Be Your Authentic Self

chynatic feet

Malam ini menjelang tidur, ada satu pesan Whatsapp yang masuk. Dari seorang sahabat, ternyata. Isinya tentang seseakun FB yang dikiranya adalah saya, padahal bukan. Hanya foto profilnya yang sama.

Waktu saya lihat, iya sekilas memang mirip akun saya. Same profile picture (the one that I was holding a camera, not this current one), tapi cover photonya bukan. Namanya juga beda.

Yes, inilah resiko mengupload sesuatu di dunia maya. Siapa saja bisa mencomotnya, menggunakannya, bahkan mengakui bahwa itu adalah miliknya. I have prepared for this.

Alhamdulillah yang ini sudah saya bubuhi watermark dan hanya dipakai sebagai profile picture aja. Dan hanya satu foto.  Nggak seperti yang sebelumnya..

Flashback to the year before..

Dulu, saya juga pernah dapat info dari orang dekat, dari adik saya sendiri.

“Eh.. Coba cek akun ini deh, bukannya ini foto-fotonya Afra ya? Udah izin belum dia? Banyak loh foto yang dia pakai…”

Diedit, ditimpa watermark, dijadikan profile picture. Tidak hanya satu dua foto, tapi banyakkk.. Semuanya foto anak-anak saya dari berbagai angle dan tempat. Alhamdulillaah wajah mereka tidak terlihat dengan jelas.

Ada foto si kecil Afra lagi berdiri pakai jilbab hitam panjang waktu mau berangkat kondangan.. Ada foto anak-anak lagi milih-milih buku di IBF.. Ada lagi beberapa foto lain. Dan semuanya pernah saya upload di Instagram.

Sampai-sampai saya berpikir, apa orang ini terobsesi dengan anak-anak saya ya? Sampai foto-foto pribadi—yang kebanyakan adalah foto anak-anak seperti ini—sengaja diedit, diberi watermark atas namanya, dan dijadikan profil picture akun sosmednya?

Saya sudah PM yang bersangkutan tapi belum dibalas. Atau mungkin belum dibaca karena inbox messagenya diset strict mode? Dunno.. Yup, saya memang tidak berteman dengannya.

Semoga saja foto-foto saya tidak disalahgunakan untuk hal yang tidak-tidak. Sering saya dengar cerita banyak orang-orang sakit yang mencuri profile picture orang lain untuk menipu dan melakukan tindak kejahatan.

Allaahul musta’an.

I don’t know, but I personally think that..

It’s kinda weird when you use someone else’s personal picture as your own identity. To me, it’s just like being someone else, simply not being the real me..

Dulu, saya juga pernah pakai gambar sosok wanita berhijab dengan anaknya yang sedang memegang balon, gambar bunga dan foto-foto unyu lainnya sebagai profpic. Seperti sepatu rajut warna hijau hasil Googling yang saya jadikan ID pict di blog Tumblr.

But lately, saya ganti dengan foto hasil jepretan saya sendiri. Begitu juga dengan ID akun sosmed lainnya. Sebisa mungkin pede pakai foto hasil sendiri. Tapi bukan selfie, ya😀

Saya ingin jadi diri sendiri seutuhnya. I love being myself more, without dreaming or pretending to be someone else.

Sejak saat itu, foto yang saya publish selalu saya beri watermark dan IG pun saya private. Ratusan follow requests belum ada satupun yang saya accept, kecuali yang saya kenal secara personal. It’s simple, I don’t wanna take the risk.

Dulu, saya belum paham bahwa ada tangan-tangan usil yang suka nyomot foto-foto orang without permission or at least, giving credit to the owner.. Kemudian diedit dan diberi watermark seakan-akan diakui bahwa foto itu miliknya.

Well, lagi-lagi, inilah resiko mempublish sesuatu di ruang publik. Tidak semua orang paham tentang amanah ilmiyah. Tidak semua orang paham adab dan etika bagaimana seharusnya menggunakan hasil karya orang lain.

Welcome to the internet. This is the place where you could be anyone or anything you want to be. Mau ngaku-ngaku tinggal di mana, lulusan mana, rumahnya seperti apa, kendaraannya keluaran mana, dan lain sebagainya.. Bisaa.. Ya, walau ada juga yang akhirnya ketahuan😛

Begitu juga dengan hasil karya kita. Foto saya diambil, diedit dan diaku-aku sebagai milik orang lain. Begitu juga dengan tulisan-tulisan saya di blog.

Pernah sesekali iseng searching dengan keyword ‘aisyafra’ di Google, dan menemukan ada satu blog yang memuat banyak sekali tulisan saya di blog WP ini. Alhamdulillah kali ini si pemilik blog menyertakan credit.

Membaca halaman demi halamannya, saya seperti membuka blog sendiri. Ada rasa bahagia ketika hasil karya kita disukai, bahkan bermanfaat bagi orang lain. An indescribable feeling. Priceless..

Menyalin dan menyebarluaskan hasil karya orang lain, silakan saja.. Namun, adab dan etika sebagai seorang Muslim dalam menyebarkan sesuatu, hendaknya harus tetap dijaga.

Sertakan sumber semampu kita. Jika sumber aslinya tidak diketahui, misalnya hasil forward dari grup yang juga tidak diketahui sumber aslinya, sebutkan saja dapat dari grup, hasil copas. Jangan sengaja diakui sebagai milik kita padahal bukan.

Aduh, apa enaknya sih jadi orang lain yang bukan kita?

I personally cannot, and would not, insya Allah. I am content with who I am right now, alhamdulillaah. If there’s someone I’d dream about to be, it’s definitely myself in a better version.

Be yourself. Be fearlessly authentic. Because an original is always worth more than a copy🙂

~ Jakarta.. dalam kesunyian menjelang tengah malam, penghujung Maret 2016

© aisyafra.wordpress.com

4 thoughts on “Be Your Authentic Self

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s