Fame & Social Media

camera

“Know that if people are impressed with you, in reality they are impressed with the beauty of Allah’s covering of your sins”. ~Ibn al-Jawzi

Nowadays…

Banyak orang tertipu dengan profil seseorang di dunia maya. Banyak likers, banyak comments, banyak teman, banyak follower, bagi sebagian orang, seakan menjadi indikator keshalihan sebuah akun.

Populer di dunia maya, banyak disukai, banyak dipuji, banyak dicopas postingannya, banyak dibicarakan di sana-sini. Seakan dengan semua itu sudah layak mengantongi atribut sebagai “artis dunia maya”, yang tetiba menjadi idola dadakan padahal bukan tahu bulat.

“Udah liat postingannya si fulan belom? Yang lagi heitss itu loh..”

“Fulan siapa ya? Kok aku baru denger.. Bukan temenku kali..”

“Loh kamu nggak temenan sama dia? Dia kan terkenal, tauu..”

“Terkenal? Masa sih? Kok aku gak kenal?”

#ngikik 😛

Sejak berkenalan dan aktif di sosmed seperti Facebook and Twitter beberapa tahun silam.. Alhamdulillah saya tidak pernah merasa terkagum-kagum dengan status “selebtwit” atau “artis Fesbuk”. Atau merasa minder karena jumlah follower yang tidak seberapa. Bagi saya, semua social media user itu sama dan setara.

Kalau ada postingan-postingan yang keren dan bagus ya saya like. Kalau bagus banget dan sayang untuk hanya dibaca, biasanya saya share, atau copas dengan menyertakan sumber.

Udah sebatas itu aja. Nggak ada yang namanya terpukau karena ngeliat profil seseakun yang tampak ‘uwow’ dan diikuti oleh banyak orang. Trus jadi latah ikut-ikutan mengidolakan, jadi the number 1 fans paling depan.

I’m a curious and cautious person. Saya bukan orang yang mudah percaya dengan kata-kata. I don’t easily give my trust to people whom I do not know personally.

10 tahun bersosial media, saya semakin paham bahwa…

Postingan-postingan yang bagus, yang banyak di-like, di-retweet atau di-share banyak orang, bukan jaminan keshalihan pemiliknya. Absolutely not.

They are only human, like the rest of us. They make mistakes, they are not always right. So keep your eyes and ears open wide. Be skeptic. Critical thinking required.

Jangan mudah percaya dan terhanyut dengan kata-kata seseorang yang hanya dikenal di sosial media. Kita tak pernah tahu mereka aslinya seperti apa. Di internet, manusia bisa jadi siapa saja yang diinginkannya.

Berlindung di balik username dan identitas palsu, menggunakan foto orang lain yang entah dicomot dari mana, mengaku lulusan kampus blabalabla dan bekerja di instansi blablabla.

Dan dengan lugu dan polosnya (atau naifnya?), kita percaya begitu saja. Menelan mentah-mentah semua yang ia katakan tentang dirinya, tanpa ada usaha untuk mengecek dan me-ricek lagi semua informasi yang masuk.

Bahkan sampai ada yang depresi plus termehek-mehek karena di-PHP oleh lelaki yang dikenalnya via inbox atau DM. Dibuai kata-kata mesra nan lebay, dijanjikan akan diresmikan ke jenjang pernikahan, diimingi ini dan itu..

Ternyata ujung-ujungnya: zonk! Tak lebih dari penipu dan penjahat dunia maya.

She always thinks she was the only one, until she found out that she was wrong. Reality bites. Semoga menjadi pelajaran berharga agar tidak mudah terjebak dalam pola yang sama.

“I don’t trust words, I even question actions, but I never doubt patterns.” ~Unknown

Seperti kasus ikhwan abal-abal yang pernah saya publish di blog ini sekira setahun yang lalu. Ketika akhirnya terungkap, banyak yang kaget. Bahkan banyak yang menolak untuk percaya🙂

“Masa sih mbak ini akunnya? Akun ini terkenal banget lho, postingannya bagus-bagus, sering dishare orang. Banyak mutual friendnya denganku. Dan sepertinya shalih beneran. Ternyataa.. Ah, aku kayak masih belum percaya, mbak…”

“Well, you better not always judge a book by it’s cover, my dear..”

Hari gini, begitu saja mudah percaya dengan seseorang yang tidak kita kenal dengan baik, belum pernah bertatap muka, belum pernah bermuamalah secara langsung. Hanya melihat dari citranya di dunia maya. Terpana dengan pesona kata-kata yang ia tuliskan, banyaknya like dan pengikut, banyak direkomendasikan oleh socmed user lainnya.

Be careful.. Don’t get easily attached with these kind of people. Until you know them personally. Until you know who they really are.

Those fakers may be smart, but we must be one step smarter. I always believe that some things are too good to be true in this life. Come on dear self, get real. Open your eyes.

From now on, stop berlebihan mengagumi profil seseorang di dunia maya. Termasuk saya. Jangan pernah menilai saya semata dari apa yang saya tampilkan di sosial media. I am just an ordinary person, too far from perfect.

Adik saya sering meledek saya dengan sebutan “artis dunia maya” hanya karena postingan-postingan saya banyak di-share di dunia maya. Saya menolak habis-habisan disebut demikian.

Well, I refuse to agree. Saya bukan artis, seleb or whataver you name it. Saya cuma rakyat jelita eh jelata, pengguna sosmed biasa yang suka menulis, tidak lebih.

My motto is, “I write to express, not to impress..”

Jika kemudian tulisan dan postingan saya di blog dan sosmed banyak disukai orang, bagi saya itu semua adalah bonus. Alhamdulillaah, haadza min fadhli Rabbi.. I truly appreciate that. Thank you, dear reader🙂

Ketenaran dan popularitas, bagi saya sama sekali bukan tujuan atau pencapaian. Apalagi menggunakan ketenaran tersebut untuk mengambil keuntungan atau memuluskan rencana-rencana jahat yang merugikan orang lain.

Na’udzubillaah…

Saya percaya, seandainya Allah tak menutupi aib-aib saya, barangkali tak ada satupun yang mau menjadikan saya sebagai kawannya. Dan seandainya dosa itu mengeluarkan bau, niscaya tidak ada manusia yang mau duduk bersebelahan dan berbincang dengan saya.

Semoga Allah menjadikan saya jauh lebih baik dari apa yang manusia persangkakan terhadap saya. Dan memudahkan azzam dan langkah saya  untuk terus memperbaiki diri. Lagi dan lagi.

Mengutip nasehat indah berikut ini…

Jawaban terindah pada pemfitnah:
“Jika kau benar, semoga Allah mengampuniku. Jika kau keliru, semoga Allah mengampunimu.”

Jawaban terbaik pada penghina dan pencela kehormatan:
“Yang kaukatakan tadi sebenarnya adalah pujian; sebab aslinya diriku lebih mengerikan.”

Jawaban teragung pada caci maki dan kebusukan:
“ Bahkan walau ingin membalas, aku tak kuasa. Sebab aku tak punya kata-kata keji dan nista.”

Terjawablah pujian:
“Moga Allah ampuni aib yang tak kautahu; tak menghukumku sebab sanjungmu; dan jadikanku lebih baik dari semua itu.”

Jawaban termulia pada yang memuji:
“Semoga Allah ampuni yang tak kau ketahui, semoga doamu membaikkan diriku dan dirimu.”

(Salim A. Fillah, dalam Menyimak Kicau Merajut Makna)

~ Jakarta, on a cloudy and cozy morning of Ramadhan 1437 H..

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Tumblr ]

8 thoughts on “Fame & Social Media

  1. Selalu suka dengan gaya menulis Kak Meutia yang blak-blakan dan jujur mengandung makna. Hihihi. Keep writing, keep inspiring me ya Kak.🙂
    Jazakillah khairan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s