Poligami Bukan Bahan Guyonan

coffetime

Pagi ini, ketika mengulik Facebook timeline archives tahun lalu, saya menemukan postingan lawas yang ditulis oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal berikut ini:

# Prinsip Ane

Kalau prinsip saya sendiri, malas duduk-duduk dengan bapak-bapak yang senangnya bicara poligami. Sama juga kalau di group WA dan lainnya, bahkan biasa saya tinggalkan group semacam itu.

Bahkan saya pernah dengar dari Ustadz Abdullah Sholeh Hadrami: Kalau ada yang ngomong poligami dalam diskusi, lalu ditutup tertawa, biasa laki-laki seperti itu tidak pernah berani untuk berpoligami.

Agree Ustadz …

Terserah bapak-bapak lain punya prinsip yang lain, monggo. Laa ikroha fid diin.

Note:

Saya akui poligami itu sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun bukan syariat yang wajib. Syariat itu berlaku bagi yang mampu dan bisa berbuat adil, dan tidak menzalimi istri yang lain.

Prinsip adil dalam Poligami: https://rumaysho.com/10426-poligami-bisakah-adil.html

Poligami yang Ditolak: https://rumaysho.com/613-poligami-wahyu-ilahi-yang-ditolak.…

# Berusaha untuk memperkuat tauhid …

Berikut komentar saya dalam postingan yang sengaja saya share dan saya tag suami agar membacanya.. *wink

“Poligami bukan bahan guyonan..”

“Sampai-sampai ada ikhwan yang share foto akhwat di grup lalu jadi bahan tertawaan. Naudzubillah..”

(Kutipan komen dari status ustadz Abduh Tuasikal)

Ini yang sering banget saya kritisi ketika buka grup WA suami dan isinya meme dan pic asli akhwat yang dijadiin lelucon.

“Calon yang kedua nih broo.. Bening.. Siapa berani.. Daftar yuukk. Hahahahaa..”

Fyi, akhwat tersebut wajahnya terbuka lho. Bermake-up pula. Menor deh.

Trus apa kabar, ghadhul bashar? Hellooww..

Seringkali saya melancarkan protes ketika ada kawan-kawan suami yang share foto-foto akhwat dan ngibril ngalor ngidul soal sunnah yang satu ini. Jangan salahkan sunnahnya, ia adalah syari’at Allah yang mulia. Salahkan ‘oknum’-nya.

Dan sebagian besar yang ngirim foto-foto itu adalah suami dari teman-teman akhwat di friendlist FB saya. Pengen sih sesekali istrinya saya kirimi japri, biar nasehatin suaminya. Tapi karena nggak begitu dekat, khawatir malah salah paham.

“A, kok grup itu isinya begitu sih? Kayak bukan orang ngaji aja. Malu lha sama predikat ikhwan ngaji, tapi gak bisa jaga pandangan. Coba ditegur, kalo nggak berubah juga, left aja. Itu adalah bentuk amar ma’ruf kita terhadap kemungkaran.”

“Perintah ghadhul bashar nggak cuma berlaku buat perempuan atau laki-laki kan?”

Misalnya gini ya.. Ummahat punya grup trus sambil guyon kita share pic laki-laki macho yang jenggotan dan nggantengnya masya Allah. Trus kita pandangin sampe terkagum-kagum. And then, eng ing eng.. Kita bandingin deh sama suami kita.. Jreenngg. Rela gak? Ehehehe..”

Habis itu suami langsung negor temen-temennya di grup. Tapi nggak ada yang komen. Sepiii. Wkwkwk. Bitter truth ya bro? Lol.

I personally don’t care if they say this and that. Istri bawel, suka ikut campur privacy suami, dominan, ngatur suami, endesbra endebsre. Say what you want, bro. I just shake it off 😉

Fitrahnya manusia memang suka melihat hal yang indah dan mengagumkan hati. Seperti perempuan yang juga suka melihat laki-laki yang ganteng, teduh, shalih pula. Fitrahnya manusia lah suka sama yang bening-bening.

Nggak ada salah kok dengan fitrah tersebut. Absolutely normal.

But at least..

Laki-laki dan perempuan yang sudah ngaji kan pastinya ada benteng, ada yang menahan supaya pandangan nggak lepas liar seperti orang yang belum punya ilmu. Itu yang harusnya membedakan kita dengan mereka yang belum ngaji, yang belum tahu ilmunya.

Sedihnya kalo yang begini dianggap wajar sama sebagian ikhwah.

“Yah, namanya juga laki-laki. Wajar brooo.. Woles aja keless..”

Kalau istri menasihati supaya nggak kebablasan, dibilang: lebay, baper, jeles, usil, etc.

Yah, sakarepmu sih kalo mau nyemplung jurang. Tapi jangan ajak-ajak suami saya yaaa.. Nyemplungo dewe. Bwahahaha.

Fyi.. Justru itulah fungsi suami istri, saling melengkapi, saling mengingatkan, saling menyelamatkan. Bukan saling cuek, saling abai, saling mementingkan diri sendiri. Mau sukses, mau nyemplung jurang, mau masuk neraka, dibiarin aja.

Speaking of privacy in marriage, I wrote about it here before. Remember, your marriage, your rules. Don’t let others convince you the otherwise.

Waspadalah pada satu saat di mana suami istri saling tidak peduli satu sama lain. Mau selingkuh, mau main belakang, mau open marriage, mau dapetin harta dari sumber haram. Yang penting saya dan anak-anak dikasih nafkah, dan dia pulang tiap hari.

No.

It’s a sign of an unhealthy relationship, you know. When you both reach to that point where you no longer care for each other. Beware. Your marriage might be on danger.

Loving is caring. I care for you, because I do love you❤

~ Jakarta, suatu pagi yang cerah di penghujung pekan, Maret 2016.

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Tumblr ]

4 thoughts on “Poligami Bukan Bahan Guyonan

  1. Ini juga yg saya paling ga suka mba.. Dulu jaman kuliah kalau udah mulai vocal, yg ada dibilang baper dkk lah sama temen yg ikhwan. Alhamdulillah sih suami juga ga suka guyon2 kaya gitu..

    Btw, saya juga sempet gedeg pas guyonan meremehkan tentang poligami muncul pas LGBT ramai belakangan ini, sampe ditulis juga di blog: http://wp.me/p1kRHu-Hw -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s