Depok, Hujan dan Sore Hari

city-and-rain

Ahad kemarin, saya dan adik, beserta si bungsu Fiqar, jalan-jalan ke kota Depok. Mengunjungi bazaar di satu toko buku yang cukup terkenal di tepi jalan Margonda, lalu mampir ke mall yang berada tepat di depannya. Ketika hendak pulang, kami disambut hujan yang cukup deras.

Hujan sore hari di kota Depok selalu mengantarkan ingatan saya pada peristiwa beberapa tahun yang lalu. Banyak cerita di tempat ini, terutama saat hujan turun. Banyak wajah yang singgah di memori. Tawa, senyum dan air mata menghiasi pertemuan-pertemuan kami.

Sungguh atmosfir hujan selalu mampu membawa kepingan episode masa lalu. Mengingatkan tentang sebuah asa dan rasa yang pernah ada di kota ini, tepat sepuluh tahun yang lalu.

Lalu sayapun mendadak jadi melankolis. Entah apa hanya saya saja ya, hujan seringkali membuat suasana menjadi super melow, hanyut terbawa perasaan. There is something about the rain I just can’t explain.

Ketika menaiki angkot yang menuju rumah, saya memandangi butir-butir air hujan dari sela pintu dan jendela kaca. Bagaikan sebuah perjalanan ke masa lampau. Seperti sebuah film lama yang diputar ulang. Rasa yang sama, dalam suasana yang berbeda.

Dulu sepulang taklim di masjid UI, saya pasti membawa majalah atau buku baru yang belum pernah dibaca. Entah itu beli di toko buku langganan, atau boleh pinjam dari teman. Pokoknya harus ada yang dibaca di dalam angkot. Kalau nggak, saya bisa mati gaya. Ahahaha.

Diiringi rintik hujan dan lambaian tangan dari seseorang yang sangat istimewa, saya melaju meninggalkan kota ini. Begitu naik ke atas angkot, saya langsung duduk manis di bangku paling pojok sambil asyik membaca. I made the universe around me disappear and drowned into another world. I let the adventure begins…

Yesterday I tried to recreate those moments in my mind. When I got book in my hand, sat quietly, looked at the window. But, then I realized.. I didn’t have a single book in my bag. Just two bottles of drink, some snacks, my son’s clothes and gadget.

Ten years passed.. And yes, so many things have changed.

Dulu, saya sangat menikmati kesendirian (baca: kejombloan) saya kala itu. Sesuatu yang seringkali dianggap sebagai aib di masa sekarang ini, bagi saya adalah anugerah tersendiri. Being young and single was definitely a blessing.

Why? I’m single and I choose to be happy. Bahagia kan tidak hanya ditentukan oleh punya pasangan atau tidak. Happiness is a state of mind which we choose for ourselves.

Being single means…

Bebas mau nongkrong di toko buku kapan aja sesuka hati selama berjam-jam, atau datang ke berbagai kajian di hari yang bersamaan. Merdeka untuk menentukan to do list mau ngapain aja hari ini, atau kumpul dan makan sama teman di mana aja.

Kota ini dan peristiwa yang pernah terjadi di dalamnya memiliki arti tersendiri bagi saya.  I will never forget how it made me feel. That exact moment remind me of those young and carefree days. A blast from the past which means a lot to me.

The next question is, does it mean that I regret my decision to get married and having my own family instead of stay single in the name of freedom?

Of course not. Those two are certainly different things.

When I was single and free.. I simply enjoy it. I can never forget those joyful times of being fully me, or the moments I shared with my beloved besties around me. Yeah!

When I’m a married woman.. I feel more warm and.. complete. A certain feeling I will never trade for anything in this world. A blessing that never makes me wish I was single again.

Depok, hujan dan sore hari.. This always reminds me of the good old days. Mengingatkan kembali akan sosok saya yang dulu, tepat sepuluh tahun yang lalu. The younger and immature version of me.

I am grateful for every little thing Allah has sent me today. I have never imagined for living such a blissful life, with someone more remarkable than what I have dreamed of over ten years ago.

Yes, I still remember the days when I prayed for the things I have now. Alhamdulillaahilladzi bini’matihi tatimushshaalihat.

Thank you, Allah  ❤

~ Jakarta, end of October 2016.. when the rain is falling and all I can do is writing🙂

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

4 thoughts on “Depok, Hujan dan Sore Hari

  1. baca tulisan teh meut jadi gimana rasanya.
    Ga bisa dipungkiri ya teh, kayaknya yang mau melepas masa lajang kok malah banyak pikiran, banyak kesedihan. Apa itu wajar? *maapkeun ini komentar apaan*

    • Tentu rasa sedih itu ada.. Sedih kehilangan kebersamaan dg teman2, sedih kehilangan porsi waktu dengan diri sendiri, dll. Tapi buatku pernikahan bukanlah belenggu dari kebebasan. Ia adalah penyempurna kebahagiaan.. Yang tadinya single and happy, becomes married and happier, insya Allah..

      Karena menikah… adalah meninggalkan sebagian dari masa lalu dan menjemput sebagian dari masa yang akan datang🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s