It’s You. It’s Still You. It’s Always You.

heart-on-sand.jpg.jpeg

“Salah satu penyebab kejenuhan dan kebosanan dalam rumah tangga adalah kelunya lisan untuk mengungkapkan cinta dan kasih sayang serta mengekspresikan isi hati dan perasaan. Terjalinnya komunikasi yang baik antar suami istri adalah kunci.

Biasakanlah mengucapkan kata-kata yang selayaknya diucapkan oleh seorang kekasih kepada kekasih hatinya. Luangkan waktu untuk bicara dari hati ke hati, berdua saja. Menjauh sejenak dari kebisingan dunia. Mengingat masa-masa mesra lagi bahagia di awal-awal pernikahan.

Mengatasi kejenuhan dalam pernikahan, bukan dengan jalan mengganti pasangan atau menikah lagi. Bukan itu solusinya.

Karena sebuah pernikahan atau poligami yang berlandaskan atas dasar pelarian dari rasa bosan, ia tidak akan bertahan lama. Begitu ia bosan dengan pasangan barunya, maka ia akan mencari yang lain. Begitu seterusnya, tak ada akhirnya. Tak ada habisnya.

Jadi selama apapun Anda menikah, selama rasa bosan itu dapat teratasi dengan baik, maka pasangan Anda akan tetap menjadi yang nomor satu di hati Anda…”

(Faidah kajian Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullaah di radio Rodja 756 AM pagi ini)

Those awakening words suddenly makes me look back and reflect…

Dengan rentang waktu yang tidak bisa dibilang sebentar, pernahkah saya merasa bosan dengan pernikahan yang saya jalani saat ini?

Tahun ini pernikahan kami memasuki tahun kesembilan. Dan Ramadhan kali ini adalah Ramadhan kesepuluh yang kami lewati bersama-sama, alhamdulillah.

Setelah sembilan tahun mengenalnya, sudah bosankah saya? Inginkah saya mengakhiri dan menggantinya dengan yang lain?

Alhamdulillah tidak. Dan tidak akan pernah, saya harap.

Dia masih, dan selalu akan menjadi seseorang yang saya inginkan untuk menemani hidup. Seseorang yang paling dekat di hati saya. Seseorang yang selalu memahami dan menerima saya, lengkap dengan segala kekurangan, masa lalu dan ketidaksempurnaan saya.

It’s you. It’s still you. It’s always you.

No matter how long it’s been…

There are still times when I think of him and suddenly it gets harder to breathe. There are times when I feel butterflies in my stomach whenever I get close to him. He is still my favorite place to visit when my mind searches for peace and comfort.

Begitu banyak hal yang telah kami lalui. Pelangi dan badai datang silih berganti. Aneka rasa, tidak hanya tawa tapi juga air mata. And thankfully, those are the things that makes this bond even stronger than ever, instead of make it bend and broken.

“Love says: I’ve seen the ugly parts of you, and I’m staying.” ~Unknown

Kami percaya bahwa tidak ada pernikahan yang bebas konflik. Tidak ada suami istri yang tidak pernah ribut. Tidak ada rumah tangga yang selalu happily ever after seperti di fairy tales alias dunia dongeng. It’s just too good to be true, eh?

Jika ada yang bilang bahwa rumah tangga ideal adalah rumah tangga yang tidak pernah dihantam badai dan melewati berbagai rintangan, maka saya acungkan tangan tanda tidak setuju.

Karena bagi saya yang demikian adalah nonsense. Omong kosong.

Tak ada pernikahan sempurna. Tak ada pasangan yang sempurna. Apa yang terlihat, belum tentu seperti yang sebenarnya terjadi. We never know what really happened behind the curtains. They might face trials and conflicts just like us, but we know nothing about it.

Kembali kepada topik mengenai kejenuhan dalam kehidupan pernikahan.. To be bored, it’s so human. Manusiawi sekali. Bukan sesuatu yang aneh atau langka. Bosan adalah sifat manusia normal.

The problem begins when we couldn’t manage that well. Kita di sini adalah diri dan pasangan. Saling. In marriage everything become mutual. Bukan hanya kita saja, atau pasangan saja.

Ketika merasa bosan dengan pasangan, langkah apa yang harus kita lakukan?

Ada banyak hal, saya rasa. Dan tiap pasangan tentu memiliki caranya sendiri untuk merefresh rasa cinta mereka terhadap pasangannya. Mengutip nasehat Ustadz Armen di atas, salah satunya mungkin dengan menyegarkan kembali rasa cinta dan kasih sayang antara kita dan pasangan.

Nostalgia berdua. Menyepi sejenak dari keriuhan dunia. Mengenang kembali masa-masa indah yang pernah dilewati bersama. Kembali mengingatkan diri bahwa:

“Inilah seseorang yang telah saya yakini dan saya pilih untuk menemani hidup, kini sampai ujung waktu nanti…”

I believe that a strong relationship needs a strong basic. Ketika pernikahan berjalan tidak seperti apa yang kita harapkan, let’s just take a halt for a while. Sit back together, look inside yourselves then reflect…

“Apa sih tujuan kita dulu menikah..?”

Yes, kembali ke tujuan dan niat awal menikah. Untuk apa? Karena apa? Target apa yang ingin kita capai dalam pernikahan?

Apa yang membuat kita melenceng dari tujuan awal dan terkondisikan dalam situasi seperti sekarang ini. Samakan visi dan misi. Bicara dari hati ke hati. Kembali ke awal.

That’s why sebelum menikah, sangat diharapkan agar mencari pasangan yang se-visi dan se-misi. Menyamakan mindset dan goal dalam pernikahan membantu kita untuk tetap stay focus pada tujuan, dan saling mengingatkan jika ada yang mulai keluar dari jalur yang sudah ditetapkan bersama.

Itu kan teorinyaa… Prakteknya jauh lebih susah, bro!

I do agree with you, bro. But remember, to build a strong relationship we need an extra effort. Nggak bisa cuma duduk-duduk santai doing nothing then expect a great thing will happen. Great relationships are made, they don’t just happen.

Good things only come to those who work for it. And so does marriage life. It requires a lot of efforts, patience, love, compassion, energy, time, and willingness to learn and develop. Dare to come out of the comfort zone. Challenge us to bring out the best in ourselves.

Seringkali kejenuhan dalam pernikahan dipicu oleh masalah dan problematika yang tidak kunjung terselesaikan. Some of them stuck in the some problems. Masalah yang itu-itu juga, selama bertahun-tahun lamanya. Never ends, never changes.

Dan ketika kedua belah pihak mulai merasakan ketidaknyamanan ketika berdekatan dan merasakan kelegaan ketika berjauhan, then it’s a warning. There is something wrong in your relationship. Something which need to be fixed immediately.

marriage is'.

Rasa jenuh dan bosan dalam pernikahan bukan pembenaran atas perselingkuhan. Bukan pula alasan untuk bermudah-mudahan mencari sosok pengganti pasangan. Seperti nasehat Ustadz Armen di atas, jika suatu rumah tangga dibangun dengan dasar pelarian dari rasa bosan, maka pernikahan tersebut tidak akan bertahan lama.

Sesering apapun kita berganti pasangan, jika sifat mudah bosan itu tidak kita kelola dengan baik, maka kita tidak akan pernah merasakan qana’ah atas nikmat pasangan dan pernikahan. Tidak akan puas dan ingin selalu mencari lebih dan lebih. Menuntut kesempurnaan yang sesungguhnya tak pernah ada, karena diri kita sendiripun, jauh dari kata sempurna.

Wal’iyadzubillaah.

Jadi mindset mudah bosan itu yang harus kita ubah menjadi rasa syukur. Di saat banyak para lajang yang belum menemukan jodohya di luar sana, Allah telah karuniakan seseorang yang bersedia menerima kita, menemani hari-hari kita, membesarkan anak bersama serta membina rumah tangga atas dasar berharap ridha Allah Ta’ala.

Simple little things that mean a lot

Seringkali pula kejenuhan dalam pernikahan dikarenakan kurangnya kata-kata cinta nan mesra pada pasangan. Flat and boring conversations. Tidak seperti keadaan dua orang yang saling mencintai.

Seolah setelah bertahun-tahun menikah, ia bukan lagi orang yang sama di mana kita pernah jatuh cinta padanya habis-habisan, dan dengan segenap keyakinan penuh, akhirnya memutuskan untuk menikah dengannya.

Kalimat-kalimat sederhana seperti “I love you.. tolong.. maaf… dan terima kasih, sayang..”, nampak biasa saja. Tak ada yang istimewa dengannya. Namun jika rutin diucapkan sejak awal menikah hingga kini, akan besar maknanya. Begitu juga dengan hal-hal kecil yang terlihat sepele namun mampu menguatkan pondasi pernikahan.

Seperti membuatkannya teh di pagi hari tanpa diminta, menanyakan kabar ketika jam makan siang kantor, mengucapkan terima kasih atas bantuan kecil yang dilakukannya tadi pagi, mengajak makan malam di luar ketika sedang tidak ada masakan di rumah, sampai memberi kejutan-kejutan kecil yang disukai pasangan.

Sederhana, tapi penuh makna karena dilakukan atas dasar cinta🙂

Marriage is the best kind of friendship

I believe our soulmate is someone who knows us inside and out. Someone whom we can talk about everything. Someone whom we can share laughters and tears at the same time. Someone who lifts up and help us to be survived after too many battles we’ve fought.

Pasangan, seharusnya adalah tempat kita bisa berbagi apa saja. Kita bisa curhat dan mengutarakan isi hati tanpa takut disela dan dicela. Kita bebas menjadi diri kita sendiri saat bersamanya, tanpa topeng atau pemanis semata. Kita merasa aman dan nyaman saat bersamanya, tanpa khawatir bahwa ia akan menyakiti kita.

“A strong marriage requires loving your spouse even in those moments when they aren’t being lovable; it means believing in them even when they struggle to believe in themselves.” ~Unknown

Always renew your feelings upon your spouse. Never let those sparks fade away. Never give up. Kita menikah untuk bahagia, dan bahagia tidak hanya datang menghampiri begitu saja, ia harus diupayakan.

Kuncinya adalah saling. Saling cinta, saling menghargai, saling respect, saling menjaga, saling mengingatkan dan saling mendukung satu sama lain dalam kebaikan.

Remember, marriage is a teamwork. And your spouse should be your most wanted partner because you will see him/her everyday.

Entah kenapa, saya selalu sukses dibikin melting ketika melihat pasangan lansia yang berjalan bergandengan tangan berdua. Senang rasanya melihat pernikahan mereka awet dan bahagia sampai tua.

Di tengah fenomena kawin-cerai yang makin sering terjadi, mereka berhasil melewati  berbagai rintangan untuk sampai ke tahap ini. Dan itu tidaklah mudah. Butuh komitmen dan kerjasama dari kedua belah pihak untuk merawatnya tetap kukuh dan utuh.

Dear other half..

We’ve walked a very long road but we are still together. Good years are still ahead. We realize our journey isn’t perfect, but it’s ours. And I’ll stick with you ’til the end, insha Allah.

May Allah strengthen our love and vow, not only in this temporary dunya, but also in our endless and ultimate destination: Jannah.

Aaamiin❤

still loving you

~ Jakarta, di hari keempat Ramadhan, bingkisan 9 tahun pernikahan..

©aisyfra.wordpress.com

[ image source: Pinterest & Google ]

3 thoughts on “It’s You. It’s Still You. It’s Always You.

  1. Reblogged this on A Spark of Life and commented:
    (BEKAL NANTI KALAU SUDAH MENIKAH).. Pasangan, seharusnya adalah tempat kita bisa berbagi apa saja. Kita bisa curhat dan mengutarakan isi hati tanpa takut disela dan dicela. Kita bebas menjadi diri kita sendiri saat bersamanya, tanpa topeng atau pemanis semata. Kita merasa aman dan nyaman saat bersamanya, tanpa khawatir bahwa ia akan menyakiti kita. 😍😍😍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s