Be Blunt, Be Honest, Be Straightforward

straightforward people

“Aku sedih lho Mi, kalo Ummi ngomong begitu ke aku..”

“Fiqar, kakak nggak nyaman kalo Fiqar begitu.. Kakak nggak suka..”

(Aisyah Afra, my almost 6 years daughter told me and her lil brother, one day)

Mengidentifikasi perasaan adalah tahap perkembangan yang harus dilewati oleh seorang manusia. Di sekolah, Kakak Afra belajar agar membuat teman merasa nyaman dengannya, dan dapat mengungkapkan ketidaknyamanan yang ia rasakan ketika berinteraksi dengan temannya.

Pun jika si kakak membuat temannya merasa tidak nyaman, bu guru selalu mengingatkan..

“Afra, maaf, sepertinya teman Afra merasa tidak nyaman dengan yang Afra lakukan ya..”

Begitu juga ketika temannya membuatnya tidak merasa tidak nyaman. Ia dengan tegas mengatakan bahwa ia tidak nyaman.

Alhamdulillaah, saya bersyukur bahwa putri kecil saya sudah bisa mengidentifikasi perasaannya. Bahkan ia tak segan membicarakannya. Suatu hal yang kadang sulit dilakukan oleh orang dewasa.

Saya sering bertemu tipikal orang yang serba nggak enakan. Mau terus terang, nggak enakan. Mau protes, nggak enakan. Mau menegur suatu hal yang salah, nggak enakan.

Apa-apa serba nggak enakan. Bahkan bila ia dalam posisi serba sulit, ia lebih memilih untuk diam dan mengorbankan diri sendiri dibanding bicara terus terang apa adanya.

Ia lebih memilih untuk menutupi perasaannya, berpura-pura semua baik-baik saja, dan terus tersakiti, dibanding mengungkapkan perasaan terdalamnya.

Terkadang, kita sulit untuk mengungkapkan apa yang kita rasakan. Jangankan mengungkapkan, mengenali perasaan saja kadang bukan hal yang mudah.

We live in a society that it seems quite well to keep giving other people excuses for everything they’ve done. Terkadang, kita seperti dianggap asing lagi aneh ketika mengucapkan hal yang seperti si kakak ucapkan di atas.

Sometimes, we’re not allowed to feel sad or disappointed. We’re not allowed to express our truest feelings. We’re not allow to feel hurt. We’re not allowed to say,

“Sorry, I don’t like the way you treat me. That made me feel not okay.”

Sadly, kita hidup dalam lingkungan yang menganggap bahwa jujur mengutarakan apa yang kita rasakan adalah sebuah pantangan. Sesuatu yang tidak patut dilakukan karena akan menyinggung perasaan orang lain.

Then we start to fake our feelings. We start to ignore our inner voices. We start to allow people to hurt and break us down, again and again.

We neglect to set boundaries. We often forgive what should not be forgiven. That’s why people easily come and go, break and shatter us into pieces. All the time.

Sometimes we try and ignore the obvious and shield ourselves from the blunt truth that some people are truly clueless to how much they hurt us.

I believe that the lack of respect caused by lack of boundaries. Kita tidak menetapkan batas, sehingga orang lain bebas menyakiti dan membuat diri kita tidak merasa nyaman dengan perlakuan mereka.

I love straightforward people, who can say clearly what’s inside their minds, without any hesitation.

“If you aren’t being treated with love and respect, check your price tag. Maybe you’ve marked yourself down. It’s you who tells people what you’re worth. Get off the clearance rack and get behind the glass where they keep the valuables.”

Saya sendiri termasuk orang yang suka berterus terang. Kata “nggak enakan” tidak pernah ada dalam kamus saya.

I stand for what I believe and bravely defend it. I speak my mind out loud and clear. I show my true colors.

I refuse to pretend that everything is okay, when in fact, well, actually it’s not. I am not good at faking smiles, so when I dislike something, I simply just can’t fake it.

I don’t mind if people get bothered by my honesty, I don’t need anyone’s approval to live my life the way it is. Except Allah.

Dan itu yang berusaha saya tumbuhkan pada anak-anak saya saat ini.

Jangan ragu untuk mengungkapkan perasaan. Jangan takut untuk membicarakan apa yang mengganggu suasana hati. Jangan pantang untuk membahas suatu permasalahan.

Jangan khawatir dicap aneh ketika menyuarakan kebenaran. Jangan pernah merasa diri kita tak berharga karena kita bersikap jujur apa adanya.

I’ve found that growing up means being honest. About what I want. What I need. What I feel. Who I am. I hate drama, lies and fakeness.

Respect yourself before you ask people to do so. Have the guts to stand out in the crowd. Be blunt, be honest, be straightforward.

But remember, being honest doesn’t mean being rude. They are not even close. There’s a fine line between them. Say what you feel with good attitude and well manner.

Be assertive. Have the courage to say NO.

Even if people don’t like it, go on. You have rights to speak up and set boundaries. So people will think twice to step into your own land.

Look deep down inside and identify your feelings. Be honest with yourself. Be brave enough to talk about anything you feel. Be your self best friend, best advisor, best inspirator.

Be brave to stand for yourself. Because nobody else in this world can do it for you.

 

~ Jakarta, Ramadhan day 14, a little reminder for myself..

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: FB The Idealist ]

4 thoughts on “Be Blunt, Be Honest, Be Straightforward

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s