Hijrah dan Fitnah Popularitas

camera-in-the-autumn

Saudaraku…

Jika ada saudara kita yang baru berhijrah di jalan Allah.. Janganlah banyak diberi panggung untuk dikagumi dan diidolakan. Janganlah pula banyak diundang kesana-sini untuk menjadi motivator, ustadz, publik figur, teladan hijrah, dan sebagainya.

Mereka tidak butuh itu. Mereka butuh dukungan dan do’a agar istiqamah. Mereka butuh memperdalam keilmuan mereka dan memperbaiki amalan mereka.

Sama seperti kita.

Mereka yang baru berhijrah, sama seperti kita, tak ada beda. Masih awam ilmu, masih banyak kurang di sana sini. Masih butuh banyak nasehat, kritikan dan masukan.

Mereka yang baru mengenal agamanya, butuh banyak dibimbing dan dirangkul. Bukan dijauhi, dicaci, diidolakan, atau diistimewakan sedemikian rupa hingga melampaui batas.

Jangan biarkan popularitas semu membuai mereka hingga lupa tujuan awal berhijrah. Hingga lalai untuk terus menuntut ilmu dan memperbaiki diri.

Hingga lupa bahwa ketenaran, pujian, dan banyaknya pengikut adalah fitnah, ujian hijrah yang seringkali luput dari perhatian.

Bahkan karena minimnya ilmu agama yang dimiliki, sebagian orang berani untuk berfatwa tanpa dalil dan menghukumi sesuatu tanpa ilmu.

Dan yang lebih berbahaya lagi, kekeliruannya tersebut diikuti oleh sekian banyak pengikutnya, karena mereka telah menjadikannya idola dan panutan. Terjatuh dalam taklid buta.

Subhanallaah, dosa jariyah yang berpangkal dari kejahilan akan ilmu syar’i.

Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bahkan sangat melarang umatnya berlebih-lebihan dalam memujinya:

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagai-mana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka kata-kanlah, ‘‘Abdullaah wa Rasuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya).’” (HR. Bukhari, Ahmad dan Tirmidzi)

Jika kita sayang mereka, kembalikan mereka ke jalan yang semestinya. Rangkul mereka dengan kasih sayang, dukungan dan do’a-do’a terbaik kita…

Bantulah mereka untuk tetap tawadhu’ dalam lembar kehidupan barunya..  Di tengah kefakiran ilmunya, seperti halnya juga kita yang masih sangat fakir ilmu ini.

Bukan dengan melemparkan mereka ke panggung popularitas baru yang menipu dan melenakan. Perjalanan baru saja dimulai, tidak ada alasan untuk berbangga hati dan meninggikan diri.

Jadi teringat perkataan seorang kawan…

“Popularitas dan ketenaran itu berbahaya. Terkadang jika sudah terkenal, seseorang akan sulit untuk memperbaiki diri, sulit menerima nasehat dan kebenaran. Kecuali mereka yang dirahmati Allah Ta’ala.”

Saudaraku..

Ingatlah bahwa syaithan tidak pernah berputus asa untuk menggelincirkan kita. Ia mungkin membiarkan kita berhijrah, namun ia akan terus mencari cara agar kita tergelincir kembali dari arah yang lain. Salah satunya dari jalan ketenaran.

Dan kita berlindung dari kesesatan setelah mendapatkan petunjuk.

Yaa Rabb..

Semoga Engkau berkenan terus memberi rahmat yang utuh dan menjaga kami agar senantiasa lurus di atas jalanMu..

Sehingga kami tak sedikitpun berpaling dari ketaatan kepadaMu sesudah kami memperoleh hidayahMu…

~ Jakarta, on the first day of December 2016.. a deep reminder for myself.

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Tumblr ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s