Choose Your Friends Wisely…

people-inspire-you

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang dzalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku) . Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaithan itu tidak mau menolong manusia.(QS. Al Furqan: 27-29).

Ada dua orang teman yang saya kenal cukup baik, sebut saja A dan B. Keduanya aktif di sosial media. Keduanya telah berhijrah dan menutup auratnya dengan hijab, bahkan memutuskan untuk berniqab.

Saya salut dengan perjuangan keduanya untuk meninggalkan dunia yang sebelumnya mereka geluti. Karena bagi saya itu bukan hal yang mudah. Saya mengamati perjalanan hijrah keduanya, dari awal hingga kini.

Same starts, different journeys, different people, different results.

Di awal-awal mereka berhijrah, tekad mereka sangat kuat untuk kaffah. Yang harusnya diamalkan mereka amalkan, yang harusnya ditinggalkan mereka tinggalkan. Berat, namun mereka berusaha keras untuk sami’na wa atha’na.

Then they both chose different paths.

A yang tadinya istiqamah untuk tertutup dan tidak suka mengekspos dirinya mulai terpengaruh teman-temannya. Dulu sekali, ia sangat anti untuk berpose selfie dan mengunggah fotonya ke sosial media. Foto-fotonya tidak ada yang jelas menampakkan sosoknya.

Kini, akun sosmednya dipenuhi foto selfienya dengan teman-temannya. Tidak hanya satu dua, tapi banyak. Saya klik akun teman-teman yang ditandai dalam fotonya, ternyata full of selfies everywhere. Hmmm, no wonder why.

Sedang B yang sebelum berhijrah tadinya narsis abis, sering foto close up dan setelah berhijrah masih sering memamerkan kecantikannya meski tertutup cadar, kini berubah 180 derajat. Ia menghapus seluruh foto-fotonya di sosial media. Baik yang full maupun hanya tampak matanya saja.

Saya lihat akun-akun yang sering berinteraksi akrab dengannya di sosmed, ternyata tidak ada satupun yang memasang foto profil selfie sendiri dengan cadarnya, atau beramai-ramai dengan teman-temannya. Clean.

Sampai sini, sudah dapat benang merahnya? 🙂

Yes, you are those who you choose to surround yourself with. Siapa kita tergantung dengan siapa kita berkawan akrab. Agamamu, tergantung kepada agama temanmu.

Al-Imam Qatadah rahimahullah berkata:

“Demi Allah subhanahu wa ta’ala, sungguh tidaklah kami melihat seseorang berteman kecuali dengan yang sejenisnya. Maka bertemanlah dengan orang-orang shalih dari hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala, semoga kalian senantiasa bersama mereka atau menjadi seperti mereka.” (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah rahimahullah, 2/480)

Ibnu Qudamah Al Maqdisiy berkata:

“Ketahuilah, Sungguh tidaklah pantas seseorang menjadikan semua orang sebagai temannya. Akan tetapi sepantasnya dia memilih orang yang bisa dijadikan sebagai teman, baik dari segi sifatnya, perangainya, ataupun apa saja yang bisa menimbulkan keinginan untuk berteman dengannya. Sifat ataupun perangai tersebut hendaknya sesuai dengan manfaat yang dicari dari hubungan pertemanan.

Ada orang yang berteman karena tujuan dunia, seperti karena ingin memanfaatkan harta, kedudukan ataupun hanya sekedar bersenang-senang bersama dan ngobrol bersama, akan tetapi hal ini bukanlah tujuan kita. Ada pula orang yang berteman untuk tujuan agama, dalam hal ini terdapat pula tujuan yang berbeda-beda.

Di antara mereka ada yang bertujuan dapat memanfaatkan ilmu dan amalnya, ada pula yang ingin mengambil manfaat dari hartanya, dengan tercukupinya kebutuhan ketika berada dalam kesempitan.

Secara umum, kesimpulan orang yang bisa dijadikan sebagai teman hendaknya dia mempunyai lima kriteria berikut:

Berakal (cerdas), berakhlak baik, tidak fasiq, bukan ahli bid’ah dan tidak rakus terhadap dunia.

Kecerdasan merupakan modal utama. Tidak ada kebaikan berteman dengan orang yang dungu, karena orang yang dungu terkadang dia ingin menolongmu tapi justru dia malah mencelakakanmu.

Akhlak baik, hal ini juga sebuah keharusan. Karena terkadang orang yang cerdas jika ia sedang marah dan emosi dapat dikuasai oleh hawa nafsunya. Maka tidaklah baik berteman dengan orang yang cerdas tapi tidak berakhlak.

Sedangkan orang yang fasiq, dia tidaklah mempunyai rasa takut kepada Allah. Dan orang yang tidak mempunyai rasa takut kepada Allah, kamu tidak akan selamat dari tipu dayanya, disamping dia juga tidak dapat dipercaya. Adapun ahli bid’ah, dikhawatirkan dia akan mempengaruhimu dengan jeleknya kebid’ahannya.”

(Mukhtashor Minhajul Qashidin, 2/ 36-37 via Muslimah.Or.Id)

Demikianlah mengapa kita perlu selektif memilih dengan siapa berkawan akrab, karena perlahan-lahan kita akan menyerupai akhlak dan kebiasaan mereka. Be with someone who makes you a better you.

Dear friend, I don’t hate you, I’m just disappointed you turned into everything you said you’d never be. Aku sangat berharap engkau kembali ke jalan yang dulu pernah kita pilih bersama-sama. I pray the best for you, always.

Yes, people change, as the time goes by. And Allah is the Turner of the Hearts. So pray for Him to firm our hearts in the right path.

“Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbi ‘alaa diinik..”

Dan kita berlindung kepada Allah dari apa-apa yang pernah kita ingkari untuk mengerjakannya.

~ Jakarta, on a rainy Sunday morning of October 2016.. a deep reminder to myself.

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: WeHeartIt ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s