Independent Woman

she-is-you

“I was told I was dangerous. I asked why, and their response was, “because you don’t depend on anyone.” And I smiled.” ~Unknown

Sebagian orang bilang…

“Perempuan itu kalau sudah biasa mandiri, bahaya.. Bisa lupa diri akan kedudukannya sebagai perempuan yang harusnya dipimpin oleh laki-laki..”

Atau…

“Perempuan yang biasa mandiri itu, biasanya disepelekan sama laki-laki. Dianggap terlalu perkasa, bisa mengerjakan semua hal tanpa bantuan. Jadi semua tugas diserahkan kepadanya, padahal lelakinya mampu mengerjakannya..”

Well, I think, it depends. Depends on the character and personality of their own. Tergantung pada pribadi mereka masing-masing yang menjalaninya.

Perempuan yang ‘tough’ dan mandiri tidak selalu seperti yang mereka katakan. Banyak perempuan mandiri yang paham akan hak dan kewajibannya, sebagai anak, istri, ibu dan saudara perempuan. Kemandiriannya tidak membuatnya lupa akan kodratnya sebagai wanita.

Mereka mampu menyeimbangkan peran dan memenuhi kewajibannya, tanpa merasa diri mereka lebih tinggi, atau tidak membutuhkan laki-laki. A badass, courageous and fearless woman with a gentle heart.

Lelaki sejati yang dikaruniai perempuan yang mandiri, mereka tidak akan merendahkan dan memandangnya sebelah mata. Menggunakannya untuk kepentingan pribadinya. Apalagi sampai memikulkan beban yang bukan merupakan tanggungjawabnya.

“Only strong man can handle a strong woman. A weak man will say she has an attitude problem.” —Boona Mohammed

Mereka menghargai dan mendukung wanitanya untuk mandiri, dengan tetap menjaga dan mengingatkan sang wanita agar tetap dalam kodratnya, yaitu di bawah perlindungan dan pimpinan laki-laki.

Hanya lelaki bermental lemah yang menganggap bahwa wanita mandiri adalah objek pemanggul beban hidup, atau memandangnya sebagai ancaman terhadap eksistensinya sebagai seorang lelaki.

Saya teringat kembali akan kata-kata suami ketika baru menikah dulu..

“Rumah tangga dan pernikahan yang baik, adalah ketika suami dan istri saling memahami dan memenuhi hak-hak dan kewajiban masing-masing. Banyak rumah tangga yang kandas dan bermasalah dikarenakan salah satu atau keduanya tidak menyadari dan memenuhi hak-hak dan kewajibannya sebagi pasangan suami istri.”

Pernikahan ibarat melangkahkan kaki dalam sebuah perjalanan. Jika satu kaki enggan untuk bergerak maju, maka akan sulit untuk berpindah tempat. Bisa saja satu kaki itu diseret atau diangkat, tapi akan memperlambat perjalanan, sebelum akhirnya terhenti sebelum sampai tujuan.

Kuncinya adalah kata ‘saling’. Karena jika hanya satu pihak saja yang memenuhi hak dan kewajibannya, maka dapat dipastikan akan timpang.

Jadi tidak selalu karena wanita yang terlalu mandiri, atau laki-laki yang terlalu lemah, tapi karena tidak terpenuhi dan dilalaikannya hak-hak dan kewajiban antara suami istri yang membuat sebuah bangunan pernikahan rapuh diterjang badai.

Terkadang, kemandirian seorang perempuan terbentuk karena keadaan. Keadaan mengharuskannya untuk tidak bergantung pada orang lain. Maka tumbuhlah ia menjadi perempuan tegar nan perkasa, di tengah fitrahnya yang seharusnya diayomi dan dilindungi oleh laki-laki.

Saya sendiri, salut dengan perempuan-perempuan yang berjiwa mandiri. Mandiri dalam berbagai hal. Entah karena terpaksa atau karena mereka memilih untuk mandiri. Dan kemandiriannya tidak membuat mereka lupa akan fitrahnya sebagai wanita.

Mereka lembut tapi tidak lemah. Tegas menetapkan batas. Berkarakter kuat dan cerdas. Tidak mudah terpengaruh dan tidak peduli apa yang orang lain katakan tentangnya. A woman that is full of herself.

Ya, di mata saya mereka adalah sosok perempuan yang hebat. Dengan sifat dan tabiat wanita yang selalu ingin dimanja dan dimengerti, mereka mampu berdiri di atas kaki sendiri saat kesedihan terasa menyesakkan dada.

Menghapus air mata dengan tangan sendiri. Untuk kembali menata hidup dan tersenyum lagi. Bukan karena mereka tidak punya hati, tapi mereka melihat hidup dari kacamata yang berbeda dengan para wanita kebanyakan.

Independent women, they are so rare and precious. Like a saying, she was so strong but gentle, educated but still stay humble, fierce but compassionate, passionate but can keep rational, so disciplined that they can be free.

Mereka kuat dalam prinsipnya, tidak mudah terbawa arus manusia. Tegar menghadapi ujian dan cobaan. Tangguh tanpa harus bergantung kepada manusia lainnya. Cukup Allah saja.

~ Jakarta, Oktober 2016.. Untuk para perempuan tegar nan mandiri di luar sana..

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

14 thoughts on “Independent Woman

  1. Saya mungkin tidak termasuk kriteria perempuan mandiri, tapi saya tipe yang tidak suka bergantung pada se-manusiapun. Bagi saya kerjasama itu penting, bekerja bersama partner dan tim itu menyenangkan tapi tidak bergantung. Menurut saya setiap perempuan itu wajib punya keahlian apapun, dan dengan keahlian itulah dia berdiri.

  2. Pingback: Independent Woman | A Journey of Discovery

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s