Mari, Sertakan Sumber Asli Ketika Menyebarkan Sebuah Tulisan :)

red cup and book

Hello, dear readers.. How have you been? I’m fine, as always, alhamdulillaah🙂

Sore ini ketika berselancar di newsfeed FB, saya menemukan tulisan berikut dishare oleh beberapa teman:

SAATNYA JATUH CINTA LAGI

✒ Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah حفظه الله تعالى

Seiring makin bertambahnya usia pernikahan,
kedewasaan dan juga anak, kita makin menyadari..

Bahwa ada hal-hal yang tetap sama, dan ada hal-hal yang tak terelakkan untuk berubah.
Ada hal-hal yang harus diucapkan, ada yang cukup disimpan dalam hati saja.

Kita pun jadi belajar utk mengartikan makna romantisme itu sendiri sangatlah luas.

Romantis tidak hanya soal bunga, candle light, dinner (baik di resto ternama atau yang insidentil karena mati listrik), sekotak cokelat mahal atau kartu ucapan “I Love You” yang sengaja ia tinggalkan di meja sebelum berangkat kerja.

Romantisme tidak cuma soal itu, ternyata.

For some people..

Romantis adalah ketika seorang istri berletih-letih belajar memasak di awal pernikahan mereka, demi menciptakan menu yang disukai suaminya. Meskipun ia sendiri tidak menyukainya..

Romantis adalah ketika seorang suami telaten merawat istri dan anak-anaknya yang sedang sakit.
Mengambil alih semua tugas rumah tangga yang sanggup ia kerjakan.

Romantis adalah ketika seorang suami dengan sigap mengganti popok si kecil yang terbangun tengah malam, saat sang istri terlelap karena kelelahan.

Romantis adalah saat sepasang suami istri bahu membahu merapikan rumah dan memandikan anak-anak ketika mereka sedang digegas waktu untuk pergi ke majelis ilmu disuatu pagi.

Romantis adalah saat seorang suami membangunkan istrinya untuk shalat malam dengan lembut, dan memerciki wajahnya dengan air ketika matanya masih ingin terpejam.

Romantis adalah kerelaan seorang suami untuk menahan emosi ketika mendapati istrinya tengah marah, berlapang dada untuk memaafkan dan memberi udzur ketika sang istri bersalah..

Romantis adalah ketika seorang suami berkata pada istri tercintanya, “Mencari nafkah itu tanggung jawabku, tugasmu adalah mengurus rumah dan mendidik anak-anak kita..”

Romantis adalah ketika seorang suami meminta sang istri untuk menutup aurat secara sempurna, sebagai bentuk penjagaan atas hartanya yang paling berharga.

Romantis adalah ketika seorang suami atau istri menolak permintaan pasangannya yang tidak sesuai syari’at dengan cara yang penuh hikmah.
Karena CINTA TIDAK BERARTI SELALU MENURUTI KEINGINAN ORANG YANG DICINTAINYA, terlebih jika keinginannya bertabrakan dengan rambu-rambu syar’i.
Itulah cinta karena Allah yang sejati dan abadi..

Romantis adalah ketika seorang suami menundukkan pandangannya ketika tak sengaja berpapasan dengan lawan jenisnya saat jalan dengan sang istri, dan mengeratkan genggaman tangan mereka lebih erat lagi..

Romantis adalah saat seorang suami bersedia untuk mendengarkan cerita istrinya yang panjang lebar, nggak beraturan dan nggak penting itu sampai tak sengaja ketiduran.

Romantis adalah kesabaran seorang suami ketika sang istri menyambutnya di pintu dalam keadaan kacau balau, belum sempat mandi apalagi berhias, rumah berantakan tak berbentuk dan tak ada makanan tersaji di meja. “Nggak apa, malam ini kita makan di luar yuk..”

Romantis adalah KESEDIAAN SESEORANG UNTUK MENERIMA DIRI PASANGANNYA SEUTUHNYA, lengkap dengan segala kekurangan, kelebihan dan masa lalunya, tanpa banyak mengatur dan meminta.

Romantis adalah saat memandang wajah seseorang yang kita cintai dalam lelapnyasetelah seharian penat bekerja.. Dan sejenak menyadari, telah menghabiskan tahun-tahun penuh bahagia bersamanya, seseorang yang
Allah pilihkan untuk menemani pahit manis perjalanan ini..

Romantis adalah ketika sepasang suami istri SALING MENGINGATKAN DAN MENGUATKAN DALAM “KESABARAN” & “KEBENARAN”. Karena mereka tidak hanya menginginkan kebersamaan di dunia saja, melainkan hingga ke Jannah-Nya..

Romantis adalah ketika engkau melihat kedalam matanya di sela-sela obrolan santai kalian, dan menemukan masih ada cinta di sana. Cinta yang sama seperti saat pertama kali bertemu dulu..

Dan yang, romantis adalah saat seorang suami memasangkan helm ke kepala istri tercintanya ketika mereka hendak bepergian dengan motor.

Ternyata banyak hal-hal romantis yang dilakukan pasangan, yang terkadang luput dari perhatian kita.
Betapa sering pasangan berbuat baik kepada kita, tapi tak pernah puas kita untuk terus menuntut lagi dan lagi. Bahkan meminta sesuatu di luar kadar kesanggupan pasangan kita.

Astaghfirullah..
Adakah kita seperti itu terhadap istri atau suami kita selama ini?

Terlebih-lebih kita, PARA ISTRI YANG TABIATNYA ADALAH SERING MENGKUFURI KEBAIKAN SUAMI..

“Dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat KEBANYAKAN PENDUDUKNYA ADALAH KAUM WANITA.
Shahabat pun bertanya, ‘Mengapa (demikian) wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam?’
Beliau shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, ‘Karena kekufuran mereka.’
Kemudian ditanya lagi, ‘Apakah mereka kufur kepada Allah?’
Beliau menjawab, ‘MEREKA KUFUR TERHADAP SUAMI MEREKA, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya.
Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’
(HR. Bukhari no. 105)

Seperti yang dituturkan dalam syair indah berikut ini..
“Kulihat kaum laki-laki memukul istri mereka, Namun tanganku lumpuh untuk memukul Zainab,
Zainab adalah matahari, sedang wanita lain adalah bintang-bintang..
Jika Zainab muncul, tak akan nampak lagi bintang-bintang..”
(Siyar A’lamin Nubala 4/106)

Banyak sisi baik dari pasangan yang membuat teduh hati ketika kita memandangnya, atau mungkin saat sekadar mengingatnya

Jujurlah pada diri sendiri..

Pasangan kita saat ini, betapa ia begitu berjasa mendampingi kita sejak bertahun-tahun lamanya.
Dialah tempat kita mencurahkan rasa. Dialah seseorang yang paling mengenal dan mengerti, siapa dan bagaimana kita sesungguhnya, dan memilih untuk tetap tinggal dan terus mencintai kita, setelah semua yang terjadi.

Cinta yang dulu mekar di awal-awal pernikahan, bisa pudar seiring berlalunya waktu. Ia bisa berubah menjadi layu sebelum akhirnya mati dan musnah.

Maka rawatlah cinta itu agar selalu berkembang dan terawat. Siramilah perasaan itu dengan hal-hal yang romantis dan penuh makna, namun sederhana…

Sederhanakanlah..

Seperti membukakan pintu mobil untuk istri tercinta bagi yang punya mobil, atau memasangkan helm ke kepalanya ketika hendak bepergian dengan motor.

Atau merapikan anak rambut yang ‘mengintip’ dari balik jilbabnya dengan tatapan penuh kasih sayang.

Ungkapan cinta yang terlihat remeh, kecil dan sepele, tapi penuh makna. Setidaknya bagi dirinya, seseorang yang kita cinta.

Ehem.. Saya mau klarifikasi sedikit ya teman-teman.. Mic please, heheheu😉

Tulisan yang dinisbatkan kepada Ust. Syafiq Reza Hafizhahullah di atas sebetulnya bukan tulisan beliau. Aslinya adalah artikel di blog ini. Sila simak paragraf selanjutnya ya..

Pertama kali nemu tulisan yang katanya tulisan Ustadz Syafiq ini, di grup ummahat sekolah si sulung Harits. Karena saya yang menulis, tentu saya hapal sekali tiap kalimat yang terangkai dalam paragraf-paragraf, dari awal sampai akhir.

Saat itu saya coba meluruskan, bahwa itu bukan tulisan Ustadz Syafiq. Saya tidak bilang itu tulisan saya. Cukup saya kasih link artikel aslinya aja.

Ummahat yang share ternyata dapat dari grup sebelah, dan beliau nggak tahu kalau itu bukan tulisan Ustadz Syafiq. Intinya beliau hanya forward aja. Laa ba’sa saya bilang, toh saya hanya meluruskan saja, bahwa itu bukan tulisan beliau.

Ternyata, adik saya sendiri, Rarie, nggak tahu kalau tulisan ini adalah tulisan kakaknya. Hampir aja dishare di grup WA keluarga kami. Keduluan dishare di grup ummahat tadi. Ketawa berjama’ahlah kami semua.

Katanya,

“Alhamdulillah belum aku share ke grup keluarga, kalo udah, abis deh aku diketawain.. Ahahaha..”

Bukan satu dua kali tulisan saya di blog, dishare dan disebarluaskan. Via WA, blog, Twitter, FB, IG, Path, dll. Ada yang jujur mencantumkan sumbernya, ada yang tidak mencantumkan sumber, ada pula yang sengaja mengaku-ngaku bahwa tulisan itu miliknya.

Selama saya nggak tahu sih, it’s fine aja. Toh yang penting isi artikelnya bermanfaat buat orang lain. Alhamdulillaah, haadza min fadhli Rabbii..

But there is one thing that we, as social media user, should know before sharing an article or spreading a news: GIVE THE CREDIT TO THE ORIGINAL SOURCE.

Pernah dengar yang namanya amanah ilmiyah? Nah, if not.. Just go Google it. Atau bisa baca-baca tulisan dr. Raehanul Bahraen di sini -> Menunaikan Amanat Ilmiyah dan Jujur Dalam Tulisan.

Saya pribadi, sama sekali nggak keberatan jika tulisan saya disebarluaskan, asal.. Sertakan sumber aslinya. Yang demikian akan memudahkan untuk melacak siapa penulis aslinya, kemana harus melayangkan kritikan dan masukan jika ada hal-hal yang tidak sesuai fakta atau melenceng sehingga butuh untuk diluruskan.

Seperti halnya tulisan ini yang judul aslinya: Romantis yang Sederhana. Mungkin pengutip tulisan ini hanya melihat dari kutipan awal postingan di blog saya:

“Salah satu wujud romantisme seorang suami kepada istrinya adalah saat ia memasangkan helm ke kepala istrinya ketika hendak bepergian..” (Ustadz Syafiq Reza hafizhahullah)

Betul bahwa itu adalah tulisan beliau, tapi hanya sampai situ saja. Selebihnya, saya yang meramu dan merangkai kata sampai tuntas ke paragraf terakhir.

Yang membuat saya sedikit heran, judul diubah, isi diedit dan dihilangkan beberapa bagian.. Lalu dinisbatkan kepada Ustadz Syafiq Reza tanpa menyertakan link aslinya. Entah maksudnya apa😀

question mark on keyboard

Rasa-rasanya.. Malu saya jika tulisan ini dinisbatkan kepada beliau, seorang doktor alumnus universitas Madinah yang masya Allah ilmunya… Semoga Allah menjaga beliau dalam keistiqamahan di atas sunnah.

Jika beliau menulis pun, saya yakin, pasti kualitas isi tulisannya jauh dengan tulisan saya ini. Pasti banyak dalil, ayat dan hadits yang disematkan. Pun uraian dan diksi yang digunakan jauh lebih berbobot dibanding tulisan saya ini yang.. Ah, bagaikan remahan nastar yang kelindes buldozer. Nggak ada apa-apanya😛

So please, bagi siapapun yang ingin menyebarluaskan tulisan saya, silakan, monggo, tafadhal.. Asal.. cantumkan sumber aslinya ya. Jangan salah cantumkan sumber, salah mencantumkan nama orang bisa rumit urusannya. Apalagi jika diaku-aku sebagai hasil karya sendiri.

Mulailah jujur dari diri sendiri, dari hal terkecil. Ini bukan hanya soal hak antara sesama saudara, tapi lebih kepada adab dan etika dalam menyalin dan menyebarluaskan hasil karya orang lain. Bahkan hasil karya umat beragama lain pun wajib kita hormati dan hargai. Itulah adab seorang Muslim.

Mari mulai belajar menghargai milik orang lain. Bahwa setiap karya yang dihasilkan, ada usaha dan ide rumit di baliknya, sesederhana apapun karya itu bagi kita. Orang lain mungkin tidak tahu kalau kita tidak jujur, tapi Allah..? Sanggupkah kita lepas dari pengawasanNya walau sejenak?

Dan lagi..

Masa’ iya Ustadz Syafiq nulis artikel kayak begini? Tulisan beliau pastilah sekelas buku Setengah Isi Setengah Kosong atau Andai Aku Tidak Menikah Dengannya yang tersohor itu. Bukan yang random dan curhat abis kayak tulisan-tulisan saya di blog😄

Akhir kata, bagi teman-teman yang mau cek link asli tulisan ini, sila berkunjung ke sini:

 Romantis yang Sederhana -> https://aisyafra.wordpress.com/2015/01/16/romantis-yang-sederhana/

Thank you for reading this long post. Have a nice evening, all🙂

~ Jakarta, ditemani hujan rintik-rintik dan secangkir teh hangat.. February 2016.

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Tumblr ]

 

8 thoughts on “Mari, Sertakan Sumber Asli Ketika Menyebarkan Sebuah Tulisan :)

  1. Kemarin baru aja tau, ternyata mencantumkan sumber artikel/gambar/video dengan hanya memberi keterangan: google atau youtube atau lainnya tp detailnya itu jg merupakan pencurian, pendapat mbak sndiri gmn?

  2. Btw, afwan sebelumnya, mbak. Aku sering share tulisan mbak tya. Cuma biasanya aku langsung kirim link ke whatsapp (karena males copas :P), jadi biar orang2 sendiri yang langsung pada meluncur ke sini, gak perlu disuapin…😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s