A Dressmaker’s Dilemma

image

Hampir tiap kali dibeliin atau dapet kado berupa gamis, abaya, jilbab dan cadar yang udah jadi, pasti ujung-ujungnya dirombak dan dipermak. Dari yang harga standar sampe mihil ratusan ribu, tetep nggak ngaruh.

Nggak tau ya, ngerasa ada yang nggak pas aja waktu dipakainya. Lengannya nggak nyaman, bajunya kepanjangan, jatuhnya di muka kurang pas, lebarnya kesempitan, dll. Kalopun dipaksakan pakai juga, pasti nggak betah buru-buru pengen ngelepas😀

Inilah dilema penjahit yang biasa bikin bajunya sendiri. Maunya ya customized sesuai selera, bukan yang size standar konveksi atau butik. Bukan berarti baju jadi semuanya nggak enak dipakai ya.. But I think, it’s all about taste🙂

Pernah dikadoin abaya full bordir.. Hihi yang ngado pasti nggak tahu nih kalo sayah nggak suka bordir-bordiran. Bukan ‘gue banget’ deh, hehe.. Apalagi pas izin ke suami, beliau nggak ngizinin karena terlalu ‘rame’. Ujung-ujungnya saya kasih ke orang lain, daripada nggak manfaat di lemari.

Meski membuat pakaian sendiri, saya tidak suka banyak model yang ribet. Pola gamis andalan ya cuma model A dengan variasi warna di bagian atas dan lengan. Itu aja dari tahun ke tahun nggak ganti-ganti. Nggak punya yang model layer sampe berlapis-lapis atau model kembang mekar pake hiasan bling-bling.

Lha wong gamis nikah aja polos, bahannya yang biasa buat setelan gamis akhwat, cuma ada aksen belah tengah dengan list bisban biru muda. Jilbabnya juga sederhana. Bergo instan dihias bros warna silver di bagian dada. Udah itu aja. Saya memang nggak suka yang ribet-ribet. Simpler is better.

Makanya kalo ada yang nanya, “Nanti mau dibeliin oleh-oleh apa? Jilbab apa gamis?”

Saya langsung buru-buru menolak, “Nooo. Jangan beliin baju atau jilbab, plis. Beliin souvenir, makanan atau kain sekalian deh!” 😛

Dan terbukti.. Kado walimah dulu banyaknya perabot rumah tangga, sprei, buku dan… kain. Bahkan kain warna peach yang kemarin baru jadi gamis, adalah kado waktu saya walimah dulu. Udah 8 tahun ngendon di rak dan baru sempet dijahit bulan ini. Ehehehe.

Alhamdulillah yaaa, lembaran-lembaran kain itu jauh lebih bermanfaat dibanding baju jadi, karena bisa dibentuk dan dibikin sesuka hati tanpa harus rombak sana-sini.

Demikian sesi curhat sore ini😀

~ Jakarta, suatu sore di penghujung tahun 2015.. Alhamdulillah, thanks Allah for giving me this sewing skill🙂

8 thoughts on “A Dressmaker’s Dilemma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s