Fitnah Wanita & Sosial Media

Flowers and a camera

Pagi ini, sebuah DM alias direct message masuk ke inbox Instagram saya. Dari seorang teman yang sudah saya kenal sejak aktif di Twitter dulu, yang sekarang berteman juga di Facebook dan Instagram.

Kurang lebih seperti berikut isinya:

“Kak..

Aku kok sampe detik ini masih gundah gitu. Gelisah, resah, ya gitu-gitu lah.. Tiap kali terpapar akun akhwat/ummahat bercadar yang akunnya, yang diset public, dipenuhi selfie-selfie dan wefie-wefie, pake pose-pose lagi.

Makin ke sini kok makin marak aja ya. Hampir setiap buka search IG pasti ada yg muncul. Rasanya beneran gundah, ga nyaman.

Apa memang akunya yang salah? Apa harusnya santai aja tiap liat yang kayak gitu? Apa harus selalu diberi excuse bahwa ini bagian dari proses hijrah ybs?

Soalnya ada juga akun-akun yang udah warning ga boleh komen nyinyir, negatif, dsj. Berarti dilarang menasihati ya, maksudnya. Nasihat juga bagusnya japri sih ya. Ga jarang juga sih ada yang komentarin berupa nasihat, lalu diserang balik oleh akun teman-temannya.

Eh iya, lalu banyak fansnya ya.. dari kalangan akhwat.. Juga ajnabi. Lalu dikomen-komen, dipuji-puji. Idk, if it’s just me or memang wanita berniqob itu justru terlihat lebih anggun dan syantik walau hanya tampak mata yg lagi tersenyum.

Hwaaa..

Duh, aku ga merasa diri lebih baik lho kak. Niqob aja pakenya belum permanen, dipakenya bisanya cuma di momen-momen tertentu. Malah aku salut sama mereka yang saat ini sudah permanen niqobnya.

But still.. Hwaah..

Waah (foto) tangan ini (juga) ya kak.. Huhu.. Gimana bagian wajah sekalipun hanya mata yang tampak. Terkadang juga matanya pake riasan eyeliner dan mascara..

Aku sempat mikir, mungkin emang gpp kali ya. Tapi kalo apa-apa, gimana kalo dijadiin standar sama yang lain, yang baru hijrah, yang berniat pake niqob.

Ga jarang juga kak, dapatnya kayak gitu di kalangan ummahat. Mana suaminya ada lagi, selpi-selpi bareng lagi. Apa gak cemburu ya??

Hwaaa…

Lagi-lagi aku ga menganggap diri lebih baik.

Maafkan kak Meut, tengah malam nge-DM kayak gini. Ga tau juga kebaca ato gak. Entah kak, kok di kala resah gelisah melanda kayak gini tiba-tiba ingatnya kak Meut ^^

‘Afwan yah kak.. Heheh.. Selamat istirahat..”

Reading those words, I was just like… Ah, we share the same concern, dear.

Itulah yang saya rasakan tiap buka explore feeds. Terutama dulu ya.. Sedih sekaligus kecewa. Tapi sekarang ya sudahlah, saya hide aja kalo nongol di feeds. Klik titik tiga di atas pict lalu pilih: see fewer posts like this.

Toh saya sudah pernah share tulisan tentang bahaya niqabi selfie, pernah nulis tentang ini di blog juga. Jadi saya rasa kewajiban mengingatkan sudah saya tunaikan.

Sebetulnya, bagus kalau kita risih melihat yang demikian. Tandanya hati kita tidak mati dari memberi nasehat. Tidak mati dari menganggap bahwa perbuatan semacam itu adalah suatu hal yang tidak biasa.

Mengutip perkataan Ustadz Nuzul Zikri dalam video berikut…

“Cadar dengan narsis ini adalah dua hal yang bertolak belakang, kenapa bisa digabungkan? Hakikat cadar adalah menutupi, bukan mengekspos.”

Padahal dalil dan nasehat sudah banyak yang sampai, asatidz pun sudah berbicara. Tapi namanya hati, jika belum terbuka oleh hidayah.. Bukan hak kita untuk memaksakan mereka untuk menerima dakwah ini. Hidayah adalah mutlak hak Allah.

Setidaknya kita sudah beramar ma’ruf nahi mungkar dalam bentuk yang paling lemah yaitu mengingkari dengan hati. Dan yang saya telah lakukan, adalah mengingkarinya dengan lisan dan tulisan.

Yang makin aneh adalah ketika suami-suami membiarkan istri-istri mereka untuk ber-selfie ria dengan aneka pose, mengunggahnya ke sosial media, bahkan ikutan berpose wefie berdua diiringi dengan caption tausiyah.

Aduhai, kemana hilangnya ghirah atau rasa cemburu..?

Di saat suami lain melindungi istrinya dengan menutupinya ketika tengah makan di restoran dari pandangan laki-laki.. Ia justru sengaja memamerkan kecantikan istrinya untuk dinikmati secara bebas oleh laki-laki lain. Bahkan merasa bangga.

Sa’ad bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu pernah berkata dalam mengungkapkan kecemburuan terhadap istrinya:

Seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama istriku niscaya aku akan memukul laki-laki itu dengan pedang  (yang dimaksud bagian yang tajam, red)…”

Mendengar penuturan Sa‘ad yang sedemikian itu, tidaklah membuat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  mencelanya, bahkan beliau bersabda: “Apakah kalian merasa heran dengan cemburunya Sa`ad? Sungguh aku lebih cemburu daripada Sa`ad dan Allah lebih cemburu daripadaku.”

(Shahih, HR. Al-Bukhari, dalam kitab An Nikah, bab “Al-Ghairah” dan Muslim no. 1499)

 

Kalau saya, paling—maaf—jijik dan risih lihat komentar laki-laki di akun akhwat yang suka selfie and wefie. Naudzubillaah. Betapa mudahnya mereka menilai wanita hanya dari tampilan fisiknya.

Betapa mudahnya mereka menikmati kecantikan seorang wanita yang harusnya tertutup rapat. Gratis, bisa disimpan dalam laptop atau gadget, bisa dinikmati dan dipandangi kapan saja, bisa dijadikan fantasi laki-laki yang berpenyakit jiwa.

Lantas saya jadi bertanya-tanya.. Yang dipuja-puji kayak gitu merasa jijik dan risih nggak ya? Atau malah bangga? 😦

Just sharing.. Kemarin saya sempat posting foto tangan saya yang sedang memegang bunga di Instagram. Dan saya masukkan blog as a featured image di sebuah postingan.

And you know what?

Ada komentar laki-laki iseng yang masuk ke dashboard. Isinya nggak pantas, lebay dan gombal abiss… Memuji tangan saya, memuji betapa beruntungnya suami saya memiliki istri seperti saya, endebra endebre.

Instead of taking it as a compliment, I rather feel insulted. Alih-alih saya merasa tersanjung, justru malah merasa mual.

Maaf, Anda salah orang. Saya bukan tipe wanita yang suka digombali lelaki selain suami sendiri. Apalagi mudah terbuai oleh pujian yang super lebay. I’m not that kind of woman.

Sebelum saya mark as spam and move to trash bin, komentar tersebut saya screenshoot dan saya tunjukkan ke suami. Reaksi beliau: “Itu sih laki-laki iseng yang mau nggodain istri orang.”

Tanpa pikir panjang, langsung saya hapus pict itu di blog dan sosial media lainnya, malam itu juga. Tanpa disuruh oleh suami apalagi diintimidasi.

Saya merasa bersalah. Saya merasa ikut andil dalam perbuatan yang tidak pantas. Saya tidak mau menjadi sebab terfitnahnya hati laki-laki.

Astaghfirullaah wa atuubu ilaih…

Di lain sisi, saya juga merasa bersyukur dan berterima kasih kepada sang komentator. Berkat dirinyalah saya jadi lebih berhati-hati dan mawas diri, agar tidak sembarangan mengekspos bagian dari diri saya ke sosial media.

Padahal saya sudah jarang sekali posting foto diri. Paling hanya foto tangan atau kaki yang berbalut sepatu dan kaus kaki. Saya dulu pernah mengunggah foto diri dari belakang, namun beberapa tahun terakhir ini, saya sangat menghindarinya.

Bahkan saya melarang suami, teman atau saudara untuk mengunggah foto saya ke sosial media dalam bentuk apapun, tanpa persetujuan saya. I am extremely strict about this.

Saya sangat risih jika dilihat oleh laki-laki. Saya tidak suka jadi pusat perhatian lawan jenis. Saya juga sangat menghindari difoto oleh orang lain, yang boleh jadi, suatu saat akan diupload ke media sosial atau dilihat oleh laki-laki non mahram.

Then I begin to wonder…

Kalau foto tangan megang bunga aja bisa bikin laki-laki terfitnah.. Apatah lagi foto diri yang full body, dengan wajah tertutup maupun tidak. Apalagi dengan berbagai pose yang menggoda dan lirikan mata malu-malu.

Subhanallaah.. Betapa dahsyatnya fitnah wanita. Bahkan sebagian anggota tubuhnya yang sudah tertutup pun, mampu menimbulkan fitnah syahwat bagi lawan jenisnya.

I can’t imagine what men were thinking when they took at look at us. We’re not responsible of what they are thinking, but at least, we could -and we should- prevent them to do such things by watching our act.

Jangan jadi sumber fitnah. Jangan jadi wanita yang menutup aurat, padahal sejatinya ingin dilihat.

Cadaran tapi hobi narsis pakai tongsis, tak kenal tempat dan waktu. Tak peduli dipandangi mata-mata manusia karena aksinya begitu mengundang perhatian.

Melenggak-lenggokkan tubuh dan khimarnya di keramaian sambil bercentil-ria, kemudian diunggah dalam bentuk video ke sosial media. 

Curhatan teman saya via DM tadi, dan apa yang saya alami baru-baru ini, adalah sebuah pelajaran penting bagi saya agar tidak bemudah-mudahan menampilkan sosok diri, physically, di sosial media.

Ah, wanita…

Sudah berhijab bahkan berniqab, pun.. masih menjadi sumber fitnah. Benar adanya bahwa hijab terbaik seorang wanita adalah rumahnya. Dan perhiasan terbaik seorang wanita adalah rasa malunya.

Rasa malunya yang mencegahnya untuk sengaja tampil memukau di hadapan manusia.

Rasa malunya yang meredam jiwa narsisnya untuk mengekspose diri di media sosial.

Rasa malunya juga yang menjadikan ia begitu tersembunyi dari mata-mata lelaki.

Dan, rasa malunya yang membuat ia begitu berharga.

A beauty which is too expensive to be on display. A kind of exclusive and classy beauty. So rare, so precious.

I write this not because I’m much better than you all. It’s because I care. You are my sisters in deen. And giving advice is our obligation as Muslim and Muslimah.

Semoga Allah melembutkan hati-hati kita untuk menerima kebenaran, dari manapun kita mendapatkannya.

 ~Jakarta, Agustus 2016.. sebentuk pengingat untuk diri sendiri.

©AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Tumblr ]

11 thoughts on “Fitnah Wanita & Sosial Media

  1. 🙂
    Rasanya sulit membayangkan, & juga sulit diterima akal sehatku, bila di zaman sekarang ini ada lelaki yg terbakar syahwatnya hanya krn melihat “sepotong tangan ato kaki wanita”, apalagi yg tertutup kaus kaki…

    Juga sulit diterima akal ku, bila sekarang ini ada lelaki yg menyimpan gbr sepotong tangan dan kaki wanita untuk “dinikmati” nanti…
    ???

    Sudah menjadi sunnatullah, bila seorang anak Adam melihat, mendengar, ato merasakan sesuatu yg “wah” untuk pertama kali, maka akan selalu terbayang di kepala, terngiang ngiang ditelinga, ato teringat terus dan terus sampai pada saat tertentu…
    “Wah” itu tdk terbatas hanya pada yg buruk, tp juga yg baik..

    Aku telah membuktikannya sendiri.
    Pertama kali belajar membaca qur’an, di kepala ini selalu terbayang tulisan arab, qur’an. Susah untuk dibuang…
    Pertama kali melihat wanita, juga sama. Selalu terbayang di kepala

    Seorang lelaki yg baru menikah, akan selalu terbayang malam pertama.
    Dan bila dia duduk disamping istrinya, walaupun sang istri berpakaian lengkap, pasti dadanya berdegup kencang.
    10 thn lagi, hal itu udah tdk pernah dirasakannya lagi…
    Semua itu krn udah terbiasa

    Di zaman permulaan islam, yg para wanitanya masih tertutup semua, seorang pemuda (yg nantinya menjadi imam mazhab) tanpa sengaja melihat betis seorang wanita yg tersingkap krn tertiup angin ketika akan pergi belajar ke tempat gurunya. Hal itu membuatnya susah berkonsentrasi pada pelajaran sehingga sang guru pun menegurnya krn tdk fokus pada pelajaran…
    Wajar terjadi krn pertama kali melihat

    Zaman sekarang…
    Di setiap tempat mudah banget melihat wanita yg terbuka lebar. Di mall. Di perkantoran. Malah sulit untuk berusaha menundukkan pandangan. Krn hampir selalu ada. Dimana mana.
    Jadi, amat sangat aneh banget bila ada lelaki yg sengaja mau membakar syahwat nya, yg dilihat ato disimpan untuk nanti adalah gbr sepotong tangan ato kaki wanita…
    Krn udah terlalu sering liat, gbr sepotong itu gak akan menggodanya..

    “Udah mampu beli ayam, mana ada org mau makan tempe doang. Udah biasa makan daging, gak akan puas kalo cuma makan tahu doang”

    Benar yg dikatakan oleh suamimu, “org ini mau menggoda…”
    Terlepas apa tujuannya menggoda, yg jelas org tsb tdk menjadi tergoda syahwatnya, apalagi untuk kemudian disimpan & “dinikmati” nanti…

    Cari & temukan gbr “yg hot”, amat mudah zaman sekarang, zaman internet & sosmed.
    Gak perlu cuma gbr sepotong tangan ato kaki

    Itu sih, berlebihan penilaian nya…
    😄

    • Nope. Ada laki-laki yang justru lebih terfitnah dan terpesona dengan wanita bercadar yang masih tampak bagian matanya dibandingkan dengan yang frontal menampakkan auratnya.

      Banyak kasusnya, bahkan teman saya ada yang mengalami sendiri.

      Berlebihan jika ada laki-laki yang menyimpan foto atau gambar bagian tubuh wanita dan terobsesi dengannya?

      Pernah dengar yang namanya “fetish”? Nah, go google it.

      • itu sih, org “sakit”… Hukum Dibuat Allah secara umum, untuk kondisi umum. Zaman sekarang marak pelecehan seksual pada anak. Ada org “sakit” yg terbakar syahwatnya krn anak kecil. Bukan berarti kemudian kita tdk mau meninggalkan anak kita di sekolah, kan? Apa jadi kita putuskan untuk selalu mendampingi mrk tiap detik? Krn ada org “sakit” tadi? Bila demikian kita pun jadi org “sakit” juga. yaitu phobia apa, gitu… Maka “berlebihan” lah kita semua.

        • Justru karena di dunia ini ada bahkan banyak orang “sakit”, sepatutnyalah seorang wanita menjaga dirinya. Karena siapa yang dapat memastikan bahwa foto dirinya hanya dipandangi oleh laki-laki normal?

          Analogi meninggalkan anak dengan meninggalkan budaya selfie sangat tidak pas. Terlalu dipaksakan. Sila cari analogi lain yang lebih cocok dan sepadan.

          Dan seperti yang sudah saya jabarkan dalam tulisan di atas, laki-laki normal pun—noted ya, laki-laki yang normal di dunia ini (normal menurut pengakuan Anda), bukan hanya Anda seorang. Banyak laki-laki normal justru tergoda dengan wanita yang menutup rapat auratnya. Semakin tertutup, semakin misterius dan menggoda, semakin bikin penasaran. Buka mata Anda, fenomena seperti ini banyak terjadi.

          I think I have made it pretty clear. This is my last comment in this conversation. End of discussion.

  2. Saya sendiri meskipun belum berniqob dan masih jauh dari sempurna kadang merasa risih melihat diskusi di medsos yang membahas niqobi selfi. Sebagian melakukan pembelaan dengan berkata bahwa hijrah butuh proses. Jadinya malah seperti sebuah pemakluman bahwa yg berniqob boleh berbuat sesuka hati.
    Malah seolah ada perang argumen, antara dua kubu yang mengaku cinta sunnah. Saya sendiri jengah dan risih. Jika tujuannya untuk dakwah, bukankah gambar selfi bisa diganti dengan gambar lain. Harusnya yang narsis itu karyanya bukan orangnya.

    • Sepakat. Dakwah pun ada tata caranya, tidak hanya bermodal semangat dan niat baik. Karena syarat diterimanya amal adalah ittiba’ussunnah dan ikhlas lillaahi ta’ala.

      Memahami proses hijrah seseorang bukan berarti memaklumi kesalahan yang dilakukannya dalam proses hijrahnya, atau berhenti dari saling nasehat menasehati. Kebenaran tetap harus disampaikan, meski belum mampu mengamalkan. Setidaknya, ilmu sudah sampai.

      Hadanallaah wa iyyahum.

  3. Reblogged this on Ip and commented:
    This post gave me a really really really deep self realization..

    Langkah saya menghapus facebook saya dan istri, langkah saya tidak memperbolehkan diri sendiri dan istri upload foto di sosial media, dan langkah saya untuk menjaga agar anak kami juga melakukan hal yang sama nampaknya kurang saya pahami esensinya sebelum membaca tulisan ini.

    Yang saya rasakan dulu adalah saya hanya cemburu dan merasa ada yang mengganjal dihati melihat foto istri di sosial media tanpa tahu ternyata ada pengalaman pengalaman nyata yang impact nya sangat besar sekali seperti yang diceritakan pada tulisan dibawah. Bagi yang mungkin mengalami permasalahan serupa dengan saya, dari tulisan ini Insyaallah bisa kita ambil ibroh tentang hal tersebut dari sudut pandang yang lain.

  4. Pingback: Enough already with the ridiculous “they used to be free” memes | From guestwriters

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s