The Strangers

flowers in rain

Aneh  itu adalah ketika seseorang kerap menasehati agar berhati-hati dalam berucap, sering posting kata-kata dan berkirim pict tentang bahaya lisan..

Tapi, hobinya menebar fitnah, mengghibah, tajassus, tahassus, namimah, bukhtan dan tak segan-segan berdusta demi memuluskan rencana kejinya.

Benar adanya bahwa yang paling butuh terhadap nasehat-nasehat manusia adalah diri mereka sendiri.

Aneh  itu adalah ketika seseorang bersikap too sweet dan super ramah di depan orang yang dibencinya, sampai sangat tidak wajar kadar ramahnya. Cenderung lebay.

Namun berbalik membicarakan kejelekan orang tersebut di belakangnya, membunuh karakternya, mencemarkan nama baiknya di hadapan muslim lainnya.

Aneh  itu adalah ketika seseorang mencitrakan dirinya bersih dengan kata-kata hikmah penuh nasehat di dunia nyata dan sosial media, namun aslinya jauh dari image yang berusaha ia ciptakan.

And the strangest, also the funniest thing is..

Ketika seseorang berusaha tampil di panggung manusia sebagai pribadi yang baik lagi bijak tanpa cela, namun para penonton jauh lebih cerdas darinya. Mereka sudah lebih dulu tahu wajah asli di balik topeng yang ia kenakan.

Mereka tersenyum dan tertawa bukan karena mereka tertipu dan terhanyut oleh pesonanya, namun karena mereka merasa terhibur dengan kegigihannya menipu mereka.

Just like a clown, pretty entertaining for children🙂

Ain’t it strange?

Banyak hal-hal aneh lagi lucu di dunia ini. Zaman memang sudah terbolak-balik.

Yang benar diframe sedemikian rupa sehingga terlihat salah. Yang salah diputarbalikkan hingga terlihat benar.

Yang gigih menegakkan sunnah dibilang aneh lagi nyeleneh, sedang yang giat bermaksiat dianggap biasa.

Yang berani terang-terangan memperjuangkan kebenaran dibilang tidak cinta damai, tukang cari ribut. They called them the rebels. The troublemakers. The misfits. The provocateurs.

People are mocking them. Throwing rocks at them. Ridiculing them. Labelling them. Bullying them. Blaming and accusing them for the things they didn’t do.

Sedang yang adem ayem dalam kubangan dosa, hidup dalam gelapnya perilaku jahiliyah dan kemusyrikan, dianggap normal dan umum.

Well, that’s life. Berharap kepada manusia amat sangat melelahkan, namun berharap kepada Pencipta manusia jauh lebih menentramkan.

Verily, who are the strangers?

“Islam began as something strange, and it shall return to being something strange, so give glad tidings to the strangers.” ~Shahih Bukhari

Sudah sunnatullaah bahwa penegak kebenaran jumlahnya amatlah sedikit dibandingkan pembela kebathilan. Tak perlu heran jika yang sedikit tersebut dianggap asing dan aneh.

Menegakkan al-haq memang besar resikonya. Karena dalam al Qur’an sendiri disebutkan: kebanyakan manusia benci kepada kebenaran. Termasuk benci kepada para pelaku kebenaran dan jalan yang mereka tempuh di atasnya.

“Al Ghurabaa’…

Ia adalah orang asing dalam agamanya dikarenakan rusaknya agama manusia.

Ia asing dalam berpegangnya terhadap As Sunnah..

Karena manusia berpegang kepada bid’ah.

Asing pada keyakinannya dikarenakan telah rusak keyakinan manusia..

Asing pada shalatnya dikarenakan jeleknya shalat manusia.

Asing pada jalannya dikarenakan sesat dan rusaknya jalan manusia..

Asing pada nisbahnya dikarenakan rusaknya nisbah manusia.

Asing dalam pergaulannya bersama manusia..

Dikarenakan dia bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu manusia.”

~ Ibnul Qayyim , Madarijus Salikin (3/199-200)

Sungguh akan tiba masa di mana menegakkan kebenaran seperti memegang bara api. Panas, tapi harus tetap dipegang agar ia tak terlepas dari genggaman tangan.

Ujian manusia saat ini belumlah sedahsyat ujian para sahabat-sahabat Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan umat-umat para Nabi terdahulu.

Mereka dibunuh, diusir, dikucilkan, dipanggang di bawah terik matahari, disisir dengan sisir besi, dibakar hidup-hidup, direbus dalam minyak mendidih. Pantaslah jika sebagian mereka telah dijamin atasnya surga.

It’s better to walk alone than with a crowd going in the wrong direction. Remember, along the straight path, Allah will never leave your side.

“O you who are patient! Bear a little more, just a little more remains.” ~Ibn al-Qayyim

—Jakarta, on a rainy evening.. end of March 2016

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Tumblr ]

 

2 thoughts on “The Strangers

  1. Ukthi,, ulasannya baik sekali. Memang betul saat ini menjadi orang baik sesuai syariat luar biasa ujian nya, dikucilkan, dibully and so on. Tetapi di saat yang sama, saya juga mendapati beberapa saudara kita yang sudah mengaji yang gagal paham tentang indahnya sunnah ini shg mjd model buruk dari org yang sdh ngaji. Oknum memang. Tatapi masyarakat awam pasti men-genaralisasi bhw org yg sdh ngaji pasti nyleneh, karena mmg banyak saudara kita memang setelah ngaji memang malah jadi buruk akhlaknya. Kasar, gak ada toleransi sedikitpun. Bukankah kita diajarkan untuk selalu memberi uzur kepada saudara kita, tentunya tidak dalam hal yg prinsip.Saya sangat prihatin dg hal ini. Dan ketika diberi nasihat, masukan agar mengedepankan akhlak mulia ketika bergaul, saudara kita ini selalu berlindung dibalik alasan we are strangers indeed, al ghuroba, no need others, berlindung dibalik kata bahwa memang menegakan sunnah seperti mengenggam bara api, Sehingga ketika diasingkan, dibully, dicibir dan seterusnya mereka merasa benar bahwa ini konsekuensi menegakkan sunnah. Padahal belum memberikan usaha maksimal untuk berakhlak mulia kepada saudara yang lain yang belum ngerti dengan sunnah ini. Seolah-olah syurga Alloh yang begitu luasnya hanya untuk kalangannya saja. Prihatin dan sedih rasanya, indahnya sunnah ini dicoreng oleh oknum yang demikian. Afwan, jika kepanjangan. jazaakillah khairan wa baarakallaahu fiik.

    • Na’am ukhti..

      Sayapun sering menemukan realita demikian. Dakwah sunnah tercoreng lantaran para oknum yang tidak paham bagaimana bergaul dengan masyarakat yang masih awam. Padahal tidaklah Rasulullaah shalallaahu alaihi wa salllam diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

      Menjadi al ghurabaa’ adalah terasing karena kebenaran yang kita perjuangkan, bukan terasing karena akhlak dan perilaku kita yang buruk hingga dijauhi manusia lainnya.

      Salah satu tanda ilmu yang berkah adalah akhlak yang baik. Buahnya ilmu adalah amal shalih dan akhlak yang mulia. Semakin lama ngaji, harusnya semakin baik, bukan semakin buruk sehingga manusia lari dari mereka.

      Hadanallaahu wa iyyahum..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s