Cinta & Kebebasan

love lock

Pagi ini ketika berjalan-jalan di dunia maya, saya menemukan statement yang sangat lucu dan cukup judgemental, yang kurang lebih intinya sebagai berikut:

“Ketika seorang wanita mengunci akun sosmednya, atau hanya mengkonfirmasi pertemanan dengan sesama wanita saja, maka ia adalah wanita yang hidup di bawah tekanan dan dominasi suaminya. Terkekang, terpenjara, dan tidak punya hak untuk bergaul serta menyuarakan pendapatnya.”

Well, in my opinion, that’s quite shallow. Not every woman who choose to lock her profile on social media lives oppressed and underpressured, as you assumed. We never know maybe it’s her own decision. Maybe because she honor herself so not every man can touch or talk to her.

Then let me tell you my own story…

Saya punya beberapa akun sosmed yang cukup aktif sampai sekarang. Saya memasarkan produk dan berjualan via internet. Saya aktif menulis di dua blog; WordPress dan Tumblr. Saya juga sering posting hasil jepretan iseng-iseng di Instagram. Adapun di Path dan Twitter, hanya aktif sesekali saja.

Dan jujur, suami tidak pernah ikut campur atau selalu mengatur harus begini dan begitu. Meski jarang posting, beliau termasuk silent reader sejati. Hanya memantau dan mengingatkan bilamana ada hal yang harus diluruskan atau sebaiknya dihindari.

Ketika saya memutuskan untuk hijrah ke akun FB di mana saya hanya berteman dengan sesama akhwat sekira 2 tahun yang lalu, semua murni karena keinginan saya sendiri.

Ketika saya memutuskan untuk mem-protect akun IG dan Twitter, semua atas inisiatif saya sendiri.

Pun ketika saya memutuskan untuk menghapus dan menandai sebagai spam komentar-komentar yang tidak pantas diucapkan seorang laki-laki di kolom komentar blog saya, semua saya lakukan tanpa perintah atau tekanan dari suami.

Saya merasa diberi kebebasan—bebas yang bertanggungjawab, tentu—oleh suami untuk berekspresi dan mengaktualisasikan diri dalam hal dan kegiatan yang saya minati. Beliau memberi saya ruang untuk menjadi diri saya sendiri.

Saya tidak merasa berada di bawah tekanan atau intimidasi. Saya merasa sangat dihargai sebagai partner hidup, bukan sebagai bawahan atau pembantu.

Therefore, I feel responsible. Saya merasa perlu bertanggungjawab atas kebebasan yang telah diberikan. Saya merasa perlu terbuka terhadap suami dalam hal sekecil apapun, kecuali mengenai sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya dengan rumah tangga kami berdua.

I try my best to not cheating behind his back, to not keeping any dirty little secrets, to always be frank and honest about what I feel, say or do.

Ketika suatu waktu seorang laki-laki menggoda saya lewat chat, tanpa pikir panjang, saya langsung memblokir akun tersebut dan memberitahukannya kepada beliau. Bukan malah diam-diam menyembunyikan atau menghapusnya.

He trusts me. Dan saya akan merasa sangat bersalah ketika menyalahgunakan kepercayaan yang diberikannya. Kepercayaan adalah amanah. Dan sebagai bentuk syukur saya atas kepercayaan yang diberikan, maka saya berjanji untuk tidak mengkhianatinya.

Begitu juga dengannya, saya memberinya kebebasan untuk bersosialisasi seperlunya, dengan siapa saja asal tidak mengandung mudharat dan tidak menyimpang dari koridor syari’at. I give him my trust, the same thing he gives to me.

Trust and loyalty. Dua kata yang seharusnya dijunjung tinggi dalam sebuah pernikahan. A healthy relationship is about giving trust and receive it in return. Saling percaya, saling menjaga, saling terbuka, saling setia, saling mengingatkan, dan saling memegah teguh komitmen yang telah dibuat.

Memiliki pernikahan bahagia adalah satu di antara surga dunia. More happy and less worry. No drama, no lies, no abuse, no masks, no useless fights and never ending arguments.

Tanpa perasaan insecure berlebihan bahwa di belakang kita pasangan akan berbuat begini dan begitu. Tanpa perasaan minder atau inferior karena merasa pasangan jauh lebih sempurna. Tanpa harus menyembunyikan hal-hal yang memang seharusnya tidak perlu disembunyikan.

Terlebih jika dasar cinta itu adalah cinta karena Allah Ta’ala, maka ikatan itu akan makin erat dan kuat. Tidak hanya di dunia, tapi juga di surgaNya, insya Allah.

Jadi, kebebasan atas nama cinta seperti apakah yang mereka dengung-dengungkan? Apakah kebebasan tanpa batas, boleh melakukan apapun yang disukai meskipun hal tersebut menabrak rambu-rambu syari’at?

It is not love, it is a willful ignorance.

Karena cinta adalah menginginkan kebaikan bagi pasangan, sebagaimana kita menginginkan kebaikan bagi diri kita sendiri. Dan perlindungan serta penjagaan, adalah satu bentuk dan perwujudan dari rasa cinta.

So before you judge someone’s act about his/her behaviour on social media, you need to look a lil bit closer. Everybody has their own standards and reasons. All you have to do is ask. Don’t hastily assume.

Pun jika ternyata yang meminta seorang wanita untuk membatasi pergaulannya dengan lawan jenisnya itu adalah suaminya, then what’s wrong with that? It’s his right, anyway.

Karena sejak akad telah terucap, seorang suami berkewajiban menjaga dan bertanggungjawab penuh atas istrinya. Bahkan setelah menikah, seorang wanita tidak boleh bepergian atau keluar rumah tanpa izin dari suaminya.

“Ibn ‘Umar reports from the Prophet that once a lady came to the Prophet and asked him about the rights of a husband on his wife. He replied: she should not leave his house without his permission.” {Sunan Bayhaqi, Hadith No: 14490}

Seorang wanita masih menjadi hak orangtuanya selagi ia belum menikah, dan sepenuhnya menjadi milik suami setelah ia menikah nanti. And this is how Islam protects and liberates women at the same time, honorably.

Women were created from the rib of man to be beside him, not from his head to top him, nor from his feet to be trampled by him, but from under his arm to be protected by him, near to his heart to be loved by him…

~ Jakarta, August 2016… And yes, being a muslimah is a blessing, indeed❤

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

5 thoughts on “Cinta & Kebebasan

  1. Sayangnya, gak semua org bahkan wanita yg tau, paham, & mengamalkan aturan Allah yg kau sebut diatas… 😦
    Kebanyakan berargumen, “yg penting hatinya…”, tanpa memperdulikan aturan tsb
    Bahkan ada yg beralasan ” menjaga silaturahmi” sehingga melakukan apa yg mrk sebut “bergaul”…

    Silaturahmi yg merupakan akhlak islami, disalah artikan dg bergaul tanpa perlu ijin suami…
    Dan bila ada suami yg melarang istrinya keluar rmh, sang istri akan mengatakan “memutuskan silaturahmi”

    ???????

    • Betul sekali, dan tugas suami adalah membimbing istrinya yang belum tahu agar memahami betapa besarnya hak seorang suami terhadap istrinya. Sama-sama saling belajar dan bersabar. Sama-sama saling terus memperbaiki diri.

  2. Ya, and i really agree with mba🙂.
    sy belum menikah.. tetapi sy memilih untuk memprotect akun medsos sy🙂. ada banyak hal2 yg dihindari dari bebasnya pertemanan dengan makhluk berkromososm Y di dunia maya, terlepas di dunia nyata memang harus ada batasannya. Bagi sy itu bentuk penjagaan diri. Bukan berarti mereka monster atau berbahaya gimana sampai sy bilang penjagaan diri.
    Hasutan, godaan syetan itu nyata. Mereka pandai melihat cela dan mereka gak pernah tidur. Kita pasti tau gimana efeknya kalau yang chattingan itu sudah sama lawan jenis, atau yg komen dan like itu kakak kelas yang dulu kita kagumi, atau mantan yg katanya tdk ingin memutus talisilaturahmi.. sedang kita sudah tau bagaimana seharusnya seorang wanita menjaga diri dan hatinya..
    Dan menurut saya efek paling harusnya itu kalau sdh ada perasaan gak enakan, gak enakan menolak chattingan, gak enakkan kalau gak direspon, gak enakan nant dibilang sombong, de el el.
    Syukran jazakillah khay mba, sy suka tulisan2 mba.:)

  3. Ya, and i really agree with mba:).
    sy belum menikah.. tetapi sy memilih untuk memprotect akun medsos sy:). ada banyak hal2 yg dihindari dari bebasnya pertemanan dengan makhluk berkromosom Y di dunia maya, terlepas di dunia nyata memang harus ada batasannya. Bagi sy itu bentuk penjagaan diri. Bukan berarti mereka monster atau berbahaya gimana sampai sy bilang penjagaan diri.
    Hasutan, godaan syetan itu nyata. Mereka pandai melihat cela dan mereka gak pernah tidur. Kita pasti tau gimana efeknya kalau yang chattingan itu sudah sama lawan jenis, atau yg komen dan like itu kakak kelas yang dulu kita kagumi, atau mantan yg katanya tdk ingin memutus pertemanan.. sedang kita sudah tau bagaimana seharusnya seorang wanita menjaga diri dan hatinya..
    Dan menurut saya efek paling halusnya itu kalau sdh ada perasaan gak enakan, gak enakan menolak chattingan, gak enakkan kalau gak direspon, gak enakan nant dibilang sombong, de el el.
    Syukran jazakillah khayr mba, sy suka tulisan2 mba.:)

    • Masya Allah.. What a comment. Love it. Semoga Allah selalu menjaga kita ketika berinteraksi dengan laki-laki ajnabi. Baik di dunia nyata maupun dunia maya.

      Jazakillah khairan sudah membaca tulisan-tulisan saya ya, barakallaahu fiik 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s