Sosial Media & Generasi Pencitraan

World was blind

Scroll-scroll timeline sosmed…

Oh, lagi jaman yah nyomot pict yang sifatnya personal dari akun Instagram orang, trus diunggah di akun sendiri dengan caption seolah-olah itu dia atau hasil jepretannya sendiri.

Kemudian ada akun lain yang lihat, trus yang punya pict dimention di postingan itu, lantas si pemilik pict asli ikutan komen dan akhirnya postingan itu dihapus 😁

Hadeeeuhh..

Mbok yaa sebelum nyomot foto orang dan diposting di akun sendiri, dipikir dulu.. Kalau akhirnya ketahuan, yang punya pict lihat dan komen, itu muka mau ditaruh dimanaaa..

Kalau saya mah maluuuu 😂😂😂

Mau menghilangkan jejak dengan menghapusnya? Percuma dihapus juga, jaman sekarang jari lebih cepat klik screenshoot daripada ngetik komen. Barbuk lengkap, share sampai viral..

Jadi inget kata-kata adek tercintah..

“Hari gini emang omongan orang gak bisa dipegang, tapi kalo udah ada bukti screenshoot, mau ngeles apa lagi?” 😛

Inilah generasi sosial media. Generasi penuh pencitraan. Generasi yang apa-apa harus di show-off supaya seluruh dunia harus tau. Generasi ‘craving for attention’ yang serba nggak mau kalah dalam urusan dunia.

Apa-apa serba diumbar di sosial media. Dari yang penting sampai yang nggak penting. Dari yang wajar sampai yang annoying. Dari yang sifatnya rahasia umum sampai yang private banget. Yang harusnya dilock rapat-rapat agar tak ada seorangpun yang tahu.

Nggak masalah menderita, asalkan eksis. No pain, no attention gains, they said.

Maka bertebaranlah foto-foto selfie di tempat-tempat ekstrim yang tak sedikit merenggut nyawa. Bikin postingan yang ‘nyeleneh’ dan mempermalukan diri sendiripun tak jadi soal asal banyak yang like, komen dan share.

Biar makin eksis dan ngetop, katanya. Biar punya banyak follower, alasannya.

Sampai-sampai harus hidup dalam pencitraan semu. Sampai-sampai rela memalsukan identitas, rela menipu diri dan perasaan.. Hanya demi decak kagum, ribuan like dan komentar dari manusia lainnya.

Hanya demi dianggap keren dan kekinian oleh manusia lainnya. Iya, manusia biasa yang sama seperti kita. Yang harusnya setara dan tidak lebih tinggi dari kita.

Is this what we’re looking for?

Is this what we’re living for?

To impress others and be an attention seeker for the rest of our lives?

That’s pathetic.

Allah menciptakan kita bukan sebagai budak manusia lainnya. Bukan untuk meraih ridha manusia lainnya. Bukan untuk mendapatkan status tertinggi di hadapan manusia lainnya.

Karena sesungguhnya, hanya ketakwaan-lah yang membedakan antara kita dengan manusia lainnya. We’re not created to please human, we’re created to please the Ar-Rahmaan.

And everything we do, we should do it for Allah’s eyes only. Not for His creatures.

Beruntunglah ketika kita memiliki kontrol penuh atas keinginan untuk selalu ‘tampil’ di hadapan manusia lainnya, dan bukan sebaliknya, di bawah kontrol pandangan manusia.

Bersyukurlah ketika kita merasa nikmat dan damai dengan apa yang kita punya dan rasa, bukan dengan apa yang kita citrakan di depan manusia lainnya.

That’s why saya sukaa sekali dengan nasehat Bang Darwis Tere Liye berikut ini..

“Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Itu kehidu­pan kita, tidak perlu siapapun mengakuinya untuk dibi­lang hebat. Kitalah yang tahu persis setiap perjalanan hidup yang kita lakukan.

Karena sebenarnya yang tahu persis apakah kita itu keren atau tidak, bahagia atau tidak, tulus atau tidak, hanya diri kita sendiri. Kita tidak perlu menggapai selu­ruh catatan hebat menurut versi manusia sedunia.

Kita hanya perlu merengkuh rasa damai dalam hati kita sendiri.”

—Jakarta, May 2016.. A deep reminder for myself.

©aisyafra.wordpress.com

[ image source: Tumblr ]

2 thoughts on “Sosial Media & Generasi Pencitraan

  1. setujuuuu bingiiiit mbaaa. udah berapa kali nemu akun fb yang pakai foto orang dan semacam diaku aku punya akun tersebut, hla terus tak mention dong ya yang punya foto asli, wkwk. enakan juga jadi diri sendiri, apa adanya, hihi

    • Hihihi.. Kalo pic yg sifatnya nasehat atau tausiyah mungkin boleh lah yaa, walo ttp harus giving credit. Yang nggak habis pikir kan kalo foto yg sifatnya pribadi, spt foto diri.. Kan aneh aja gitu kalo kita unggah trus dikasih caption seolah2 itu diri kita sendiri. Kalo aku ngerasanya seakan2 spt menipu diri sendiri dan orang lain😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s