A Lesson From A Creepy Admirer { Part 1 }

obsessed

Beberapa hari yang lalu, secara tidak sengaja saya menemukan satu akun Facebook yang memakai profile picture foto-foto pribadi saya, kemudian diedit dan dibubuhi watermark atas namanya.

Postingan-postingannya pun banyak mengambil dari blog saya, tanpa menyertakan sumber aslinya. Bahkan ketika ditanya apakah postingan tersebut itu adalah karyanya sendiri, jawabnya adalah:

“Ini postingan tahun lalu.”

Scroll-scroll ke bawah dan membuka wallnya, seperti membuka profil sosmed saya sendiri. Allll… about me. W-o-w.

Bukan hanya satu dua tulisan saya yang dicopas tanpa menyertakan sumber aslinya, namun banyaakk.. Saya sampai merinding sendiri membuka satu demi satu postingannya.

Bahkan captionnya dalam foto nasehat yang saya share beberapa waktu lalu pun sama persis, tak ada beda. Oh my, it’s just a caption. And she is even copying me!

What’s wrong with this person?  Why is she so obsessed with me?

Totally creeeepyyy…. *psycho movie backsound

Nothing annoys me more than someone copying everything I do. That’s pathetic. Be inspired but don’t copy. I don’t find immitation flattering at all.

Saat itu langsung ia saya add as friend, dan tak lama akunnya menghilang. Sepertinya deactive. Tak sengaja, saya menemukan akun keduanya, saya add as friend lagi. Tak lama akun tersebut pun menghilang juga.

Uh-oh, caught in the act!

Hari ini, saya search akunnya dan sudah aktif kembali. Langsung saya tanya di hampir setiap postingannya yang aslinya adalah milik saya,

“Ini kan postingan di blog saya, mengapa tidak dicantumkan sumber aslinya?”

No respon sampai saat ini.

Saya menunggu itikad baiknya untuk menjelaskan apa maksudnya dia memakai foto-foto saya, untuk kemudian diakui sebagai miliknya. Begitu juga dengan tulisan-tulisan saya di blog ini.

Saya share satu persatu postingannya di wall saya, dengan menyertakan link asli postingan saya dari blog ini. Beberapa postingan mulai dari tahun 2011 sampai 2016, dicopas, tanpa menyertakan sumber.

Teman-teman saya pun heran sekaligus geram, kok ada orang seperti ini. Copas dan nyomot foto tanpa izin, dibubuhi watermark atas namanya, setelah itu diakui sebagai miliknya. Mana adab dan etikanya?

Jangan jadi manusia bermental plagiat. Seenaknya saja mengambil hasil karya orang lain, menyalin tulisan tanpa menyertakan sumber asli, mencuri foto-foto untuk kemudian diakui sebagai miliknya.

Beberapa jam kemudian, saya lihat postingan miliknya yang saya share menghilang. Saya cek akunnya, sudah tidak ada. Oh well, she disappeared (again)  🙂

Instead of admitting her mistakes and apologizing that she was wrong, she choose that shameful and coward way. Enough said, that defines who she is.

Saya justru menaruh respect lho jika ia mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf, serta berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

We’re human, we fall sometimes, we make mistakes. Siapa sih yang tidak pernah berbuat salah sepanjang hidupnya?

Dan sebaik-baik orang yang bersalah, adalah yang meminta maaf dan bertekad untuk berubah. Bukan yang lari dari kesalahan dan tidak lapang dada mengakui kekhilafannya. That’s not character of a good Muslim.

Saya yakin suatu saat ia akan membaca tulisan ini, mengingat ia adalah pembaca setia blog saya dan sangat terobsesi dengannya. Jika ia membaca tulisan ini, pesan saya hanya satu:

“Be your own person and stop copying me. Cintai dirimu apa adanya tanpa harus menjiplak orang lain. Enyahkan mental plagiat dalam jiwamu, mulailah jadi dirimu sendiri. Ketika kamu memalsukan dirimu, maka kamu telah menipu dirimu sendiri dan orang lain. Then you are a L-I-A-R.”

The lesson….

For everything happens, there is a reason, and a lesson. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini, pasti ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil darinya. Demikian juga dengan kejadian ini.

I really think that a person like her needs some help, seriously. There’s something about her that makes me realize.. Self-worth is important. We should be grateful and proud of being who we are.

Menjadi diri sendiri adalah pilihan. Seperti hidup dalam bayang-bayang orang lain dan selalu berangan-angan untuk menjadi orang lain, yang juga adalah sebuah pilihan. It’s you who decide.
Buat apa kita dipuji atas sesuatu yang sejatinya bukan milik kita? Buat apa kita berbohong dengan seolah menyandarkan sesuatu sebagai milik kita, padahal bukan? Apa namanya jika bukan menipu diri sendiri?

“Buat apa orang-orang suka pada kita atas sesuatu yang sesungguhnya bukan kita. Atas sesuatu yang tidak sungguh kita lakukan. Memakai topeng. Pemanis kalimat. Menjaga image. Penuh kepentingan, udang dibalik batu. Apa enaknya hidup begitu? Lebih baik apa adanya, terus terang, meski itu membuat sebagian orang salah paham dan bahkan membenci kita. Tetapi itu adalah sesungguhnya kita.” ~Tere Liye

I keep wondering, kenapa sih kita nggak bangga dan bersyukur jadi diri sendiri aja?

Kenapa harus merasa insecure dan meng-copy style orang lain?

Kenapa pula harus terobsesi gila-gilaan pada orang lain sampai kehilangan jati diri?

Every person was born unique and limited edition. There’s only one you in this universe. No one is you and that is your power. Never forget that.

If you’re content of what you have, happy enough with your life, you won’t wish to be someone else. As simple as that.

Remember, being yourself is the only way to find out who truly cares and loves you for you. And beauty begins the moment you decide to be and love yourself.

Always remind yourself, you are the greatest gift of Allah, so be thankful for that. Embrace and love yourself so the right people will love the real you. Happiness is a choice. And life isn’t about pleasing everybody.

Be your best self. Be fearlessly authentic. Because an original is always worth more than a copy. And nothing is more beautiful than a confident woman who doesn’t pretend to be someone or something else she’s not.

~ Jakarta, sesaat menjelang senja.. Desember 2016.

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

Advertisements

7 thoughts on “A Lesson From A Creepy Admirer { Part 1 }

    • Maybe 🙂

      Dari hasil investigasi ala emak-emak FBI, dia ini istri kedua dan baru nikah November lalu. Suaminya sering komen juga. Bahkan istri pertamanya aktif berbalas komen dengannya di FB.

      Maybe she wants to impress her husband and first wife in social media by copying me. Meski harus menjadi plagiator dan menipu diri sendiri.

      Wal’iyadzubillah.

  1. Pingback: A Lesson From A Creepy Admirer { Part 2 } | So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s