I Pray For Syria

image

Kemarin pagi saya menghadiri kajian Ustadz Abu Sa’ad Muhammad Nurhuda MA di Masjid Nurul Iman SDIT Asy-Syafi’i, yang bertema: Solidaritas Untuk Rakyat Suriah Yang Terluka.

Beliau menceritakan pengalaman beliau ketika mengunjungi Syria beberapa waktu lalu untuk menyerahkan bantuan dari kaum muslimin di Indonesia. Penuturan beliau menggugah saya untuk lebih membuka mata dan hati terhadap apa yang sebenarnya terjadi di sana. Untuk lebih peduli pada nasib kaum muslimin yang tertindas dan terzhalimi di penjuru dunia.

Bagaimana kebengisan kaum Syi’ah Nusyairiyah terhadap muslim Sunni di Syria. Berbagai foto dan video diputar. Bayi, balita dan anak-anak disembelih dan digorok. Bom fosfor yang membuat wanita hamil langsung keguguran dan jika akhirnya melahirkanpun, bayinya cacat.

Jenazah anak-anak berjejer rapi, seperti boneka. Seolah mereka sedang tertidur dalam senyumnya. Rumah dan kota mereka yang dulunya megah berdiri, hancur luluh lantak menyisakan puing-puing. Banyak di antara penduduk Syria yang makan dari sisa-sisa tempat sampah, daripada mati kelaparan.

Bahkan anak-anak kecil yang mereka tidak mengenal senjata, sedang asyik bermain dengan kawannya, ikut menjadi sasaran kebiadaban kaum Syi’ah yang tidak pandang bulu dalam mengeksekusi korbannya. Karena bagi mereka, darah kaum Sunni itu halal untuk ditumpahkan.

Ada scene di mana seorang laki-laki mengguncang-guncang bayinya yang sedang sekarat, untuk kemudian melihatnya pergi untuk selama-lamanya. Kepala bayi itu menggeleng lemah kemudian diam. Hati saya bergemuruh menahan amarah.

Seketika, dalam benak saya terbayang bagaimana jika mereka adalah anak-anak saya, suami saya, orangtua saya, adik saya, keluarga yang sangat saya cintai.

Suasana mendadak hening. Air mata ini tidak terbendung lagi. Beberapa ummahat di sekeliling saya terisak, dan mengelap air mata mereka dengan tisu.

Yes, imagine if the victims were people we knew and we loved. How would we get through such a horrific situation? Have we prepare for it?

Dan mereka harus hidup dalam ketakutan dan ketidaktentraman setiap hari. Bukan hanya selama beberapa jam.

Mengutip dari fanspage Coin4Syam mengenai apa yang terjadi di Syria dalam kurun waktu 4 tahun belakangan ini..

Pembunuhan, di manapun itu selalu menyisakan tangis dan luka di dada, maka mengutuknya adalah wujud kemanusiaan. Seperti yang terjadi di Paris-Perancis, maka itu juga yang terjadi di Suriah.

Namun, tak hanya sehari pembantaian warga sipil Suriah itu dilakukan Rusia dan Assad. Setiap hari, Saudaraku, setiap hari seorang ibu kehilangan anaknya, seorang suami kehilangan isterinya, seorang kakek kehilangan cucunya, seorang adik kehilangan kakaknya.

Sebutkan saja!
Seperti itulah yang terjadi di Suriah, yang dengannya membuat uluran tangan dan doa kita semakin besar kepada mereka.

My question is..

Ke mana dunia internasional ketika semua itu terjadi? Mana simpati dan empati mereka ketika sesama manusia di belahan bumi lainnya dibantai? They keep silent as nothing has happened. No worldwide hashtags, no public profile picture changed, no words of condolence uttered.

Lalu ketika kota-kota di dunia barat diserang oleh teroris yang mengatasnamakan Islam, mereka ramai-ramai berduka, bersimpati dan mengutuk tindakan teror tersebut.

Lol, so funny, isn’t it? A very selective humanity. Kemanusiaan yang pilih kasih.

Seakan-akan yang dibantai di Syria, Burma, Palestine, Lebanon, Iraq dan negara-negara Islam lainnya adalah binatang, bukan manusia. So they keep silent. Like-nothing-has-happened. Shame on you all. Shame!

If it’s a Muslim then it’s a terrorist attack, if anyone else then it’s some crazy douchebag who needs therapy,  some say. Bitter truth about their double standards, isn’t it?

Kajian Ustadz Abu Sa’ad tentang Syria kemarin, membuka mata saya bahwa Syi’ah adalah ancaman yang nyata. Syi’ah berlindung di bawah nama Islam namun merusak dari dalam, dan itu jauh lebih berbahaya dari kaum kuffar yang jelas-jelas memang bukan Islam.

Nasehat Syeikh Muhammad Kurayyim Rajih, seorang ulama Syria mengenai apa yang terjadi di Syria saat ini:

Untuk kalian di Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand Islam Melayu bagian selatan dan lain-lain,

“Kami di Syria dahulu seperti kamu hidup damai sehingga kami lupa karena sudah membiarkan Syiah berkembang secara perlahan. Akhirnya sekarang Syiah memerintah kami, membunuh anak-anak kecil kami dengan kapak dan memperkosa wanita Ahli Sunnah Wal Jama’ah. Jangan lupa dan jangan sesekali biarkan Syiah berkuasa di sana. Jika kamu tidak ingin terjadi seperti apa yang menimpa kami.

Jangan kamu lakukan seperti yang kami lakukan karena membiarkan mereka (Syiah) berkembang. Mereka adalah agenda Amerika dan Yahudi. Pengagas mereka adalah Abdullah bin Saba’ (orang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam).

Saya akan selalu mendo’akan kalian semua yang ada di Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand Islam Melayu bagian selatan agar tidak berlaku seperti kami di Syria. Aamiin.”

Ustadz Abu Sa’ad kembali menambahkan,

“Keamanan dan ketentraman di negara kita, Indonesia tercinta ini adalah harga mati. Apa yang terjadi di Syria bukanlah perang saudara, tapi kezhaliman. Penindasan oleh kaum Syi’ah terhadap kaum Muslim Sunni.

Menghadapi Syi’ah di Indonesia butuh strategi. Rapatkan barisan, perkuat aqidah. Kita adalah satu. Islam harus bersatu padu melawan Syi’ah. Jangan mau diadu domba oleh Syi’ah dengan aparat dan penguasa.

Jaga hubungan baik dengan aparat dan penguasa. Karena jika tampuk kekuasaan sudah dipegang oleh Syi’ah, Indonesia bisa jadi Syria kedua.”

Regardless of our religion, race, color and beliefs let’s not forget the people of Syria. Let’s include them in our prayers. This is about humanity, this about us being human who have a heart that cares, mind that thinks and soul that cries for every single innocent children being killed without mercy, for every woman being raped, for every elderly being killed helplessly, for the boys being tortured to death.

My heart and prayer goes with you, my brothers and sisters fillah in Syria, Egypt, Burma, Palestine, Chechnya, Lebanon, Sudan and other countries. I won’t forget you in my du’aa..

Do not lose hope, indeed Allah’s help is near. May Allah save you and grant you all with Jannah. A place where all the misery and grief, ends.

I love you for the sake of Allah.

~ Jakarta, November 2015.. It’s me against terrorism, me against Syi’ah.

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

2 thoughts on “I Pray For Syria

  1. Di Nasehat Syeikh Muhammad Kurayyim Rajih paragraf 2, pada kalimat
    “..karena sudah membiarkan Syiria berkembang secara perlahan”,
    itu memang “Syiria” atau seharusnya “Syi’ah” Mbak?

    Radio dakwah sunnah di daerah saya juga sudah dari beberapa bulan ke belakang gencar menjelaskan ciri-ciri Syi’ah pada masyarakat Mb. Geraknya sudah mulai terbuka dari yang dulu malu-malu..hehe

    Pray hard for this ummah..
    Always..

    • Iya betul, seharusnya Syiah bukan Syria. Syukron, ukhti. Sudah dikoreksi🙂

      Na’am. Syiah mulai terang-terangan menunjukkan warna dan permusuhan mereka terhadap Islam. Tugas kita untuk menyebarkan kesesatan pemahaman mereka kepada umat, agar tidak terpedaya oleh taqiyah dan tipu daya mereka.

      Allaahul musta’an..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s