Ukhti, Mbak, Kak atau.. Adik?

two hearts

Buat saya pribadi, nggak masalah orang lain mau panggil saya “Kak, Teh, Mbak, Jeng, Ukhti, Umm, Sist atau.. Dek” sekalipun.

Karena saya sendiri juga sering manggil orang yang saya nggak tahu persis berapa usianya, apakah di atas atau justru di bawah saya dengan panggilan, “Mbak atau Mas, Bu atau Pak..”

Why? It’s simply because I respect him/her.

Daripada udah kepedean manggil Dek atau hanya nama saja, ternyata usianya justru jauh di atas saya, kan nggak enak. Amannya ya anggap aja usia beliau di atas saya.

Karena saya nggak biasa hanya panggil nama aja. Kurang sopan aja, in my opinion ya. Kecuali dengan mereka yang sudah jelas saya tahu usianya, bukan hanya bermodal kira-kira.

Saya punya kenalan di Twitter, yang setelah lama kenal baru tahu ternyata usia beliau 2 tahun di atas saya. Padahal kami udah sering panggil “Mbak” ke masing-masing. Ketika saya tahu usia beliau, saya request supaya beliau panggil saya pake nama aja.

Tapi ternyata beliau menolak, alasannya karena sudah terbiasa dengan panggilan yang lama, yaitu “Mbak Meut”. Nggak enak kalo cuma panggil nama aja.

Well, it’s okay, nggak masalah sama sekali buat saya. Asal beliau nyaman, panggilan apapun (asalkan baik) buat saya oke-oke aja. It’s her choice. And I totally respect that.

Sebagian orang mudah sekali tersinggung ketika ia dipanggil dengan sebutan “Mbak atau Kakak” oleh orang yang baru dikenalnya, di dunia nyata ataupun maya. Dengan intonasi kesal dan pasang tampang merengut, dia memprotes panggilan tersebut.

Alasannya,

“Plis deh jangan panggil saya ‘Mbak’, belum tentu juga kamu lebih muda dari saya!”

Yakaliik…. kita pernah dikasih lihat KTP-nya. Heheheheu..😄

Saya selalu berusaha untuk berhusnuzhan ketika ada seseorang yang memanggil lawan bicaranya dengan “Kak atau Mbak” padahal saya tahu persis bahwa usianya tidak jauh lebih muda dari yang dipanggil “Mbak atau Kak” tadi.

Imho, the explanation is simple.

1. Dia nggak tahu pasti berapa usia orang yang dia ajak bicara. Dan well, nggak semua orang tahu kan berapa usia kita? Dan nggak harus tahu juga deh, kayaknya😛

2. Sebagai bentuk penghormatan terhadap lawan bicaranya. Lebih baik menganggap lawan bicara kita lebih senior kan daripada udah kepedean pasti kita lebih tua dari dia?🙂

3. It is a matter of choice. Some people nggak biasa manggil nama aja ke orang lain, terlebih yang gap usianya nggak terlalu jauh. As long as they are comfort with it, why not?

Me, personally, nggak keberatan dipanggil dengan panggilan apa aja. Seriously. Asalkan panggilan itu sopan dan bukan bersifat ejekan, ya kenapa harus feel irritated? Belajarlah untuk memberi udzur kepada saudaramu. Barangkali, dia punya alasan tersendiri.

Dan oh, come on, masih banyak hal yang jauh lebih penting daripada itu. Don’t sweat for small stuffs 😉

~Jakarta, penghujung Mei 2016.. disalin dari status FB setahun lalu.

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

10 thoughts on “Ukhti, Mbak, Kak atau.. Adik?

  1. sama Mbak,. saya juga panggilannya macem-macem, Mas, Kak, Adek, Om, kadang juga Pak. Mungkin yang manggil Pak karena lebih untuk menghormati aja kali, biasanya masalah kerjaan. Dipanggil Pakde aja yang belum..😀

  2. Akuuuuu hampir semua orang tak panggil “mbak” atau “mas” 🙈🙈🙈 iyes, simply karena aku berusaha respect aja sih. Walaupun ada juga yang keukeuh menolak tak panggil “mbak” walau usianya jelas lebih senior dari aku. Alhamdulillah, orang tsb menolak dengan nada halus & friendly, mungkin karena berusaha biar kayak temen sebaya aja kali ya, gak mau dipanggil “mbak”… 😊

    • Hihihi.. Kalo udah kenal dan tahu usianya ngerti kali ya, umm… Nah kadang ada yang sensi banget, baru kenal main ngomel2 aja karena dipanggil “mbak atau kak”. Padahal di emol kan kita sering tuh dipanggil kakak..

      “Cari apa kakak?

      Tanya tanya aja dulu boleh kakak… ”

      Dan kita nggak marah kan? Padahal yang jual usianya lebih tua daripada kita. LOL :)))

  3. Waktu itu pernah kejadian, saya biasa beli koran di SPBU. Dengan mengenakan pakaian santai, celana jeans dan kaos oblong beserta jaket. Seusai membeli, tukang korannya berkata “Terima kasih, mas.”
    Besoknya saya beli koran lagi di SPBU yg sama. Mengenakan kemeja safari, kopiah, beserta kaca mata. Bertemu dengan tukang koran yang sama dan panggilan saya seketika naik level. “Assalamualaikum, pak. Sehat? Terima kasih udah beli korannya ya pak.”

    Padahal umur baru masuk kepala 2.

  4. Assalamu’alaykum mbak meut.. sy hanya terpikir bahwa yang sudah menikah itu lebih tua dari sy yg kelahiran 93.. padahal banyak juga junior2 sy yang sudah menikah.. hehe ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s