Genit

image

Dear readers, hari ini saya mau numpang curhat di blog ini ya. Boleh ya? Boleh dong.. Ehehehe. Ini nanya apa maksa sih?😛

Straight to the point yaa..

Saya tuh orangnya, paling alergi sama laki-laki dan perempuan yang genit. Yang ganjen, lenjeh, some kind of itchy-itchy, whatever you named it lah.

Genit ketika berpapasan dan memandang lawan jenisnya. Itu mataaa.. hobinya piknik kemana-mana.

Like a saying, the last time he lowered his gaze was when he went down to tie his shoelace. Or pas nunduk nemu duit di jalan. Bagusnya dipakein kacamata kuda aja nih yang model begini.

Genit dalam berkata-kata kepada lawan jenisnya. Baik di dunia nyata maupun maya. Kalo ketemu lawan jenisnya (apalagi yang kinclong) suka lempar senyum, cengar cengir geje.

Kalo chatting atau membalas komentar suka kirim smiley, emot-emot unyu. Haha-hihi nggak penting. Sengaja milih kalimat yang bikin hati keruh, bikin lawan jenisnya ge-er.

Genit dalam pergaulan dengan lawan jenis. Meremehkan ikhtilat. Meski sudah sama-sama menikah, tapi kelakuan mirip abege yang lagi puber.

Nada suara mendayu-dayu sampai lirikan mata yang mengandung arti. Sampai yang lihatnya risih dan malu sendiri.

Genit dalam banyak hal, atuhlah.

Pokonamah bikin eneug yang lihat dan denger. Bikin risih. Bikin polusi. Bikin pengen nyari baskom. Bikin pengen nyiram pake air seember biar bubar.

Hati-hati sama oknum ikhwan-akhwat yang genit bin ganjen. Stay away from them. Ganjen is a disease, you know.

Makin banyak ikhwan abal-abal yang tebar pesona sampai akhwat pada klepek-klepek..

Makin banyak para “hello tiki” yang nggak malu-malu bercentil-centil ria sama suami orang..

Makin banyak ikhwan akhwat bersuami yang meremehkan hijab dan ikhtilat antara lawan jenis. Bebas bercanda ria seolah lupa bahwa mereka sudah tahu ilmunya..

“Ah, mungkin mereka belum tau ilmunya. Belum ngaji, kalik!”

“Eaaa.. udah ngaji kalik. Udah senior, malah. Udah tua. Dari segi usia dan jam terbang, kita ini mah apalah apalah..”

Wal’iyadzubillah..

Semoga Allah jauhkan kita dan keluarga dari sifat yang demikian. Dan semoga semua laki-laki dan perempuan semacam itu segera diberi hidayah oleh Allah.

That’s why saya wanti-wanti banget sama adik-adik perempuan saya, teman dekat saya, dan anak perempuan saya kelak:

“Jangan mau dinikahi oleh pria yang genit. Mau seganteng, setajir dan sepopuler apapun, kalo genit: Blacklist!”

Makan ati banget lho punya pasangan yang nggak bisa jaga mata dan kehormatan diri. Sebagai pasangan kita akan dihantui rasa curiga terus menerus.

Jangan-jangan, di belakang kita mengumbar mata dan tebar pesona ke mana-mana..

Jangan-jangan dia kecentilan sama lawan jenisnya..

Jangan-jangan dia…

Bla bla bla.

Dan seabrek kekhawatiran lainnya. Kekhawatiran yang bagi saya cukup beralasan dan masuk akal.

Apalagi bagi mereka yang pasangannya “mengharamkan mutlak” untuk membuka gadget dan barang-barang pribadinya. Gadget selalu dipassword, disilent, disimpan dalam tas.

Sampai kalo lagi mandi atau tidur, ada panggilan telepon, chat atau SMS masuk, pasangan dan anak-anaknya nggak boleh ada yang buka, apalagi jawab. Kalo ketahuan ada yang buka, bisa marah besar.

Tanda tanya dong..

Kalo memang nggak ada “sesuatu” kenapa harus se-ekstrem itu coba? Kalo memang isinya biasa-biasa saja, tidak ada yang perlu ditutupi, kenapa harus paranoid banget, khawatir pasangannya tahu isi gadgetnya? Aha!

Meski tidak semua orang yang strict soal privacy gadget itu menyembunyikan sesuatu, tapi yang seperti itu ada dan nyata. I knew many of them. Sad truth, it was.

Seseorang yang genit, secara tidak sadar, ia merendahkan harga dirinya dan harga diri pasangannya. Iya, sifat genit itu menghinakan diri, menurut saya. Bikin malu diri sendiri dan pasangan.

Tapi nggak tau juga ya kalo memang rasa malu itu sudah hilang dalam dirinya. Padahal rasa malu itu adalah bagian dari iman. Jika rasa malu seseorang telah hilang, maka imannya layak untuk dipertanyakan.

Nasehat ulama terdahulu: “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sekehendak hatimu.”

Sifat genit adalah musibah. Ia membuka peluang untuk terjadinya zina. Betapa banyak perselingkuhan dimulai dari longgarnya hijab antara laki-laki dan perempuan, yang berujung kepada hilangnya rasa malu.

Ketika bahaya ikhtilat mulai diremehkan, ketika itulah pintu perselingkuhan mulai terbuka lebar.

Honestly, saya pribadi lebih suka dibilang “perempuan galak” daripada dibilang “perempuan genit”. It such a deep insult to my pride as a woman.

Demikianlah edisi curhat habis liat chat laki-laki genit dengan wanita genit di sebuah forum hari ini. Yeah I think, they deserve and complete each other 😁

~ Jakarta, on a serene morning after the rain, first day of December 2015.

© aisyafra.wordpress com.

[ image source: Tumblr ]

15 thoughts on “Genit

    • Kullu bani Adam, khoththo’. Setiap anak Adam, pasti berbuat dosa. Tersilap adalah ketika ia lalai, dan ketika diingatkan, langsung tersadar kembali ruju’ kepada kebenaran. Jika nasehat sudah sampai, sudah paham ilmunya namun terus mengulang kesalahan yang sama, apa nama yang tepat untuk yang seperti itu ?

        • Pemberi nasehat yang benar-benar ikhlas, tidak akan kecewa jika nasehatnya tidak diterima. Karena ia hanya wasilah, hanya perantara untuk menyampaikan kebenaran. Ia hanya menjalankan kewajiban, karena menyampaikan kebenaran adalah kewajiban setiap muslim, sesuai kadar kemampuannya. Dan ketika kebenaran telah disampaikan, gugur sudah kewajibannya untuk amar ma’ruf nahi munkar. Selanjutnya adalah hak prerogatif Allah untuk memberi petunjuk atau menyesatkan.

  1. Udah lama gak baca blog teh meut.. dan suka sama tulisan ini..Semoga Allaah menjauhkan dari sifat seperti itu. dan menjauhkan dari pasangan seperti itu..:)

    Baarakallaahu fiik teteh meut syg

  2. Punya temen kayak gini sih kak, dan dia akhwat. Mau tutup mata terhadap kelakuannya, ya ngga mungkin. Dinasehati bahkan sampai ditegur pun tetap saja kelakuannya genit binti lenjehnya ngga ilang. Sampai ada akhirnya dia dicolek sama temen-temen cowonya. Sayanya nyerah, ngga tau mau bilang apa lagi.
    Kalo laki-laki ajnabi berani colek-colek akhwat itukan sesuatu yang menghina banget sih untuk akhwatnya (dalam kacamata aku).

        • Nah. She should see her “price tag” then. Mungkin si perempuan menghargai dirinya serendah mungkin, jadi laki-laki menganggapnya ya, begitulah. Sedihnya denger kalo yang diperlakukan demikian, adalah akhwat yang sudah berhijab syar’i😦

          Hadanallaah w aiyyahum..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s