Urgensi Manhaj Salaf di Zaman Fitnah

mulia-dengan-manhaj-salaf

“Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya! Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan! Dan tahanlah dirimu dari apa yang mereka menahan diri darinya. Ikutilah jalan Salafush Shalih karena akan mencukupimu apa saja yang telah mencukupi mereka.” (Imam Al Auza’i Rahimahullaah)

Sungguh benar bahwa fitnah akan menyingkap hakikat seseorang maupun kelompok. Beberapa yang seolah berjalan di atas manhaj yang lurus bahkan mendakwahkannya, ternyata melakukan banyak penyimpangan dalam hal aqidah dan manhaj, hingga tak beda dengan firqah lainnya.

Apa itu manhaj salaf?

Manhaj salaf adalah cara beragama (metodologi) Rasulullaah para sahabat, para tabi’in, tabi’ut tabi’in dan generasi sesudahnya yang teguh berpegang kepada Qur’an dan Sunnah dengan dalil dan hujjah yang shahih.

Apakah definisi salaf ?

Salaf berasal dari kata salafa-yaslufu-salafun, artinya telah lalu. Kata salaf juga bermakna: seseorang yang telah mendahului (terdahulu) dalam ilmu, iman, keutamaan, dan kebaikan. Karena itu generasi pertama dari umat ini dari kalangan para tabi’in disebut sebagai as-salafush-shalih.

Sedangkan definisi salaf menurut istilah, salaf adalah sifat yang khusus dimutlakkan untuk para sahabat. Ketika yang disebutkan salaf maka yang dimaksud pertama kali adalah para sahabat. Adapun selain mereka itu ikut serta dalam makna salaf ini, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka. Artinya, bila mereka mengikuti para sahabat maka disebut salafiyyin, yaitu orang-orang yang mengikuti salafush shalih.

( Sumber: muslimah.or.id )

Fitnah akhir zaman sudah sangat jelas tanda-tandanya. Perpecahan semakin tampak, fitnah ucapan, perbuatan, fitnah aqidah dan pemikiran-pemikiran sesat. Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhawatirkan timbulnya fitnah besar yang akan menimpa kaum Muslimin ini..

Diriwayatkan dari Sahabat al- ‘Irbadh bin sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

”Suatu hari Rasulullah shalallah ‘alaihi wasallam pernah shalat bersama kami kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata,

‘Wahai Rasulullah, nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah, maka apa yang engkau wasiatkan kepada kami?’

Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

‘Aku wasiatkan kepada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh orang yang hidup diantara kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafa-ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat.”

[HR Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud (no.4607), at-Tirmidzi (no.2676), ad-Darimi (I/44), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (I/205), al Hakim (I/95)]

Nasehat untuk diri saya sendiri…

Saatnya kembali mengkaji ilmu syar’i langsung di majelis-majelis ilmu. Duduk, menyimak, mencatat dan memahami isinya. Bukan hanya ta’lim via internet, FB, Youtube, IG dan yang semisalnya.

Ada hal-hal yang tidak didapatkan ketika kita hanya membaca buku atau mendengarkan rekaman kajian. Di antaranya meneladani akhlak dan adab sang da’i, bertemu dengan kawan-kawan sesama thullab, adanya ketenangan (sakinah) di dalam hati, membiasakan keluarga dengan suasana ta’lim serta mendidik mereka untuk mencintai ilmu, dan banyak manfaat lainnya.

Walau kini kecanggihan teknologi menyediakan berbagai sarana untuk menuntut ilmu, seperti buku, majalah, kaset, radio, TV.. namun beda rasanya dengan datang langsung, mendengar, menyimak dan mencatat penjelasan dari asatidz.

Ada keutamaan-keutamaan yang hanya bisa didapat ketika kita hadir langsung di majelis ilmu. Di antaranya rahmat Allah turun ketika kita duduk di majelis ilmu, malaikat turun memberi syafa’at dan ilmu pun terasa lebih masuk daripada cuma mendengarkan via audio MP3 atau visual via video rekaman.

Sungguh internet adalah ladang fitnah, ia bagaikan pisau bermata dua, jika tidak cermat dan bijak menggunakannya, niscaya kita akan binasa. Di internet, fitnah tersebar luas tanpa bisa dibendung, jika tidak memiliki pegangan yang kokoh, bisa jadi kita akan terbawa dalam arusnya.

Saatnya kembali memurnikan aqidah dari syubhat dan fitnah, tashfiyah wa tarbiyah. Karena fitnah dan talbis iblis itu sangatlah halussss.. Terkadang tanpa sadar kita terjatuh dalam perangkapnya.

Saatnya kembali belajar tentang tauhid, aqidah dan manhaj yang shahih. Karena tauhid yang lurus dan manhaj yang shahih, adalah landasan utama bagi seorang Muslim dalam beragama. Tauhid first!

Saatnya meramaikan kembali kajian rutin, kajian kitab yang mengupas tauhid.. Jangan selalu disibukkan oleh kajian tematik yang tidak kontinyu dan rutin pembahasannya.

Saatnya untuk memperkuat barisan kaum Muslimin dengan kembali ke Al Qur’an dan Sunnah yang shahih. Bukan berdasarkan prasangka, trend kekinian, pemikiran-pemikiran yang bersumber dari akal semata dan hujjah yang berasal dari “qiila wa qool”.. Alias katanya, katanya…

Saatnya mencukupkan diri dalam mengambil keteladanan dari para generasi salaf terdahulu, Rasullullaah, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in dan para ulama yang jelas lurus aqidah dan manhajnya.

Bukan mengambil ilmu dan belajar khusus dari motivator atau ustadz dunia maya yang lebih terkenal akan kepiawaian orasi dan banyak pengikutnya, tanpa dilandasi ilmu dan aqidah yang shahih. Hanya pintar bicara tapi tak jelas manhajnya, lagi kosong keilmuannya.

“Hendaklah engkau berpegang teguh pada Atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolakmu. Jauhkan dirimu dari pendapat orang (yang menyalahi Salafush Shalih) meskipun ia menghiasi pendapatnya dengan perkataan yang indah.” (Imam Al Auza’i Rahimahullaah)

Banyak di antara penuntut ilmu yang masih ragu bahkan malu untuk menisbatkan dirinya kepada pemahaman dan manhaj salafushshalih, seakan menisbatkan diri kepadanya adalah sebuah aib. Bahkan mengingatkan umat dari manhaj dan firqah yang menyimpang adalah penyebab perpecahan.

Sudah sunatullaah, selamanya yang haq tidak akan bercampur dengan yang bathil, dan sunnah tidak akan bercampur dengan bid’ah. Tidak akan pernah, selama-lamanya.

Sudah sunatullah, bahwa pelaku kebaikan akan dipisahkan dengan pelaku keburukan. Seindah apapun hiasannya, hakikat itu akan tampak. Terlebih lagi di zaman fitnah seperti sekarang ini.

Demikianlah mengapa kita harus bermanhaj sesuai manhaj alias cara bergamanya Rasulullaah, para sahabat dan generasi salaf (terdahulu). Agar dapat membedakan yang haq dan bathil, tauhid dan syirik, sunnah dan bid’ah.

‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu berkata :

ﺇِﻥَّ ﺍْﻟﺤَﻖَّ ﻻَ ﻳُﻌْﺮَﻑُ ﺑِﺎﻟﺮِّﺟَﺎﻝِ , ﺍِﻋْﺮِﻑِ ﺍْﻟﺤَﻖَّ ﺗَﻌْﺮِﻑْ ﺃَﻫْﻠَﻪُ

“Sesungguhnya kebenaran itu tidak dikenali melalui orang-orang, namun kenalilah kebenaran, niscaya engkau akan mengenali orang-orangnya”.

~ Jakarta, Desember 2016.. rangkuman dari status-status FB beberapa hari terakhir, sedikit pengingat untuk diri sendiri agar senantiasa istiqamah.

© aisyafra.wordpress.com
Advertisements

One thought on “Urgensi Manhaj Salaf di Zaman Fitnah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s