Progress, Not Process

image

Well, rasa-rasanya, nggak ada deh lembaga pendidikan (baca: sekolah) yang 100% bebas dari masalah. Sepertinya, setiap sekolah memiliki rintangan dan kesulitannya masing-masing.  So if we expect a flawless one, it would be difficult, if not to say: impossible.

Setiap sekolah, apalagi yang baru berdiri, pasti mengalami proses tumbuh dan berkembang. Ada saja hambatan yang menghadang, segigih apapun kita berusaha meletakkannya di jalur yang seharusnya.

Tidak ada sekolah yang sempurna, yang 100% perfect dan problem-free. Yang ada hanya sekolah yang malas belajar dan berbenah. Merasa nyaman—keep stuck dengan keadaan yang ada, dan enggan berintrospeksi. Hingga akhirnya banyak pihak yang merasa tidak nyaman dan memutuskan untuk angkat kaki dari sekolah tersebut.

Tidak ada sekolah yang sempurna, yang sama persis seperti yang kita impikan. Tapi, di luar sana, ada sekolah yang baik. Yang komit untuk terus belajar, tumbuh dan berkembang, menjadi lebih baik dari tahun ke tahun. Tidak anti kritik atau terus menerus berlindung di balik kata ‘proses’ dan merasa sudah cukup pandai untuk belajar menjadi lebih baik lagi.

Permasalahan yang ada dalam tiap lembaga pendidikan itu niscaya, pasti ada. Yang terpenting adalah, bagaimana sikap kita menghadapi dan menyelesaikannya. Masalah yang ada bukan untuk diredam apalagi ditutupi, tapi dicarikan solusi.

Semua komponen yang terlibat di dalamnya duduk bersama, bermusyawarah untuk mencapai kata mufakat. Siswa, orang tua, guru, komite, kepala sekolah, yayasan sampai pesuruh sekolah sekalipun. They should be as one union, not divided or treated like enemies.

Sekolah yang baik, senantiasa berusaha untuk mengembangkan mindset kooperatif, komunikatif, open minded, dan solutif dalam menghadapi masalah yang ada. Rujukan dan pedoman mereka dalam mentarbiyah siswa adalah Al Qur’an dan Sunnah, sesuai dengan pemahaman salafus shalih. Jadi ketika terjadi perselisihan, selalu dikembalikan kepada pedoman utama tersebut.

Sekolah yang baik, the people in it, they do respect each other. Pendidikan adalah tanggungjawab kita bersama. Orangtua dan guru serta perangkat sekolah adalah partner, saling bersinergi dan berkontribusi untuk memajukan sekolah dan mendidik anak-anak dengan sebaik-baiknya, dan bukan sebaliknya. Kuncinya adalah kata ‘saling’. Karena jika hanya salah satu pihak yang berusaha, akan timpang dan sulit untuk maju dan berkembang.

So there are no perfect school for your kids, but there are some good ones who match your expectation quite well. Find and pursue those. Being kepo  at your best!

Question:

Bagaimana jika kita terjebak dalam keadaan yang sulit? Kita—terlebih anak kita—sudah tidak lagi menemukan kenyamanan dalam situasi di sekolah. Dan ketidaknyamanan ini cukup mengganggu proses belajar mengajar dan tumbuh kembang si anak.

The worse part is, tidak ada usaha dan perubahan berarti yang diusahakan oleh pihak terkait dan berkepentingan untuk menyelesaikan kekacauan yang terjadi.

We do our best for the win-win solution, but everytime we struggle, we fail. Too much dramas and intrigues. Sampai pada titik di mana kita merasa amat lelah. Pesimis keadaan bisa berubah. And what we worry the most is our children. What should we do?

My own opinion is: Save our children first.

The other ones are just secondary. We, as mothers should put our priorities wisely. Naluri kita sebagai ibu adalah memprioritaskan anak terlebih dulu. Bahkan lebih dulu dibanding diri kita sendiri. That’s the amazing part motherhood.

Never sacrifice your children’s future by holding on your ego. Atau karena alasan: sayang duit udah bayar mahal-mahal. No. Ketenangan jiwa dan kesehatan mental anak kita—juga kita sebagai orang tua— jauh lebih mahal dari itu.

Allow your children to speak what they really feel. Listen and pay more attention to their inner voices. Simak dan dengarkan isi hati anak kita. Pahami ketidaknyamanan yang mereka rasakan. Jadilah sahabat untuk mereka berbagi cerita. Don’t let yourself be the last one to know.

Our children, they are only young once. The best time to build their ‘inner childhood’ is now, not later. Don’t let bad influence in a wrong environment ruin and steal your child’s early years. Remember, these early years are so important. Make sure they have a good one to remember.

That’s why I love the word ‘progress’ more than ‘process’. Progress artinya adalah perubahan menuju kemajuan, yang tentunya merujuk kepada sesuatu yang jauh lebih baik. Sedang proses adalah suatu perubahan yang bisa bermakna positif atau negatif. Untuk hancur, butuh proses juga kan?🙂

Be picky, be careful, be wise on choosing school for your beloved ones. Sekolah adalah rumah kedua, dan guru adalah orangtua kedua bagi anak-anak kita. Fasilitas dan gedung hanya pelengkap. Their mindset to raise and educate our children is our highest concern. Never, ever settle for anything less.

Happy hunting!

— Jakarta, December 3rd, 2015.

© aisyafra.wordpress com.

*Sedikit coretan akhir semester di 2015. All that I wrote is purely my personal opinion, based on my own experience as a mother and teacher of my kids. Here I am standing on my side, doing things with my own way. Feel free to disagree🙂

[ image source: Tumblr ]

7 thoughts on “Progress, Not Process

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s