Oknum

good character

Lagi-lagi tentang “Oknum” Ikhwah Ngaji…

Sore ini saya berbincang via Whatsapp dengan seorang teman sesama wali murid di sekolah si sulung. Sampailah kami pada percakapan:

“Temen dulu pernah bilang: ‘Loe yakin mau ke lingkungan itu? Gw aja nyesel… Orang yang udah ngaji itu omongannya nyelekit banget loh.. Mendingan loe di lingkungan awam tapi loe ngaji salaf.. Daripada di lingkungan salaf tapi loe jadi males ngaji’.

Dan itu terbuktiii.”

Demikian ucapan teman saya kepada saya dan beberapa orang di grup. Teman saya itu baru kenal sunnah, baru mulai pakai hijab syar’i, baru mulai berhijrah, bahkan berhijrah tempat tinggal menuju lingkungan yang ia anggap jauh lebih baik..

Serius, dengernya sedih banget. Jleb jleb jleb. It’s like a slap right on my face😦

Saya mencoba meyakinkan, bahwa nggak semua seperti itu.. Masih banyak orang ngaji yang akhlaknya baik, yang lisannya terjaga, yang muamalah dengan sesamanya patut dijadikan contoh.

Jawaban darinya:

“Iya ga semua… Intinya adalah ya jangan berharap pada manusia… Jangan menganggap orang yang udah ngaji itu pasti lurus…”

Di satu sisi, saya sendiri merasakan kekecewaan yang dirasakan teman saya tersebut.

Jujur saja, sejak kenal dakwah sunnah akhir tahun 2005, baru kali ini saya menemukan lingkungan (oknum) orang ngaji yang akhlaknya seburuk itu. Padahal berjilbab lebar. Padahal mengaku orang pengajian. Padahal berjenggot dan tidak isbal.

Subhanallaah..

Sampai-sampai saya sulit percaya bahwa mereka benar-benar pernah ngaji, pernah belajar adab dan akhlak. Karena setahu saya, orang yang sudah ngaji pastilah beda dengan yang belum ngaji. Kemanakah perginya ilmu dan rasa takut mereka terhadap Allah?

Wal’iyadzubillaah..

Semoga Allah hindarkan kita dari ‘oknum’ seperti mereka, dan jauhkan kita dari sifat-sifat tercela yang membuat manusia lari dari kita.

Later she said,

“Yes… aku masih merasa kalau manhaj salaf adalah manhaj yang paling benar in sya Allaah. Mungkin itulah tantangan yang harus aku hadapi..

Di sini aku jadi yakin, memang akhlak gak ada hubungannya dengan penampilan..”

Di sini perlunya kita yang sudah ngaji menjaga adab dan akhlak. Agar saudara kita, baik yang sudah lama ngaji maupun yang baru ngaji, tidak lari dari dakwah sunnah karena adab dan akhlak kita yang jauh dari tuntunan sunnah itu sendiri.

Saya percaya, masih banyak orang-orang ngaji yang akhlaknya baik lagi santun. Yang mengaplikasikan ilmu yang mereka dapatkan dalam bentuk amalan nyata.

Tidak hanya membanggakan kenal ustadz Fulan atau istrinya ustadz Fulan. Tidak hanya berhijab lebar bahkan bercadar. Tidak hanya mengaku ikhwah salaf..

Tapi…

Perilaku dan akhlak jauh dari manhaj lurus yang mereka klaim berada atasnya. Tak berbekas.

“Semua orang mengaku punya hubungan dengan Laila.. Sedang Laila sama sekali tidak mengenal mereka.”

To err is human.

Sure, nobody’s perfect. Yang sudah ngaji ataupun belum, sama-sama bisa melakukan kesalahan. Tak ada manusia yang bersih dari dosa, bukan?

Namun orang yang (mengaku) sudah ngaji, setidaknya ketika diingatkan oleh ayat-ayat Allah, akan tersentuh hati mereka karena khauf (rasa takut) mereka kepada Allah.

Langsung ruju’ kepada kebenaran, bukan merasa sudah banyak ilmu dan amal sehingga kebal akan nasehat. Alih-alih menerima kekurangan dirinya, malah merendahkan orang yang memberi nasehat.

“Apakah sombong itu? Sesungguhnya sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”

Memang benar, nggak semua orang yang sudah ngaji itu jelek akhlaknya dan nggak semua yang masih awam itu baik akhlaknya. Jangan digeneralisir. Kembali ke karakter masing-masing.

But under my point of view, kalau udah ngaji, at least beda dong yaa sama yang belum ngaji. Minimal kalau udah ngaji, sedikit banyak sudah tau ilmunya. Sudah tahu hukumnya. Sudah ada rasa takut sama Allah jika melakukan maksiat, perbuatan zhalim, dan semisalnya. Ada pembedanya.

What to be noted is..

Nggak semua orang paham bahwa yang sebagian itu tidak mewakili semuanya. Terutama bagi yang baru atau belum ngaji sama sekali. Tahunya mereka ya, satu ikhwan mewakili semuanya. Makanya tanggung jawab kita berat nih bawa-bawa nama sunnah, menisbatkan diri ke manhaj salaf kalau kelakuan nggak jauh beda sama mereka yang belum ngaji dan kenal sunnah.

Alhamdulillaah saya mengenal dekat beberapa dari ikhwah ngaji yang akhlaknya, masya Allah.. Dan saya merasa nyaman berada di dekat mereka. Among the fakers, they are so rare and precious ❤

Just a little advice🙂

Lurusin niat kita ngaji. Lurusin niat kita bermuamalah terhadap sesama Muslim. Lower your expectation to human. Turn to Allah, please Him only. Hanya mengharap wajah Allah saja, dan bukan selainNya.

I remember someone said this to me…

“Expectation is root of all heartache. Except your expectation to Allah. He is the one who will never let you down..”

Mengutip kata-kata Ustadz Mohammad Fauzil Adhim dalam laman Facebooknya:

“Maka, aku nasehatkan bagi diriku sendiri, janganlah menjadi penghalang hidayah dengan bersikap tak manis kepada orang yang baru mulai tergugah hatinya untuk belajar agama.

Buatlah ia merasa nyaman.

Ingatlah, Al-Qur’an memerintahkan:

“Ajaklah manusia ke jalan Tuhanmu.” (ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ).

Maka jika ada yang ingin ke jalan Allah tanpa engkau seru, sambutlah ia.”

~ Jakarta, February 2016.. a little note to myself.

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Tumblr ]

2 thoughts on “Oknum

  1. Walau aku blm ngaji salaf.. tp inget bgt dulu pas di pondok diingetin terus menerus sama ustadzah ttg adab dan akhlak yg mendahului ilmu.. mau ilmu setinggi apa jg kl adabnya gak dipake ktnya percuma.. makanya ulama2 dlu bljar adab sampai bertahun2 lamanya.. *cmiiw aku yg gak ada apa2nya ini heeee.

    Soal oknum ky gitu jg pernah nemuin mba, kebetulan dlu kuliah di kampus yg banyak ikhwan akhwatnya.. kdg mereka lbh judes dan cenderung meremehkan drpd yg kalo memandang kami yg menurut mereka gak ngaji.. pdhl yg berhak menilai seseorang baik buruk mah Allah semata kan yaaaa. Bahkan kalo diri udh merasa lebih baik dr org lain bukankah itu jd bibit2 kesombongan ya? Heee. Thanks for share anyway🙂

    • “Adab dulu baru ilmu..”🙂

      Betul banget, setinggi apapun ilmu, jika tidak diimbangi oleh adab dan akhlak yang baik, bagai pohon yang tak berbuah, bukan? Semoga kita terhindar dari akhlak dan sifat2 yang buruk ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s