A Lesson From A Creepy Admirer { Part 2 }

hey-fakers

Dear readers…

Masih ingat akun plagiat yang saya ceritakan di sini tempo hari? Nah setelah sepekan berlalu, kemarin ada kelanjutannya. Ternyata akun itu tidak benar-benar hilang. Ia hanya menutup akun lamanya, kemudian bikin lagi akun baru dengan nama yang berbeda.

I got a feeling bahwa orang ini tipikal yang nggak bakal lepas dari sosmed. Dengan sifatnya yang suka show off (bahkan show off hal-hal yang bukan miliknya), sulit dipercaya dia bakal bye-bye dari sosmed untuk selama-lamanya.

Jadi saya cari hubungan antara teman dekatnya, dia dan suaminya. Kecurigaan saya mengarah ke satu akun baru yang sering meninggalkan jempol di status suaminya. Ini jelas akun baru, baru dibuat beberapa hari lalu.

Pertama lihat friendlistnya, masih berteman dengan suaminya, bahkan beberapa kali ngelike postingan terbarunya. Setelah beberapa hari, saya lihat sudah tidak berteman. Oh, sepertinya ia mau menghapus jejak  🙂

Saya add as friend lah akun ini. Ajaibnya, permintaan pertemanan saya langsung diterima. Wkwkwkw. Setelah diterima, ia langsung boom like di status-status saya. Creepy, isn’t it?  😄

Next, saya amati akun teman dekatnya yang tinggal di seberang pulau sana. Betul perkiraan saya, dia sudah berteman dan berhaha-hihi di status temannya. Alright then, time to take action.

Saya hubungi ia via inbox secara baik-baik. Saya ucapkan salam, saya tanya nama aslinya, asalnya dari mana. Ia mengaku nama aslinya K (( bohong )). Dan daerah asalnya adalah S (( bohong lagi )).

Lalu saya kirimkan screenshoot profil akun plagiat (akun pertama yang sekarang sudah dihapus), sebut saja J.

Saya tanya, kenal tidak dengan akun ini? Dia jawab kenal, katanya itu teman ngajinya, sering ketemu di kajian. (( bohooong lagi )).

Langsung saya tembak,

“Sepertinya gaya bahasa anti mirip dengan J ya? Cara menjawab pertanyaan, emoticon yang sering digunakan, bahasa yang dipilih.. Jika anti mau jujur, saya tidak akan ekspos masalah ini..”

“Emang kenapa ukh? Miripnya gimana? Ana nggak ngerti..”

(( lagi-lagi bohoong, lol ))

Kemudian dia menelepon saya via Messenger. Berkali-kali, tapi sengaja saya reject. Mengapa? Karena saya sudah bisa membaca bahwa dia mulai panik. Dan rekaman audio sulit untuk dijadikan bukti dibandingkan text.

Saya keukeuh bahwa semua percakapan prefer by text saja. Saya juga menawarkan agar ia mau jujur kepada saya saat itu, dengan jaminan masalah ini tidak akan saya publish, privacy insya Allah terjaga.

Tapi ia memilih kabur meninggalkan chat dan tidak mengklarifikasi apapun via inbox. Saya tunggu sejam, dua jam, tiga jam, tidak ada itikad baik. Okay.

Semua bukti percakapan dengannya yang sudah discreenshoot saya publish di akun saya dan privacy saya set public. Saya juga berkomentar di statusnya, dengan menyertakan hasil screenshoot profil lamanya. Sampai di sini, kami masih berteman.

Hebohlah teman-temannya, banyak yang berkomentar. Banyak yang tidak percaya, dan banyak yang memintanya untuk memberikan klarifikasi.

Sampai akun bibinya muncul dan memberikan penjelasan bahwa yang punya status itu dan J adalah orang yang sama. Dan dengan cepat langsung dihapus oleh si J ini. Alhamdulillah sudah saya capture sebelum dihapus.

The Response

Hampir tengah malam, baru ia memberikan klarifikasi di statusnya. Itupun dengan cara yang kurang adab dan dengan entengnya, seolah kesalahan yang dilakukannya adalah kesalahan kecil biasa. Subhanallah.

Teman-teman saya yang saat itu ikut dalam percakapan tersebut dan menyaksikan caranya meminta maaf, speechless semua. Heran dan takjub. Semudah itu ia menganggap semuanya sudah selesai.

Bahkan ketika saya protes dengan caranya meminta maaf, malah ia berpura-pura menjadi korban dan merasa terzhalimi dengan protes saya. Wow. Hahaha.

Siapa yang berbuat jahat, siapa pula yang merasa dirugikan. Siapa yang bersalah, siapa pula yang merasa menjadi korban. Kasihan, orang ini sakit dan butuh pertolongan.

Sorry dear, bagi saya itu bukan permintaan maaf. Tapi lebih kepada pembelaan diri. Permintaan maaf yang sebenarnya adalah dengan menyebutkan kesalahan yang dilakukan dengan jelas, dan tidak dengan berpura-pura menjadi korban.

Anehnya, inbox saya tidak dibalas dan malah klarifikasi di status. Why? Karena di inbox dia tidak bisa cari dukungan dari teman-temannya dan tidak bisa playing victim 🙂

Itu juga karena sudah kepalang basah banyak temannya yang tahu, dan menuntutnya untuk klarifikasi. Buktinya, chat secara personal dengan saya di inbox malah kabur.

Sungguh, jika ia meminta maaf ketika saya chat pertama kali, maka akan saya anggap selesai masalahnya. Case closed. Aibnya akan saya tutupi dan tidak akan saya sebarluaskan. Tapi ternyata ia terlalu angkuh untuk itu.

Saya makin paham, sepertinya J ini punya kelainan kepribadian (dari caranya meminta maaf dan playing victim ketika saya hadapkan pada permasalahannya). Maka seketika itu dia saya remove dari pertemanan.

Ok, I’m done with her.

Tujuan saya ingin berteman dengannya dulu adalah untuk mencari bukti. Bukti atas kecurigaan saya bahwa dia tetap orang yang sama, hanya ganti baju saja.

Setelah dapat fakta dan buktinya, sudah cukup bagi saya. Ngeri lama-lama berteman dengan orang sakit semacam ini. My friends call her a person with personality problem, a sociopath.

Pagi ini dia message saya lagi. Dengan berlagak terzhalimi seakan dialah korbannya. Bahkan mengingatkan saya agar takut kepada Allah, bicara soal adab, berlagak sok terzhalimi. Memutar-mutar kata agar terlihat bijaksana.

Wow, ckckck.. Belum sadar juga rupanya. Begitu kebohongannya terbongkar baru bicara adab. Oh well, benar kata teman saya, sociopath tends to lie and play as victim untuk menutupi perbuatannya.

Tanpa pikir panjang, akun jadi-jadian itu saya blokir. I don’t tolerate liars, I’m a nice person, not a stupid one.  Sudah selesai investigasi saya selama ini. All clear. Bye bye bye!

kejujuran

Dengan responnya yang demikian, saya makin yakin, ia memiliki masalah kepribadian. Untuk kesalahan yang begitu banyak, dengan entengnya meminta maaf seperti baru saja melakukan kekhilafan kecil. Dan malah menimpakan kesalahan ke orang lain.

Kasihan sebetulnya. Deep down inside, I pity her. Orang seperti dia ini sakit, butuh bantuan. Mentalnya labil. Mudah sekali berbohong secara kontinyu. Berbohong baginya semudah bernafas. Lihai sekali.

Na’udzubillaah…

Dan saya merasa lebih kasihan kepada orang-orang terdekatnya. Manusia normal pasti merasa malu dan terganggu dengan perilaku dan perbuatan buruk yang dilakukan orang dekat mereka.

Semoga mereka bisa menyadarkan  J ini agar kembali ke jalan yang lurus. Kembali sehat, mentally and emotionally. Karena sepertinya sampai saat ini, ia belum juga sadar bahwa perbuatannya mencuri, menjiplak dan berbohong itu bukan perkara besar. Not a big deal.

Serem ya? Tapi realita seperti ini ada dan nyata. Saya baru saja mengalaminya. To be noted, ini bukan yang pertama kali karya-karya saya diplagiat. Sudah sering. Tapi saya tidak mau memperkarakan, karena levelnya belum seberapa dibandingkan ini.

Yang ini benar-benar parah sekaligus istimewa karena yang saya hadapi adalah orang yang kepribadiannya terganggu. Mencuri foto-foto dan postingan blog saya kemudian diakui sebagai miliknya, bahkan caption foto nasehat saja dicopas. Caption!

The way that she obsessed with me is so damn creepy. Oh darling, please go buy a personality.

Pesan saya untuk J jika ia membaca tulisan ini…

Bertaubat, berobat dan berubahlah. Kasihanilah diri anti. Anti ini sakit, dan butuh pertolongan ahli. Kasihanilah pula keluarga dan teman-teman anti. Mereka pasti malu dengan perilaku anti. Allahu yahdik. Semoga Allah memberimu hidayah.

Why did I expose this?

Ada yang bertanya, kenapa saya publish masalah ini?

Karena saya khawatir teman-teman lain tertipu oleh pencitraannya. Agar tidak ada pihak lain yang dirugikan selain saya. Dan agar kali ini ia jera, tidak lagi mengulangi perbuatannya.

Saya sudah memberikan kesempatan baginya untuk menyelesaikan lewat jalur pribadi yaitu inbox, namun ia memilih untuk mempermalukan dirinya sendiri dengan membuat saya mengekspos segala kebohongannya di ruang publik  🙂

Some people are afraid to speak up, or simply just don’t want to.

“Males ah ngurusin beginian, udah biarin aja ..”

“Ntar dia malah lebih galak dari aku..”

“Aku nggak tega.. Kasihan..”

Semakin sering dimaklumi, maka kebiasaan buruk ini akan menjadi-jadi. Dan semakin sering diberikan udzur dan berdalih dengan sangka baik, makin tidak merasa bahwa dirinya mengidap suatu gangguan kepribadian yang harus disembuhkan.

Mengutip kata-kata seorang teman…

“Kalau apa-apa dimaklumi, kapan belajarnya?”

When I say it, I mean it. Saya bukan tipikal orang yang hanya berani gertak sambal saja atau takut dan ngumpet ketika dihadapkan pada suatu masalah, apalagi jika saya ada di pihak yang benar.

Menjadi seorang pemberani, bukanlah tanpa resiko. Banyak yang harus dipertaruhkan. Memperjuangkan kebenaran di tengah kebisuan, harganya setara dengan nyawa dan kehormatan.

Sungguh saya sangat tersentuh oleh kata-kata seorang kawan dalam komentar berikut..

“Some people might think you are so cruel of exposing this or being too much… But I tell you.. By exposing this you encourage people to just not be played with some retarded and cry. You show people to be strong and to not let someone fool you around. If they not change.. then we are the one who need to change. Confronted them… Leave them.. And be strong. Jangan goyah sama permainan mereka yang belagak jadi victim..”

Thank you Miss Dinda for these beautiful words. It really means a lot ❤

Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada suami, adik-adik dan teman-teman saya yang memberi banyak support dan masukan dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah ini.

Semoga tidak akan ada lagi peristiwa seperti ini dan semoga ini yang terakhir. Jika saja kita lebih aware, peka dan mawas diri terhadap sekeliling kita, insya Allah orang-orang seperti J ini bisa disembuhkan. Asal J sendiri merasa bahwa ia sakit dan butuh disembuhkan.

Jazakumullaah khayran wa fiikum barakallaah, all  💝

~ Jakarta, December 2016.. never apologize for being real and honest.

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

Advertisements

10 thoughts on “A Lesson From A Creepy Admirer { Part 2 }

  1. You’ve unearthed the true face of a sociopath! That’s very brave, very brave indeed, Maashaa Allah. Now, just stay clear of her in any way you can, because sociopath finds pleasure in your fight if not well fought, which could let into long, useless battle of her playing a victim and you convincing her to take the meds (heh). Semoga Allah mengampuni dosa si stalker dan memberi dia petunjuk.

    • Nah that’s it. Into long, useless battle of her playing a victim. I don’t let her get in the way this time.

      She even liked my status and photos. And that’s made me so annoyed. This person is mentally ill. And need to take some medical treatment.

      And some people accused me for being too much and too cruel by exposing her. Well their opinions don’t matter, anyway.

      Aamiin yaa Rabb..

      Thank you Fahma for this encouragement. I know I’m not alone 🙂

  2. You do you, girl. Some people don’t understand what identity theft means and how big of a deal it is, especially when the real person is aware of the condition and have all the necessary proof to speak the truth to a wider audience, so that no one else will be the next target of the same crime. You’ve done more than your share, really.

  3. Wow. Aku jadi kepo. Ahahahhaaaa… Unfortunately (atau malah fortunately?), aku gak punya fb buat ngepoin…

    Alhamdulillah, semua sudah tuntas ya, mbak. Walau bisa dibilang gak tuntas-tuntas banget sih. Tapi yasudalah… Semoga ini bisa jadi pelajaran untuk kita semua. Semoga Allah selalu menutupi aib-aib kita…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s