Be Grateful of What You Have…

daun-yang-jatuh-tak-pernah-membenci-angin

“Di antara sebab mengapa kita tidak lagi merasa nikmat dengan yang halal adalah karena kita terlalu sering membiasakan diri dengan yang haram..”

Nowadays…

Banyak di antara para suami yang terus menerus membanding-bandingkan istrinya dengan wanita lain yang ia anggap lebih segala-galanya dari sang istri. Ia juga selalu menuntut sang istri agar secantik, seseksi dan semenarik artis atau model terkenal, tanpa mau keluar modal.

Istilahnya, mau untung banyak, tapi nggak mau rugi🙂

Kalau pengen istri tampil cantik, ya dimodalin dong.. Minimal, kasih budget dan waktu khusus untuknya merawat diri. Bisa di salon, bisa self treatment di rumah. Belikan pakaian yang pantas, tak mesti mahal. Sesuaikan dengan selera dan kemampuan.

Banyak suami-suami yang egois, mau dapat sesuatu yang lebih tanpa disertai usaha lebih. Banyak tuntutan, tapi kurang mengukur kemampuan diri dan berkaca. Menuntut hak tapi lupa memenuhi kewajiban.

Memimpikan pasangan tampil kinclong bak wajan baru digosok pakai abu gosok, tapi diminta jagain anak saat istrinya mau perawatan sebentar aja ogah. Diminta biaya buat beli kosmetik sederhana aja pelitnyaaa.. naudzubillah.

Alih-alih menyediakan ART alias pembantu agar istrinya bisa punya waktu luang untuk sedikit mempercantik diri.. Wong dimintai tolong buat bantu-bantu pekerjaan rumah aja banyak banget alasannya.

Dan yang demikian dijadikan pembenaran kalo akhirnya si suami berselingkuh atau pakai jasa wanita panggilan untuk memenuhi syahwatnya. Sesuatu yang harusnya bisa ia salurkan lewat jalan yang halal.

Simply because: “Istri saya nggak secantik, seseksi dan semenarik wanita lain”.

Oh, hellowww 😛

Kekurangan pasangan = pembenaran untuk berselingkuh?

Yang terjadi sesungguhnya adalah bukan karena istrinya cantik atau tidak cantik. Bukan soal terawat atau tidak terawat. Terlebih lagi, cantik itu sifatnya subjektif dan relatif. Cantik adalah soal selera. Dan tiap orang beda-beda seleranya.

When a man caught cheating with another woman, some people said…

“Ya wajarlah suaminya selingkuh, cari wanita lain. Wong istrinya aja dekil and the kumel kayak gitu. Mana suaminya tertarik.”

Padahal ya…

Dekil and the kumelnya seorang istri, bisa jadi karena saking banyaknya tugas rumah yang dia handle sendirian. Tanpa asisten, banyak anak, banyak masalah keluarga plus suami yang masa bodoh sama kerjaan rumah. Kapan sempet luluran, maskeran, meni pedi, catokan, rol-rolan, delele.

Pernah sekali waktu, suami saya tantang menghandle rumah dengan dua anak beberapa jam aja. Dari pagi sampai sore. Waktu itu saya ikut daurah muslimah sehari kalau nggak salah.

Sampai rumah, oh la la.. Rumah masih berantakan, cucian piring masih sama seperti ketika saya tinggalkan. Anak-anak aja yang udah rapi dan kenyang. Karena memang suami lebih concern ke anak-anak. Bahkan suami belum sempat mandi.

Nah. Mandi aja belum sempat gimana mau dandan?😀

Kebayang dong betapa capeknya seorang istri menghandle seluruh pekerjaan rumah sendirian. Mengasuh anak, mengajari mereka belajar, memasak, membersihkan rumah, mencuci dan menyetrika pakaian, dan memenej waktu untuk menyelesaikan sejumlah tugas rumah lainnya, tanpa bantuan orang lain, bahkan oleh suaminya sendiri.

Lalu, adilkah jika seorang suami senantiasa menuntut istrinya yang hanya ibu rumah tangga biasa, untuk tampil memikat bak selebriti yang punya ART untuk mengurus rumahnya, anak-anaknya full diasuh babysitter, sering traveling ke sana sini, budget nyalon dan skincare-nya bisa jutaan, plus nggak pernah kerja keras ala ibu rumah tangga tanpa bantuan asisten?

Is it fair enough to compare such things?

Padahal ya…

Yang namanya wanita paling sensitif jika dibanding-bandingkan dengan wanita lain. Bahkan istri-istri Rasul aja saling cemburu, padahal mereka udah dijamin surga, level iman dan akhlaknya pun jauh dibanding kita, wanita zaman sekarang yang penuh dengan kekurangan..

Terlebih membandingkan istri dengan wanita lain yang berbeda kondisi, profesi dan latar belakangnya. Membandingkan wanita yang baru dikenal beberapa saat lalu dengan wanita yang setia menemani sejak dulu, sejak kita belum punya apa-apa, sampai saat kita hampir memiliki segalanya.

Under my point of view, that’s truly unfair.

Sukakah kita bila selalu saja dibanding-bandingkan dengan suami wanita lain yang lebih ganteng, lebih gagah, lebih tajir, lebih shalih, dan lebih mulia akhlak serta perangainya terhadap keluarga?

Cemburukah kita ketika istri kita sangat terobsesi dengan laki-laki lain yang jauh memiliki banyak kelebihan dibandingkan kita?

Be true to your heart. Your heart knows the answer.

Bercermin sebelum banyak menuntut

Jadi teringat, dulu ada ikhwan yang pernah bilang gini,

“Ana pengennya punya istri yang cantik mulus. Ya kayak artis A deh”.

Oleh temannya dijawab,

“Antum yakin bisa biayain tuh? Artis-artis itu high maintenance loh, makanya bisa bening begitu. Bisa jadi gaji antum buat budget nyalonnya sebulan aja gak cukup”.

Si ikhwan nyengir. Lol.

Ada baiknya sebelum kita menyodorkan list tuntutan terhadap pasangan kita, kita lebih dulu berkaca dan bercermin.. Kembali menilai dan menakar kondisi serta kemampuan diri…

  • Sudahkah kita memenuhi kriteria ideal bagi pasangan kita seratus persen?
  • Sudahkah kita persis menjadi seperti apa yang pasangan kita impikan?
  • Adakah kita telah sempurna untuk menuntut kesempurnaan dari pasangan kita?

If we’re not there yet, stop complaining and be grateful for what we have today. Before it becomes what we had.

Once a cheater, always a cheater

Seseorang yang sudah terbiasa menikmati zina, akan sulit untuk berubah. Karena selingkuh itu habit, ia adalah candu. Susah untuk benar-benar meninggalkannya. Kecuali yang bertaubat dengan taubatan nashuha dan dimudahkan Allah untuk berubah menjadi lebih baik.

Oleh karenanya, dibolehkan bagi seorang istri yang suaminya biasa berzina (dan tidak kunjung bertaubat) untuk mengajukan khulu’ alias meminta cerai. Karena wanita baik-baik hanya untuk laki-laki yang baik. Dan wanita pezina hanya untuk laki-laki pezina pula.

Jadi, masalahnya bukan karena pasangan kita yang tidak lagi menarik..

Tapi karena hati yang kurang bersyukur..

Karena jiwa yang tidak qana’ah..

Karena diri yang telah terbiasa menikmati yang haram.

Mudah silau dan terpukau dengan yang haram, sehingga yang halal tidak lagi menentramkan jiwanya..

Wal’iyadzubillaah.

~ Jakarta, April 2016.. di  pagi yang dingin seusai hujan semalam, dikutip dari status Facebook setahun kemarin, dengan sedikit perubahan.

©aisyafra.wordpress.com

[ image source: Tumblr ]

3 thoughts on “Be Grateful of What You Have…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s