The Ethic of Copy-Pasting Other People’s Writing: From Another Perspective

from another point of view

Just try to look closer from another perspective….

Saya suka dan sering sekali menulis. Di sosmed, di blog pribadi bahkan di buku harian. Menulis bagi saya adalah kebutuhan. Kebutuhan untuk berekspresi, mengaktualisasikan diri sekaligus mengingatkan diri sendiri.

Selain menulis, saya juga suka menyalin dan mengutip tulisan orang lain yang saya anggap bagus dan layak untuk disebarluaskan.

Tidak sedikit tulisan atau kutipan orang lain yang saya muat di blog, saya share di grup WA atau saya jadikan status di akun sosial media.

Ada satu hal yang selalu saya ingat ketika menyalin tulisan orang lain: always giving credit to the real owner or citing the source where it was taken.

Siapapun dia, baik saya kenal maupun tidak.

Darimanapun saya mendapatkannya.

Ada kebanggaan tersendiri ketika saya mengutip tulisan orang-orang yang saya kagumi. Saya merasa bahwa mereka adalah bagian dari orang-orang yang menginspirasi saya, dengan tulisannya.

Sebagai bentuk penghargaan saya terhadap mereka, maka dengan rasa hormat saya cantumkan nama mereka di akhir tulisan.

Bukan karena mereka yang memintanya, tapi saya—sebagai penyalin—merasa hal itu adalah kewajiban dan bentuk apresiasi saya terhadap karya orang lain. Terlebih, karya orang yang saya kagumi.

Saya merasa bahwa ada etika yang harus saya jaga, ada nama yang harus saya hormati, ada aturan tak tertulis yang membuat saya melakukan hal tersebut.

Remember the guideline, “if you did not write it yourself, you must give credit”.

Antara jujur dalam amanah ilmiyah dan menjaga keikhlasan

Amanah ilmiyah dalam menyebarkan sebuah tulisan adalah sesuatu yang dianggap asing lagi aneh oleh sebagian manusia di zaman sekarang ini.

“Ya kalau penulisnya ikhlas, nggak dicantumkan nama dan sumbernya harusnya nggak keberatan, dong.. Kan tujuannya baik, untuk menyebarluaskan kebaikan..”

Well, I just smiled :’)

Kita, dalam hal ini, saya…

Saya tidak melihat dari sudut pandang penulisnya. Saya mencoba melihat dari sisi sang penyalin, sang pengutip, sang ahlul copas, whatever you name it.

Ketika saya mengutip tulisan orang lain, saya merasa berkewajiban untuk mencantumkan sumbernya, tanpa disuruh atau diminta. Jadi, lebih kepada sisi tanggungjawab moril, ya…

Mengutip komentar dari seorang kawan,

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata, “Dikatakan, ‘Sungguh di antara berkahnya ilmu adalah menisbatkan sesuatu kepada orang yang mengatakannya.’”

[Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (II/922) — dikutip dari buku “Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga”, penulis: ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas]

Jika kita bicara soal ikhlas.. Sejujurnya, siapa yang sebenarnya tidak ikhlas?

Jika memang itu bukan tulisan kita..

Mengapa tidak dicantumkan nama penulis dan sumber aslinya?

Mengapa diakui seolah-olah sebagai karya kita?

Mengapa menyandarkan sesuatu yang bukan milik kita kepada kita?

Jadi..

Si penulis yang tidak ikhlas, atau kita yang sesungguhnya ingin tampil dan mendapatkan pujian?

Pujian atas sesuatu yang sejujurnya tak pernah menjadi milik kita.

Sekali lagi, mereka, para penulis yang saya hormati itu, tak pernah meminta saya untuk mencantumkan nama mereka atau sumber tulisan yang saya salin.

Tapi saya, sebagai manusia yang dikaruniai asa, rasa dan karsa.. Yang merasa wajib menjunjung etika dalam bermuamalah dengan manusia lainnya..

Saya merasa…

Bahwa menjaga amanah ilmiyah adalah satu dari tolok ukur ketinggian adab seorang penulis dan penghasil karya.

Hargai dirimu, dengan menghargai karya selainmu.

*Just my recehan.. Mencoba melihat dari perspektif seorang penyalin tulisan  🙂

— Meutia Halida, a wife, a mother of three, a lifetime learner.

Jakarta, 6 April 2016,  terinspirasi dari sebuah tulisan yang saya salin rekat sore ini🙂

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

4 thoughts on “The Ethic of Copy-Pasting Other People’s Writing: From Another Perspective

    • Iya dek.. Trus berasa kayak punya salah.. ngebohongin hati kecil, gitu. Tapi nggak tau deh kalo yang udah biasa copas tanpa nyantumin sumber, mungkin ga ada sense of guilt sama sekali ya😀

  1. Assalamu’alaikum ukh, salam kenal..
    Ana mau request artikel tentang ikhtilat maya boleh? Jadi alumni rohis tiap angkatan buat grup buat jaga silaturahmi gitu, nah itu campur baur ikhwan akhowat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s