Mengapa Harus Selektif Memilih Teman?

siapa-temanmu

“Pilah-pilih teman? Sombong amat, memang situ yakin udah lebih baik dari mereka?”

That’s what some people said. Well, I just smiled anyway.

In my opinion, jika tidak pilah pilih teman dalam muamalah urusan dunia, maka laa ba’sa, tidak mengapa. Kaya miskin, anak pejabat dan anak rakyat jelata di mata kita harusnya sama saja. Manusia tidak dilihat dari derajat dan kedudukan dunianya.

Namun ketika sudah menyangkut kualitas agama dan aqidah, apalagi akhlak.. Jangan sembarangan memilih teman, terlebih lagi teman dekat. Kualitas dirimu, tergantung kepada siapa engkau berkawan akrab.

Maksud hati mungkin baik, ingin mendakwahi mereka. Tapi hati ini lemah, boleh jadi malah diri ini yang terbawa mereka. Alih-alih mewarnai, justru diri ini yang terwarnai oleh mereka.

Bukan karena sok ekslusif atau merasa diri lebih tinggi lagi lebih baik, namun justru karena sadar sepenuhnya, hati ini masih lemah dan mudah terbawa arus. Karena tabiat manusia adalah mengikuti dan menyerupai kebiasaan teman dekatnya.

Sering bergaul dengan mereka yang menebarkan hal-hal buruk, gemar berkata kasar, perilaku yang jauh dari tuntunan agama, otomatis akan mempengaruhi cara kita dalam memandang sesuatu.

Seringnya kita terpapar pengaruh negatif yang merusak, akan membuat diri kita terbiasa dan lebih permisif menyikapi hal-hal negatif tsb. Or the worst, mulai terpengaruh untuk melakukan hal yang serupa.

Pepatah Arab mengatakan,

Jika ingin tahu seseorang, jangan tanya dirinya, tetapi tanyalah temannya dan keadaan temannya.”

Berkawan dengan orang yang berakhlak buruk, gemar berkata kasar dan abai terhadap ajaran agama, lama-lama kita akan menjadi begitu permisif dengan budaya demikian.

Begitu juga jika kita berteman dengan orang-orang shalih yang berakhlak baik lagi santun perangainya.. Tentu yang demikian akan sedikit banyak mewarnai kepribadian kita.

Maka pilihlah benar-benar.. Kepada siapa engkau menambatkan tali kasih sayang. Karena siapa engkau dan bagaimana agamamu, tergantung kepada siapa temanmu.

So when it comes to love, faith, loyalty, and friendship.. being picky is a must.

pilah-pilih-teman

Cukuplah hadits Rasulullaah dan nasehat dari para ulama salaf berikut yang menjadi sandarannya…

“Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun yang saling berhadapan. Apabila mereka saling mengenal (sifatnya, kecenderungannya dan sama-sama sifatnya) maka akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda maka akan tercerai-berai.” (HR. Muslim)

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

“Dan ruh-ruh itu terbagi menjadi dua kelompok yang saling berlawanan, jika jasad-jasad itu saling bertemu di dunia maka mereka akan bersatuatau berselisih sesuai yang mereka diciptakan di atasnya. Sehingga orang yang baik cenderung kepada orang yang baik, dan orang yang jahat juga cenderung kepada orang yang jahat.” (Al-Khathabi)

“Semua teman duduk dan sahabat yang engkau tidak mengambil faedah kebaikan agama darinya maka hendaknya engkau lari darinya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyaa)

“Di antara bentuk kecerdasan seseorang adalah selektif dalam memilih teman berjalan, teman bersama, dan teman duduknya.” (Abu Darda’)

“Bila dia (seorang penuntut ilmu) membutuhkan teman, hendaknya memilih orang yang shalih, beragama, bertakwa, wara’, cerdas, banyak kebaikannya lagi sedikit keburukannya, santun dalam bergaul, dan tak suka berdebat. Bila dia lupa, teman tersebut bisa mengingatkannya. Bila dalam keadaan ingat (kebaikan), teman tersebut mendukungnya. Bila dia butuh bantuan, teman tersebut siap membantunya. Dan bila dia sedang marah, maka teman tersebut pun menyabarkannya.” (Al-Imam Badruddin Ibnu Jama’ah Al-Kinani, Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, hal. 83-84)

Al-Imam Qatadah rahimahullah berkata:

“Demi Allah subhanahu wa ta’ala, sungguh tidaklah kami melihat seseorang berteman kecuali dengan yang sejenisnya. Maka bertemanlah dengan orang-orang shalih dari hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala, semoga kalian senantiasa bersama mereka atau menjadi seperti mereka.” (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah rahimahullah, 2/480)

~ Jakarta, September  2016.. inspired by my old blog post on WordPress.

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Facebook ]

3 thoughts on “Mengapa Harus Selektif Memilih Teman?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s