Istiqamah di Zaman Fitnah

bike after rain

Terkadang, merasa bersyukur sekali kenal sunnah ini di zaman belum banyak sosmed. Belum semudah ini terhubung ke internet.

Jadi lebih disibukkan dengan buku, diskusi mengenai aqidah dan menghadiri majelis-majelis ilmu. Bukan disibukkan dengan fitnah dan hal-hal yang tidak berguna.

Dulu ada akun FS alias Friendster, tapi tidak sedahsyat sekarang hembusan fitnahnya. Paling ada satu orang yang hobi banget debat, rajin posting di bulletin board mengkampanyekan satu firqah sesat.

Saya mah skip skip ignore aja. Wong nggak kenal juga. Buka FS juga cuma sepekan sekali. Itu juga mesti ke warnet dulu. Maklum dulu internet belum masuk rumah, apalagi via gadget. Wong hape saya aja masih monokrom. Hahaha.

Zaman ini zaman penuh fitnah. Syubhat begitu samar menyusup ke dalam hati kita. Jika saja tidak ada iman, ilmu dan penjagaan dari Allah yang membentengi, maka syubhat itu akan mudah masuk dan diserap oleh hati-hati kita.

Inilah urgensi ilmu dan aqidah yang shahih, untuk menyaring segala fitnah dan syubhat yang datang. Bersyukurlah jika kita masih bisa membedakan antara yang haq dan yang bathil di zaman fitnah ini.

Banyak yang seolah berada di atas aqidah dan manhaj yang lurus, namun hakikatnya menyimpang. Tipu daya mereka sangat halus. Hampir-hampir kita larut dalam kepiawaian mereka menghiasi kebatilan dengan kata-kata yang menyihir dan melenakan.

Pondasi iman dan aqidah belum kuat, lalu dihempas syubhat. Jadilah seperti layang-layang yang talinya putus lalu diterbangkan angin kesana kemari. Terbang tanpa tujuan.

Betapa banyak manusia yang menisbatkan dirinya kepada jalan As Salafush Shalih, Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Al-Firqatun Najiyah, Al Ghurobaa.. Namun amal perbuatan mereka menyelisihinya.

Betapa banyak yang disangka berjalan di atas jejak para Nabi dan pengikutnya, namun ternyata justru menyesatkan dengan kelihaiannya membungkus kebathilan dengan baju kebenaran.

“Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila…

Namun Laila menolak pengakuan mereka itu…”

Buahnya ilmu dan aqidah yang shahih adalah amal. Aqidah yang lurus akan tercermin dari lisan dan perbuatan badan. Serapi apapun kesesatan itu disembunyikan, pasti akan terbuka suatu saat nanti.

“Kenalilah kebenaran, maka akan kita kenali orang-orang yang berada di atasnya..”

Bersyukurlah….

Jika Allah tidak menanamkan ilmu dan aqidah yang kuat pada kita, juga menjaga kita dari terpaan fitnah, tentulah kita sudah menjadi bagian dari mereka.

Jadilah seorang Muslim yang kuat dalam prinsip, tidak mudah terbawa arus, istiqamah dalam sunnah, tetap tegar meski hanya seorang diri dalam kebenaran.

Meski gelombang syubhat dan fitnah terus menyerang…

Meski makin banyak manusia yang mengikuti jalan-jalan kebathilan…

Meski kebathilan tampak indah dalam bungkus kebenaran..

Meski akhirnya kita hanya bersendirian tanpa kawan…

Tetaplah teguh dalam pendirian yang berlandaskan ilmu, manhaj, dan aqidah yang shahih. Dan mintalah selalu penjagaan perlindungan kepada Allah.

Remember, you’ll never walk alone. Allah will always be there to guide you home. If you only ask Him to.

~ Jakarta, Desember 2016.. terinspirasi dari obrolan dengan seorang kawan pagi ini.

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Getty Images ]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s