7 Billion People in The World… And I’d Still Choose You

find the husband

“And I’d choose you; in a hundred lifetimes, in a hundred worlds, in any version of reality, I’d find you and I’d choose you.” ~The Chaos of Stars

Di sebuah acara beberapa tahun silam, saya bertemu dengan seorang kawan lama. Sesaat setelah kami berbincang, datanglah seorang laki-laki yang sepertinya kenal dekat dengan kawan saya tersebut.

Dari gestur tubuh dan kata-kata mereka ketika bercakap-cakap, tahulah saya bahwa laki-laki itu adalah suaminya. Well, saya udah tahu sih kalau ia telah cukup lama menikah, dikirimi undangannya, malah. Tapi karena saat ia menikah saya sedang di luar kota, jadi tidak bisa hadir.

Kesan pertama ketika melihat sosok suami teman saya tersebut adalah tidak percaya bahwa laki-laki itu adalah suaminya. My mind keep wondering just like,

“Seriously, is that your husband?”

Di mata saya sebagai perempuan, I try to be fair ya… Teman saya itu termasuk yang ‘high quality’. Some kind of fine pretty, well mannered, well educated, lah. Mau nyari suami yang kayak gimana aja juga kayaknya no problem. Nah pas lihat suaminya kok (maaf) berasa agak ‘jomplang’ gitu. Maafkeun, bukan bermaksud menghina atau apa yah.. But it was the first thing that crossed my mind at that time.

Physically, suami teman saya itu biasa aja sih. Standar, nggak cakep banget, nggak jelek juga. Dari segi harta dan kekayaan, setahu saya nggak yang tajir melintir gitu deh. Dan satu hal yang saya tahu lagi, mereka berdua saat ini sedang merintis dari bawah.

But another first thing I noticed from him: The way he treated my friend as a wife was remarkably gentle. Sopan dan lembut. Kelihatan sekali bahwa ia mencintai dan menghargai istrinya.

Nah. So I highlighted that. I later thought it’s all about taste. Pasti deh, laki-laki ini punya kelebihan yang bikin teman saya tadi kagum dan bertekuk lutut. Karena setahu saya, teman saya itu salah satu primadona di circle pergaulannya. Pasti banyak lah kumbang-kumbang yang mendekati. Tsaaahhh, bahasa sayah. Akakaka😛

Nggak sekali dua kali, saya nemu kejadian gini. Pasti deh di antara kita ada yang pernah ngalamin, pas lagi jalan ke mana gitu, ngeliat couple yang (menurut penerawangan mata yang awam inih) rada-rada jomplang dan nggak cocok. Atau seringnya pas lagi kondangan, bagian salam-salaman sama pengantennya😀

Yep, mungkin dalam hati kita pernah membatin seperti ini,

“Whattt? Nikahnya sama dia? Kok kayak nggak cocok bingitss deh mereka berdua. Bagaikan langit dan bumi deh, jomplang abisss..”

“Nggak salah pilih pasangan tuh orang? Yakin deh, dia pasti bisa dapetin yang jauh lebih segala-galanya dari pasangan yang sekarang.”

And then we start judging and ‘nyinyiring’ about someone else’s choice of life. Well, it was me actually. I admit it. Hahaha. Hapunten nyaakk😀

Wealth and looks fade with time. But chemistry and commitment between you two, don’t. So choose them both over anything else for a long lasting relationship.

Di awal-awal pernikahan, segalanya pasti serba indah. Bulan madu pesiar ke luar pulau, candle light dinner, hadiah-hadiah istimewa, kata-kata romantis setiap hari, and so on. Pokoknya looooove melulu.. *mpok Sarah mode on :))

Seiring berjalannya waktu.. Banyak hal berubah. Hadirnya buah hati banyak memberi warna baru. Permasalahan yang terjadi kian kompleks. Hal-hal yang tadinya sepele bisa menjadi besar. Di sini yang dibutuhkan adalah dua orang dewasa yang saling berkomitmen untuk menyelamatkan pernikahan mereka, bukan dua anak muda yang sedang dimabuk asmara sampai lupa segala-galanya.

As a human, we tend to look from the surface. We never know the reason inside. Kita nggak pernah tahu kan, apa alasan seseorang ketika memutuskan siapa yang ia pilih menjadi pasangan hidupnya?

In fact, there are some hidden sides which not seen by our eyes. For women (especially me), it’s about how their spouse treat them that matters.

Mungkin si suami adalah imam yang baik dalam keluarga, akhlaknya top abis, punya selera humor yang bagus, setia, penyabar, penyayang, family man, rajin bantuin pekerjaan istri di rumah, humble, cerdas dan berbagai nilai plus lain yang berarti di mata sang istri. Things that money can’t buy.

Bukan berarti faktor fisik atau materi itu tidak penting sama sekali, ya. Menurut saya, dua hal itu hanya faktor penunjang, tapi bukan yang utama. Penting, tapi bukan yang terpenting. Dan rupawan atau tidaknya fisik seseorang bersifat relatif. Beda mata yang memandang, beda pula penilaiannya. Semua tergantung selera.

Have you prepared for that unexpected moment when your relationship has turned into something toxic that has made you both so destructive? And who knows what’s going to happen to either of you?

Buat apa tampang keren (yang kata orang nggak malu-maluin kalau dibawa kondangan) tapi nggak setia, abusive dan abai terhadap perasaan pasangannya? Buat apa kaya raya, duit nggak berseri tapi jarang pulang, nggak takut dosa dan zhalim terhadap istrinya?

Money and fame have never been my priorities. Nor glamorous life and good looking spouse. It’s not what I’m looking for.

Wanita, sejatinya hanya ingin dimengerti. Mereka ingin dihargai, diperhatikan, dimanjakan, dikagumi dan keinginan-keinginan dasar sesuai fitrah mereka sebagai wanita. Terkadang, wanita hanya ingin didengarkan tanpa disela, ingin dipahami tanpa harus berkata-kata, ingin merasa dimiliki dan dilindungi oleh lelakinya.

Women are complicated, yes. That’s why it took a real gentleman to understand a woman. One who really knows how to welcoming her, offering her to take a seat, and trying his best to ease her mind.

Mind you, not every man can do this. That’s why women choose different types of men who can make them feel warm and complete with. A man who can make a woman  speak to herself, after surviving her marriage for years,

“I knew it’s you. It’s always been you.”

Tidakkah kita sadar bahwa keindahan fisik dan berlimpahnya materi merupakan sesuatu yang tidak abadi, ia akan memudar seiring berjalannya waktu? Dan apa artinya semua kelebihan itu jika tidak dilengkapi dengan akhlak yang baik, kecocokan dalam banyak hal dan keshalihan?

Betapa banyak pasangan yang sama-sama menarik, mapan, sukses dalam karir, berkelimpahan materi, tapi ternyata tidak sukses dalam membina rumah tangga, bahkan saling mengkhianati pasangannya dengan berselingkuh.

Apalagi yang kurang? Semuanya mereka punya. Merupakan sebuah bukti nyata bahwa tiga dari empat kriteria yang biasa dipilih anak adam yaitu harta, keturunan dan kecantikan/ketampanan lahiriah tidak selalu menjamin kebahagiaan dalam berumah tangga. Jika keempatnya ada dalam diri seseorang maka itu adalah sebuah bonus, tapi jika tidak jangan korbankan keshalihan demi mendapatkan ketiganya.

Maka benarlah sabda Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi wa Sallam, 

“Maka pilihlah karena agamanya, niscaya engkau akan beruntung…”

Some say, speaking of inner beauty is too cliche these days. But I don’t think so. I put my respect on people who beautify their inner mind more than their outer looks. And for some people, that kind of (inner) beauty just like effortlessly made. They were born with it. Masha Allah. May Allah make it even more beautiful.

So now I understand the reason behind that decision. There is some reason we know, and some which remain mystery. So just let it be that way.

~ On a chilly morning of Jakarta, December 2015.. inspired by my husband’s Whatsapp message this morning. Danke for giving me this food for thought🙂

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Tumblr ]

5 thoughts on “7 Billion People in The World… And I’d Still Choose You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s