Perjalanan Berhikmah

image

Pekan kemarin, sesaat setelah kereta jurusan Jakarta-Cirebon mulai bergerak meninggalkan stasiun, ada pemandangan yang lain dari biasanya. Ketika kebanyakan penumpang (termasuk saya) mulai mengeluarkan cemilan, buku bacaan dan gadget masing-masing.. Ada seorang pemuda yang duduk berhadapan di seberang kursi kami, mengeluarkan sebuah buku yang sekilas seperti Qur’an terjemah.. Lalu membacanya perlahan dengan khusyuk.

At first I couldn’t believe my eyes. No, bukan pemandangannya yang menurut saya aneh. Wajar aja ya orang baca Qur’an di public place gitu, sambil nunggu atau dalam perjalanan. Meski jujur.. jarang saya dapati yang demikian. So rare indeed. Mungkin karena saya jarang menggunakan transportasi umum dan bertemu dengan banyak orang.

But my point is, penampilan anak muda itu yang bikin saya nggak mengira sama sekali bahwa ia membawa Qur’an (it really is, I guess) di ranselnya. I mean, penampilan yang sekilas, “gaul banget”. Celananya masih isbal, nge-jeans, ber-jacket capuchon yang khas anak muda banget, no jenggot. Nggak “ngikhwan” sama sekali lah.

That’s why I was surprised. And was very embarassed at the same time. Di situ saya merasa sangat tertohok. Huhuhu.

From that moment on, saya jadi seperti tersadarkan kembali agar lebih bijak dalam memandang seseorang. Jangan menilai seseorang hanya dari tampilan luarnya aja. Terlepas dari penampilannya yang masih isbal dan lain-lain.. He unintendedly taught me a lesson I will never forget.

Hikmah lain yang bisa saya petik adalah, jangan pernah merasa diri ini jauh lebih baik dari orang lain. Hanya karena penampilan saya yang udah nyunnah, udah lama ngaji dan atribut-atribut muslim lainnya, saya jadi meremehkan orang lain yang penampilannya mungkin belum seperti saya.

Boleh jadi mereka begitu karena belum tahu ilmunya..

Boleh jadi mereka sudah tahu tapi belum sanggup mengamalkan..

Boleh jadi mereka yang kita anggap sebelah mata, justru lebih mulia kedudukannya di hadapan Allah..

Mengutip nasehat indah dari Ustadz Salim A. Fillah..

“Kita kadang merasa lebih benar, lebih baik, lebih tinggi, dan lebih suci.. Dibanding mereka yang kita nasehati.

Hanya mengingatkan kembali kepada diri ini:

Jika kau merasa besar.. Periksa hatimu, mungkin ia sedang bengkak.

Jika kau merasa suci.. Periksa jiwamu, mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani.

Jika kau merasa tinggi, periksa batinmu.. Mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan.

Jika kau merasa wangi, periksa ikhlasmu.. Mungkin itu asap dari amal sholihmu yang hangus dibakar riya..”

Some say, most of the precious lessons in life can be found in the strangest places, from the unexpected people. This time I proved them right.

Barakallaahu fiih.. Terima kasih atas pelajaran yang amat berharga hari itu, anak muda. I am very grateful that I met you. Semoga Allah memudahkanmu untuk segera menyempurnakan penampilanmu. Dan semoga Ia senantiasa menjaga dan meneguhkanmu dalam hidayah-Nya.

This October journey was so special. It left me something to think about.

~ Jakarta, sesaat setelah hujan pertama di awal November 2015.

© aisyafra.wordpress.com

 

4 thoughts on “Perjalanan Berhikmah

  1. Baca ini langsung teringat seorang temen akhwat yang membaca al qur’an sepanjang kereta jakarta-bandung padahal beliau dlm posisi berdiri krn tdk kebagian jatah tempat duduk ^^

    Semoga Allah selalu dekatkan hati-hati kita dengan al qur’an..

    Nice share Mb🙂
    Reminder buat diri pribadi..hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s