wise choosing your “me-time”..

Tentu kita harus bijak dalam memilah, mana “me-time” yang paling cocok dan memungkinkan untuk dilakukan saat ini. Misalnya, bagi ibu yang masih punya baby dan nggak ada asisten yang bantu jaga, nggak mungkin kan kita asik jalan sama teman dan meninggalkan si kecil dalam waktu yang lama? Kalau saya sih nggak bisa.. Pasti kepikiran terus. Raga di sini, tapi pikiran entah di mana.

Jangan lupa untuk menyelesaikan kewajiban di rumah sebelum melakukan “me-time”. Jangan sampai rumah berantakan tanpa makanan tersedia di meja, anak-anak belum rapi, belum mandi dan makan. Tugas-tugas rumah terbengkalai.. Sedang kita asyik dengan kegiatan di luar rumah. Atau bersenang-senang tanpa ingat waktu pulang. Nah, itu baru “me-time” yang kebablasan. BIG NO.

Terlebih jika pasangan justru mensupport kita untuk menikmati waktu sendiri tanpa diganggu. Ia sepenuhnya sadar dan paham, bahwa kita hanya manusia biasa dengan segala keterbatasan, yang bisa merasa bosan dan jenuh dengan rutinitas harian.

Mungkin dengan membantu kita dalam berbagai urusan rumah tangga. Memasak menu sederhana untuk makan malam. Berbagi tugas mengajari si kecil belajar. Bersedia menggantikan tugas menjaga anak-anak ketika kita tengah mengikuti daurah atau seminar. Atau mengajak anak-anak keluar sebentar supaya kita bisa tenang melakukan beauty treatment di rumah, menyalurkan hobi, ngupi-ngupi santai sambil baca buku. Atau bahkan, bisa menyetrika dengan tenang tanpa banyak iklan. Hahaha.

Simple things like that mean a lot for me. Jauh lebih berarti ketimbang dikasih berlian segede gaban atau bunga mawar satu keranjang. Heheheu.

Meski telah menikah, kita tetap butuh ruang untuk diri sendiri. Hidup ini tidak hanya melulu tentang kita dan pasangan. Banyak hal-hal lain yang tak kalah pentingnya. Kita butuh menjalin relasi dengan teman-teman kita sendiri, menikmati me time dan mengaktualisasikan diri dalam aktifitas yang kita sukai. Cinta sejati tidak bersifat posesif dan mengekang. Seolah setelah bersama kita, dia jadi milik kita seorang. Sepenuhnya, seutuhnya. Tak ada ruang dan waktu untuk orang lain dalam hidupnya.

Saya sendiri, tak pernah melarang suami untuk ngumpul dengan kawan-kawannya. Dan suami juga mengerti, ada kalanya saya butuh sedikit waktu untuk bersosialisasi dengan teman-teman sesama ummahat. Sedikit rehat untuk menjauh sejenak dari rutunitas harian yang melelahkan. Asal bisa menempatkan sesuai porsi waktu, silakan saja. He gives me the freedom for being me, the real me.

Meskipun telah menikah dan memiliki anak, kami merasa butuh membangun pertemanan dan kehidupan lain di luar hubungan kami berdua. We need a little space on our own. To renew and refresh the feeling of being loved and being missed. That is the important part of a healthy relationship.

“A healthy relationship isn’t so much about sense of humor or intelligence or attractive. It’s about avoiding partners with harmful traits and personality types. And then it’s about being with a good person. A good person on his own, and a good person with you. Where the space between you feels uncomplicated and happy. A good relationship is where things just work. They work because, whatever the list of qualities, whatever the reason, you happen to be really, really good together.” (Unknown)

Feeling guilty about wanting to take “me-time”? Don’t!

Menikmati waktu untuk sendiri.. Bukan berarti kita tidak menerima dan mencintai kodrat kita sebagai ibu, merasa terkekang dengan kehidupan rumah tangga, or even worse, menyesali keputusan untuk menikah dan memiliki anak. No, it’s definitely not about it.

It’s about being kind to yourself. It’s about to maintain your mental health. It’s about giving value to your togetherness with your beloved ones. It’s about making yourself become whole and complete. It’s about balancing your life, to keep you sane and healthy.

The benefit of ‘me time’ is not just for me, it’s for my family. If I am happy… My kids, my spouse, the whole house will be happy, too.. Insha Allah.

Jika kita sebagai ibu merasa bahagia lahir dan batin, merasa utuh, dihargai dan dicintai.. Insya Allah seisi rumah akan merasakan hal yang sama. Sesederhana apapun kehidupan kita.

It’s important to maintain the mother-child bond, but it also makes you a better mom when you have that balance between your mothering duties and your personal wants.

Luangkan waktu untuk diri sendiri. Membaca buku, menulis, ngobrol santai dengan tetangga sekitar, menghubungi dan bertemu kawan-kawan lama, mendatangi majelis ilmu tanpa membawa anak, pergi berdua ke tempat-tempat penuh kenangan bersama suami. Dan berbagai aktifitas lainnya yang membuat kita lebih bahagia. Ya, karena kita berhak untuk bahagia. Setiap ibu berhak untuk bahagia.

Mengutip perkataan yang seringkali mampir di telinga, “me-time” membantu kita agar tetap waras dan bahagia.

There is no perfect mother. She doesn’t exist. But, there are happy mothers. If you want to be one, you have to be yourself and do things your own way…

Happy Saturday morning!

~ Jakarta, medio Oktober 2015.. sebuah ide yang telah mengendap lama di kepala dan tiba-tiba terlintas untuk dituangkan ketika tengah bergelut dengan tumpukan cucian😀

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Tumblr ]

6 thoughts on “My Definition of “Me-Time”

  1. Ada yang me-time-nya beberes rumah. ADA! Dan itu bukan akuuuu :)))
    Emang butuh banget me-time ya, mbak, apalagi yang kerjaannya 24 jam sehari 7 hari seminggu tanpa libur😛 biar tetep ‘waras’ menghadapi anak-anak😀

    • Adaaaa.. Temenku ada yang hobinya cuci piring. Kalo aku sendiri seneng nyetrika tapi syaratnya jangan banyak iklan, bisa encok ini punggung😄

      Iya.. Menjaga agar diri ini tetap waras dan rileks ngadepin anak2 dan segala tingkah polah mereka. Hihihi.

  2. “me-time” membantu kita agar tetap waras dan bahagia. Setuju banget mba Muetia..tulisan mba pas banget di ati, apalagi kata-kata nyetrika tanpa jeda iklan…whuahaha.ni tulisan seolah-olah ditujukan ke saya yg lagi galau perlu me time supaya tetap “waras”, so refrehsing and i love it. Pokokna mah Mba Meutia teopebegete…jaazakillah khairan ya ukhtii..keep doing great job ya!!

    • Nah, iya bener kan menyetrika tanpa bolak balik diselingi iklan adalah me time yg cukup berharga? Heheheu..

      Waiyyaki, ukhti.. Thanks for reading yaa.. Udah lama pengen nulis ini tapi baru kesampaian. Kalo udah dituangkan rasanya legaa, alhamdulillah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s