Ekspresi

i love writing

Tiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengekspresikan perasaannya.

Ada yang curhat sama teman selama berjam-jam.

Ada yang mojok bisik-bisik tetangga.

Ada yang diem aja di kamar, doing absolutely nothing.

Ada yang langsung lari ke cemilan. ๐Ÿ˜›

Ada yang menghabiskan waktu dengan marathon baca buku atau nonton film kesukaan sebanyak-banyaknya.

Ada yang menyalurkan hobi tidurnya agar sejenak dapat lepas dari kenyataan.

Ada yang ngedumel di medsos, ngumbar dan jual kesedihan via status, atau posting caption ular naga include video nangis bombay plus drama nggak abis-abis.

Ada yang pergi ke tempat-tempat tertentu untuk menyendiri.

Ada yang nulis di blog atau buang tinta di diary bergembok.

Ada yang ngadu langsung sama Allah.

Dan sejumlah perilaku lain yang diharapkan bisa menyamankan apa yang tengah dirasakan.

Kalau kamu cenderung yang mana?

Kalau saya, salah satu aktifitas menyenangkan untuk berekspresi adalah: NULIS.

Nulis apa aja yang saya rasakan. Entah itu di diary atau blog pribadi.

Nulis bagi saya semacam terapi. Sesuatu yang melegakan. Sesuatu yang membantu saya untuk melewati saat-saat terpenting dalam hidup.

I write to express myself. I write to remind myself. Not to gain fame, likes or whatever. Not to be known as a writer or blogger.

Writing to me is some kind of soothing activity. It is relieving. Reviving. Renewing. Making me feel a lot better. Help me to rise after fall, to be a better version of myself.

Ketika saya menulis, maka saya memposisikan diri sebagai the only audience. Hanya saya seorang. I write for me. Not for anyone else.

Some of the best writing advice Iโ€™ve ever received:

“Audience? You have no audience. You have that one person you are writing to. One person to impress. The truth to writing? It is personal. It is intimate. If you write it for a certain everybody, you will lose the sincerity.” (via theadventuretobe on Tumblr)

Sometimes, people inspire me to write. My writings, are just another form of salutation, admiration, or even, criticism. A tribute to certain people who pulled the trigger. People who were there behind every word, every sentence, every paragraph.

Tiap kali saya menuangkan rasa lewat tulisan, ada kelegaan yang tidak tergantikan oleh apapun juga. Sesuatu yang bahkan tidak bisa tergantikan oleh jalan-jalan ke tempat wisata atau makan-makan enak di restoran ternama.

This is the way I express myself. This is how I do to ease the pain or lighten up the joy. This is how I get to know and dig more about myself. My kind of self recognition.

Writing helps me overcome unexpected situations. And re-reading my old writings helps me to feel even better. Everytime I was feeling down, I took a look at my own writings. I contemplate. I reminisce. I recall those moments of the past.

Then I feel like my old self was talking to my present self..

“You have wrote this, haven’t you? Now brace yourself, dust yourself off and do what you ought to do.”

Then I feel like finding the strength to keep on moving, standing tall against everything.

Writing down your feeling is good for your mental health.Your thoughts, your words, your sentences, your writings.. They are powerful.

Powerful enough to mend the broken pieces of your soul, and others’ souls. Powerful enough to destroy your dreams and feelings into pieces, and also others’.

Words can heal. Words can convince. Words can build hope instead of fear. Words can elevate you rise above. Words can shape you up into a better or a worse version of you.

Therefore I love to use positive words instead the negative. Positivity is contagious, so is negativity. Once it has been said, it could embedded forever into our souls.

So be wise picking your words. Someday, somehow, you’ll use them. Either to help you, or to destroy you.

~ Jakarta, almost midnight in rainy September… inspired by yesterday morning conversation between me and my husband.

ยฉ aisyafra.wordpress.com

[ image source: Tumblr ]

Advertisements

9 thoughts on “Ekspresi

  1. Untuk melepas emosi negatif, kalo udah gak tertahan banget, aku biasa nangis. Cengeng. Tapi itu gak merugikan orang lain & bisa melegakan.

    Aku dulu sempat suka nulis. Tapi kemudian aku jadi terlalu ekspresif. Jadi sekarang, berusaha tau diri kalo lagi menulis, apalagi untuk konsumsi publik.

    • Nangis sampai puas, habis itu tidur. Kalo udah nangis rasanya lega, makanya dirasain aja sedihnya. Jangan ditahan-tahan atau dipercepat sembuhnya. Nikmati rasa sakitnya, supaya benar-benar tuntas, dan akan lebih mudah untuk mup on.

      Nulis ketika emosi sedang turun atau suasana sedang sedih, bagiku justru tantangan tersendiri. Gimana cara mengekspresikan kesedihan dengan cara terbaik, tanpa drama atau menye-menye. Berlatih menulis positif dalam suasana hati yang negatif, di antaranya adalah dengan menciptakan tulisan yang sifatnya memotivasi diri sendiri. Look at the bright side, stay positive, dll. And alhamdulillah, it works!

      Meski tidak harus dipublish saat itu juga, tidak mengapa. Yang penting sudah lega ๐Ÿ™‚

  2. Pingback: Ekspresi | Safarnama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s