Efek Positif Homeschooling: Ikatan Luar Biasa Antara Saudara

image

Pagi ini ketika scrolling down news feed Facebook, saya mendapati tulisan Teh Kiki Barkiah –yang selalu keren dan mencerahkan, as always– berikut ini:

Yang Keren, Yang “Katanya” Gak Keren
(Membangun Konsep Diri Seorang Pemuda)

Salah satu bonus yang luar biasa Allah berikan sebagai efek positif dari homeschooling adalah ikatan yang luar biasa antara sodara. Suatu hari kami berlibur ke Bandung Carnival Land, semacam mini Dufan di kota Bandung dengan harga pasar malam. Tempat berlibur seperti ini menyajikan berbagai wahana bermain, namun tidak semua wahana bermain dapat digunakan oleh semua usia. Ada yang bisa dimainkan oleh semua umur, ada juga yang hanya untuk anak-anak, ada juga yang hanya untuk anak dewasa.

Ada sebuah wahana bernama Junior Aviator, semacam karusel berbentuk pesawat. Saya meminta Ali dan anak lainnya untuk menemani Fatih memainkan ini, karena saya dan suami tidak boleh menaikinya. Maka Ali memangku Fatih agar dapat memainkannya. Selepas bermain, saya tawarkan untuk kembali bermain wahana tersebut karena masih ada jatah tiket untuk mereka. Ali pun berkata “if Fatih want, i want too” begitu juga Shafiyah menimpali “Yes If fatih want, i wan too” Padahal bisa saja mereka menghabiskan jatah bermain itu untuk permainan yang lebih mengasyikan untuk usia mereka. Sampai akhirnya Fatih kembali mengajak semua kakaknya untuk menemaninya dalam wahana bermain yang bagi saya hanya cocok untuk balita.

Di wahana lain, Shafiyah sempat menangis karena Ali dapat memainkan wahana kursi terbang sementara ia tidak boleh menaikinya karena tinggi badannya yang belum cukup. Melihat shafiyah menangis Ali yang hampir menaiki kursi terbang pun kembali turun, dan memilih untuk mencari wahana bermain lain yang dapat dimainkan bersama adik-adiknya. Kemudian mereka kembali ceria bersama dalam wahana pilihan yang bisa dimainkan bersama.

Saya sempat berdiskusi ringan dengan sang ayah saat melihat anak-anak bermain. Saya tahu bahwa kebanyakan anak seusia Ali 912 tahun) sudah enggan bermain dengan adiknya, apalagi jika harus mengasuh adiknya. Bahkan kebanyakan remaja sudah merasa “risih” bila harus diantar jemput oleh orang tuanya di sekolah. Mereka memang memiliki kebutuhan untuk memiliki me-time bersama teman-teman seusianya. Saya pun mengerti bahwa Ali membutuhkan hal itu. Maka salah satu alasan ia mengikuti program pesantren menghafal quran, adalah demi pemenuhan kebutuhannya untuk memiliki teman bermain yang seusia dengannya dalam kerangka kegiatan yang positif.

“Sebenernya itu masalah konsep diriaja pak, mereka yang merasa risih harus menjaga adik atau dijemput ayah ibu karena tidak mau dilihat teman-temannya, karena mereka merasa itu ‘gak keren’ ” Kata saya kepada suami. “Betul mi, sekarang tugas kita bagaimana membuat mereka berfikir kalo terlibat mengurus adik-adik itu ‘keren’ ” timpal suami. Mungkin anak remaja saling meledek teman saat mereka melihat teman yang lain masih dijemput dan diantar oleh orang tua mereka, padahal bonding yang kuat akan terbentuk saat orang tua meluangkan diri untuk berbicara dalam perjalanan bersama para pemuda mereka. Apabila anak dibuat merasa bangga, bahwa mereka adalah para pemuda yang begitu dekat dengan orang tua mereka–sesuatu yang mungkin tidak dimiliki oleh teman-temannya, maka mereka akan tetap percaya diri ketika teman-temannya meledeknya dengan julukan “anak mami”. Biasanya anak-anak yang meledek, adalah mereka yang tidak merasakan kehangatan dan kedekatan dengan orang tua mereka dengan cara seperti itu.

Pemuda kita harus dibuat merasa bangga saat kelak dengan kedaraannya ia dapat mengantar sang ibu berbelanja dan hanya berjalan berdua bersama sang ibu. Pemuda kita harus dibuat merasa bangga saat ia hanya berjalan berdua di mall bersama sang ayah untuk memenuhi keperluannya. Perjalanan spesial bersama orang tua mereka seperti itu, khususnya dengan orang tua berlawan jenis, begitu dibutuhkan untuk membangun bonding yang kuat antara pemuda-pemudi dengan orang tua mereka. Bonding ini yang akan banyak meningkatkan ketahanan diri mereka dari pengaruh arus negatif pergaulan. Pemuda kita harus dibuat merasa bangga saat ia disibukkan untuk mengasuh adik-adiknya, mengajak main mereka meski dengan permainan yang hanya cocok untuk dilakukan untuk usia anak-anak. Bukan sebaliknya, ia merasa bangga ketika dapat menjahili adik dan membuatnya menangis.

Di perjalanan banyak yang saya bahas bersama Ali, salah satunya menyatakan rasa bangga saya karena ia masih mau bermain bersama dan mengasuh adik-adiknya. ” I like to play with my sibling, it is OK for me, but sometimes I just need to play with my friends in my age without them” Saya pun mengerti dan berjanji untuk sesekali mengantarnya bermain bersama teman seusianya tanpa kami, asalkan kegiatan yang dipilih adalah kegiatan yang kami setujui seperti kegiatan berolahraga bersama.

Pengasuhan pemuda pra akil baligh di jaman ini juga merupakan persaingan tentang menumbuhkan konsep diri pada diri mereka, Tentang makna “keren” yang dianut oleh mereka. Saya mengerti bahwa semua pemuda ingin merasa “keren” dan telihat “keren” dalam status sosial mereka. Mereka yang sudah merasa “keren” karena prestasi akademik mereka, biasanya tidak terlalu ingin mencari eksistensi diri dengan mengistimewakan penampilan. Namun banyak pula para remaja yang memuaskan eksistensi mereka untuk mendapat julukan “keren” dalam hal kecantikan, ketampanan dan penampilan. Sebagian diantara mereka tidak memiliki ide dan kemampuan untuk merasa keren dalam hal prestasi dan penampilan, maka mereka merasa “keren” dengan memilih eksistensi sebagai anak nakal yang hobi ngongkrong, merokok, membolos sekolah, ikut gank motor dll. Ya…. sebenernya semua didorong karena perasaan mereka untuk tampil “eksis” dan “keren”.

Maka tugas kita para orang tua yang sejak kecil terlebih dahulu memunculkan makna “keren” dalam diri calon pemuda sebelum fikroh lain menawarkan makna “keren” yang lain. Pemuda yang “keren” itu yang Shalat wajib di masjid setiap saat. Pemuda “keren” itu yang menghiasai shalat wajib dengan shalat sunnah. Pemuda “keren” itu yang hafal 30 juz Al-quran. Pemuda “keren” itu yang berinteraksi dengan Al-quran setiap hari. Pemuda keren itu yang zdikir pagi dan sore. Pemuda “keren” itu yang menghiasi malam dengan ibadah bukan begadang. Pemuda “keren” itu yang sering melakukan shaum sunnah. Pemuda “keren” itu yang cinta ilmu dan berprestasi dalam belajar. Pemuda “keren” itu yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakatnya. Pemuda “keren” itu yang memiliki ikatan kuat dengan orang tau mereka. Pemuda “keren” itu yang beramar makruf nahi mungkar. Pemuda “keren” itu yang belajar memiliki kemandirian finansial sejak usia baligh. Pemuda”keren” itu yang siap menikah saat hasrat terhadap lawan jenis menggelora dalam dirinya.

Masih panjang perjalanan ini untuk menumbuhkan konsep diri pada anak-anak agar mereka merasa diri mereka “keren” diatas jalan yang digariskan Al-quran dan sunnah meski pemuda di dunia ini merasa “keren” dengan tema sebaliknya. Kami ingin anak-anak tidak tergiur dengan predikat “keren” yang disematkan oleh manusia. Yang paling utama adalah bagaimana menumbuhkan dalam jiwa mereka bahwa yang paling penting mereka terlihat “keren” di mata Allah.

Potret efek positif Homeschooling seperti yang dipaparkan teh Kiki di paragraf pertama, saya temukan sendiri ketika pertama kali berkunjung ke rumah Ummu Allegra sekira setahun yang lalu.

Waktu itu saya berbincang-bincang dengan Allegra di teras depan.

  • Me: Kakak Allegra udah sekolah?
  • Allegra: Udah..
  • Me: Kakak Allegra sekolah di mana?
  • Allegra: Sekolahnya di rumah..
  • Me: Kakak Allegra senang tidak sekolah di rumah?
  • Allegra: Senang.. (tersenyum)
  • Me: Kakak Allegra nggak kepingin kayak teman-teman Allegra yang lain, tiap hari berangkat ke sekolah?
  • Allegra: Enggak.. (senyum malu-malu)
  • Me: Kenapa? Emang Allegra nggak bosen di rumah terus?
  • Allegra: Enggak bosen. Enak kalo di rumah kan bisa main sama Alleira dan Aleeka. Seru.. Hehehe.. (she gave her sweetest smile)
  • Me: Masya Allah, barakallaahu fiik kakak Allegra ❤

Contoh lain saya lihat ketika berkunjung di lain waktu, saat Allegra (7 tahun) dan adiknya Aleeka (waktu itu usianya masih 2 tahunan, kalo nggak salah), dengan cekatan menjaga adik mereka yang masih bayi. Waktu itu umminya sedang ada perlu di dalam.

Saya dibuat takjub dengan sifat ngemong mereka terhadap adik-adiknya. Dewasa sekali. Ketika adiknya rewel, berusaha ditenangkan, diajak jalan-jalan ke teras, diberi mainan dan diajak main bareng.

Ketika adiknya mengambil kue, buru-buru mereka menghampiri (di benak saya waktu itu, kakaknya pasti mau minta kue adiknya).. Tapi yang terjadi adalah, si kakak dengan senang hati membukakan bungkus kue untuk adiknya. Dan ia nggak minta kue itu sedikitpun. Masya Allah.

Setelah umminya keluar, saya ungkapkan rasa kagum saya kepada beliau.

“Mbaaa, anak-anak kenapa bisa sweet banget gini sih.. Mau dong resepnyaaa..”

😂 😂 😂

Umminya tertawa. Dan menurut beliau, memang Allegra dan adik-adiknya seperti itu setiap hari. Saling menyayangi dan merasa memiliki tanggung jawab terhadap adiknya, terutama ketika umminya sedang tidak di tempat.

Jadi, ketika ummi mereka nggak ada, bukan ajang balas dendam mereka ke adiknya, atau kesempatan untuk mengusili dan menjahilinya, tapi malah mereka gunakan untuk mengekspresikan rasa sayang, menjaga adiknya dengan telaten dan perhatian. Tanpa ada rasa terpaksa dan terbebani.

Menurut umminya, pasti ada masa-masanya mereka cranky, bertingkah dan minta perhatian lebih. Ada masanya mereka bersikap childish, ribut, rebutan khas kakak-adik dan sebagainya. Yah namanya juga anak-anak😀

Tapi hanya sesekali saja. Selebihnya, betul-betul perilaku yang patut diteladani dan diikuti oleh anak-anak lainnya. Terutama oleh anak-anak saya. Xixixixi. PR besar bagi saya selaku orangtua 😁

Barakallaahu fiikum, Ummu Allegra dan keluarga. Dari kebersamaan kita waktu itu, saya belajar banyak hal. I got manyyy positive vibes, alhamdulillah. Itulah perlunya kita dikelilingi oleh orang-orang dan hal-hal yang positif, agar kita bisa tertular energi positif mereka.

Semoga Allah mudahkan tekad kita semua untuk menjadi orangtua yang lebih baik bagi anak-anak kita tercinta❤

~ Jakarta, ditulis di tengah-tengah tumpukan kain aneka warna, Januari 2016..

© aisyafra.wordpress.com

6 thoughts on “Efek Positif Homeschooling: Ikatan Luar Biasa Antara Saudara

  1. ukhti, apa pendapat anti tentang pendidikan dg model kuttab. ana buru aja googling ttg kuttab, tapi masih belum punya gambaran yg klir ttg metode pendidikan ini..barangkali anti punya info atau gambaran ttg ini. syukran..

    • Pernah dengar sekilas soal metode Kuttab, ukht.. Tapi saya sendiri juga belum paham betul, bagaiman teknisnya dan apa yang membedakan metode ini dg metode pendidikan yang lainnya.

      Mungkin ada pembaca yang bisa bantu mencerahkan?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s